Selasa, 21 Jul 2026 12:22 WIB

Ni Kadek Ayu Wardani Dobrak Mitos Aktivis Sulit Lulus Kuliah

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Selasa, 17 Feb 2026 10:30 WIB
Ni Kadek Ayu Wardani, melontarkan senyum ketika mengikuti prosesi Wisuda ke-132 Untag Surabaya pada Minggu (15/2/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Ni Kadek Ayu Wardani, melontarkan senyum ketika mengikuti prosesi Wisuda ke-132 Untag Surabaya pada Minggu (15/2/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Narasi klasik bahwa mahasiswa aktivis identik dengan kelulusan yang tertunda mulai luruh.

Ni Kadek Ayu Wardani, mahasiswa Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, membuktikan bahwa beban organisasi yang masif justru menjadi mesin penggerak kedisiplinan akademik.

Baca Juga: Serunya Nobar Film Foufo di Kediri, Penonton Malah Dibikin Nangis Sama Ceritanya

Sebagai perempuan yang kini menakhodai Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Surabaya Raya periode 2025–2027, aktivis yang akrab disapa Kadek itu menghadapi jadwal yang padat.

Namun, ia berhasil mematahkan stigma negatif masyarakat dengan menuntaskan tanggung jawab perkuliahan tepat waktu tanpa menanggalkan peran sebagai motor pergerakan sosial.

"Pengalaman saya menunjukkan hal sebaliknya. Kuncinya ada pada pengelolaan waktu yang ketat dan komitmen belajar yang tidak bisa ditawar. Organisasi bukan penghalang, melainkan ruang pengayaan mental yang tidak didapatkan di dalam kelas," ujar Kadek saat berbagi refleksi perjalanannya di Surabaya.

Perjalanan Kadek di kampus merah putih dimulai pada 2021. Sejak tahun pertama, ia memilih terjun ke berbagai unit kegiatan, mulai dari Sekretaris Unit Kerohanian Hindu hingga posisi strategis di Himpunan Mahasiswa Teknik Industri.

Puncaknya, ia dipercaya menjadi Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untag Surabaya pada 2025.

Kemampuannya membagi waktu diuji saat ia harus menjalani program magang di industri besar seperti PT Bogari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya.

Di sana, teori teknik industri yang ia pelajari bertemu dengan realitas kerja, sementara di malam hari, ia tetap memimpin rapat-rapat organisasi.

"Tahun 2023 adalah periode paling menantang karena saya memegang empat tanggung jawab sekaligus di tingkat universitas. Itu melatih saya menentukan skala prioritas secara cepat," tambahnya.

Baca Juga: Inspiratif! Santri Jalanan Ini Raih Gelar Doktor dari Untag Surabaya

Kadek mengakui bahwa kekhawatiran keluarga terhadap pilihan hidup sebagai aktivis adalah hal yang lumrah.

Orang tua mana pun pasti menginginkan anaknya fokus belajar agar masa depan terjamin. Namun, Kadek memberikan pemahaman melalui pembuktian nyata.

Menurutnya, kampus adalah fase emas untuk membentuk karakter mandiri. Kemampuan berbicara di depan publik, memecahkan konflik, dan membangun jejaring sosial merupakan "kurikulum tersembunyi" yang ia dapatkan dari organisasi.

Bekal itulah yang ia yakini akan membuat lulusan perguruan tinggi lebih siap bertarung di dunia pascakampus.

Setelah menyandang gelar Sarjana Teknik (S.T), Kadek tidak berencana berhenti. Ia menargetkan studi pascasarjana sebagai bagian dari tanggung jawab ideologis kader GMNI.

Baca Juga: Maria Apriliani, Doktor Muda Alumni UNAIR yang Bersinar di Kancah Internasional

Baginya, perjuangan membela kaum Marhaen (rakyat kecil) harus didukung dengan kapasitas intelektual yang mumpuni.

"Saya ingin menjadi akademisi. Ideologi Marhaenisme harus tetap relevan dengan tantangan zaman melalui riset dan pendidikan. Suara rakyat yang tertindas menjadi sumber keteguhan hati saya untuk terus melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi," tegas Kadek.

Ia berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu berproses di organisasi. Baginya, mahasiswa adalah agen perubahan yang harus mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama poin pengabdian kepada masyarakat.

"Jangan takut berproses. Segala pengalaman hari ini adalah fondasi untuk kehidupan yang lebih bermakna di masa depan," pungkasnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.