Kamis, 11 Jun 2026 22:30 WIB

Mengenal Pencak Sumping, Atraksi Seni Bela Diri Khas Banyuwangi

  • Penulis :
  • | Kamis, 23 Agu 2018 19:18 WIB
Warga saat atraksi Pencak Sumping/Foto: istimewa
Warga saat atraksi Pencak Sumping/Foto: istimewa

 

jatimnow.com - Tidak hanya kaya akan tradisi seni dan budaya, Banyuwangi juga memiliki tradisi seni bela diri yakni Pencak Sumping, yang dilestarikan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Tiap tahun, warga di lereng Gunung Ijen tepatnya di Dusun Mondoluko Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, menampilkan atraksi Pencak Sumping sebagai bagian dari selamatan desa yang diperingati setiap Hari Raya Idul Adha.

Tahun ini, atraksi bela diri Pencak Sumping diangkat dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Even ini disaksikan langsung Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko, di Dusun Mondoluko, Banyuwangi, Kamis (23/8/2018). 

"Atraksi bela diri Pencak Sumping ini merupakan bagian dari kekayaan  tradisi Banyuwangi yang perlu untuk terus dilestarikan. Tradisi ini juga istimewa, karena merupakan seni bela diri yang dikemas dalam atraksi pertunjukan yang unik, makanya tahun ini kami angkat menjadi bagian dalam Banyuwangi Festival,” kata Wabup Yusuf saat membuka even tersebut.

Pada atraksi Pencak Sumping, aksi bela diri Pencak Silat ditampilkan dengan iringan musik tabuh-tabuhan yang rancak. Aksi ini ditampilkan oleh para pendekar anak-anak hingga lanjut usia.

Mereka nampak lincah memeragakan gerakan dan jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata seperti pedang, tombak, clurit dan klewang.

Ketua Adat Dusun Mondoluko Rahayis, mengatakan munculnya Tradisi Pencak Sumping tidak lepas dari cerita turun temurun tentang kisah berdirinya Dusun tersebut.

Pada zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido yang merupakan pemimpin cikal bakal Mondoluko yakni Dusun Tegal Alas, terluka dan tewas saat berduel dengan tentara Belanda. Sejak itu rakyat Tegal Alas berinisiatif untuk belajar pencak silat untuk bela diri.

“Waktu itu Buyut Ido luka (luko) sampai terkoyak (modol-modol), hingga akhirnya melatari penamaan Dusun Mondoluko.  Sejak itu rakyat rutin belajar silat. Mulai anak-anak sampai dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Sampai sekarang Warga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang di pelajari oleh warga,” kata Rahayis.

Penamaan pencak sumping sendiri, terkait dengan suguhan yang tersaji pada jaman itu yang mengiringi para pendekar saat berlatih.

"Dulu waktu yang laki-laki berlatih, ibu-ibu selalu menyiapkan kue sumping. Di manapun mereka berlatih, pasti suguhan yang keluar adalah sumping," kata dia.  

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Sumping adalah makanan khas terbuat dari pisang berbalut adonan tepung yang dikukus, dikenal juga dengan nama nagasari. Makanan ini menjadi suguhan kepada para tamu yang datang saat acara.

Bahkan, saat atraksi "duel" dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan. Biasanya pemenang  akan "menyumpal" mulut lawannya yang kalah dengan sumping.

"Kalau sudah sampai ada yang berguling-guling saat duel. Biasanya penonton ada yang melempar sumping. Nanti yang kalah mulutnya akan disumpal sumping oleh pemenang. Tapi ini Cuma untuk hiburan saja yang terus menerus tiap tahun. Makanya namanya Pencak Sumping,” ujarnya.

Tradisi tahunan Pencak Sumping ini digelar beriringan dengan tradisi kenduri bersih desa (Ider Bumi) warga setempat. Selamatan ini berlangsung setiap Idul Adha dimana warga melakukan ritual Ider Bumi dan mengumandangkan azan serta membaca istighfar (permohonan ampun kepada Allah SWT) sambil keliling desa.

Malam hari, lanjut Rahayis, warga desa melakukan ritual moco Lontar Yusuf. Dan esok harinya, mereka melakukan solat Ied, Idul Adha.

“Dusun Mondoluko tidak mempunyai kesenian berbeda dengan dusun lain yang punya Gandrung atau Barong. Akhirnya, Pencak Silat yang diiringi dengan musik-musik tabuhan inilah sebagai hiburan pada rangkaian selamatan desa tersebut,” ujar Rahayis.

Baca Juga: Banyuwangi Jadi Pilot Project, PTPN I Tanam 10 Ribu Kelapa Genjah demi Hilirisas

Sementara itu, salah satu pelatih pencak Sumping, Husaini mengaku seni pencak di desanya berbeda dengan pencak silat di Jawa. Selain beberapa jurus yang berbeda, Pencak Sumping ini mengutamakan seni bela diri. 

"Saya senang karena kian hari warga desa yang menekuni seni ini semakin banyak. Saat ini, ada sekitar 50 orang dari usia SD hingga dewasa yang menekuni ilmu ini. Saya merasa tidak perlu khawatir lagi karena masih banyak yang akan melestarikan Pencak Sumping ini," pungkas Husaini.

 

Penulis/editor: Arif Ardianto

 

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.