Selasa, 21 Jul 2026 12:22 WIB

Cerita Mahasiswa Yaman di Surabaya yang Tak Bisa Pulang Akibat Perang

Konflik Iran vs Israel memaksa mahasiswa asal Yaman di Surabaya batal mudik. (Foto: Humas UMSURA)
Konflik Iran vs Israel memaksa mahasiswa asal Yaman di Surabaya batal mudik. (Foto: Humas UMSURA)

jatimnow.com - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran vs Israel di Timur Tengah berimbas langsung pada nasib mahasiswa asing di Jawa Timur.

Sejumlah mahasiswa asal Yaman yang menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) dipastikan batal pulang kampung pada momen Idul Fitri 2026 akibat penutupan ruang udara dan lonjakan harga tiket pesawat yang tidak masuk akal.

Baca Juga: Kunjungi Umsura, Kepala BRIN Dorong Riset Jadi Produk

Ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk membuat maskapai internasional membatalkan rute menuju Yaman. Kondisi ini diperparah dengan harga tiket yang meroket hingga empat kali lipat dari tarif normal, membuat perjalanan pulang menjadi mustahil bagi para mahasiswa.

Khusay, mahasiswa Fakultas Teknik UMSURA, menjadi salah satu yang harus menelan pil pahit. Rencana yang ia susun sejak jauh hari untuk merayakan lebaran di tanah kelahiran kandas total.

"Alasan utama saya tidak bisa pulang adalah perang. Situasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pecah sekarang. Kami terjebak karena harga tiket sangat mahal dan hampir tidak ada jadwal penerbangan yang tersedia menuju Yaman," ujar Khusay seperti dilansir dari situs resmu Umsura, Minggu (15/3/2026).

Meski sebagian besar keluarga besarnya berada di Mesir, Khusay memilih menuruti saran ibunya untuk tetap tinggal di Indonesia.

Sang ibu yang saat ini sedang berada di Yaman mengkhawatirkan keselamatan anaknya jika nekat melakukan perjalanan lintas negara di tengah situasi yang karut-marut.

Nasib serupa dialami Abdurrahman Khalid. Mahasiswa asal Hadramaut ini terpaksa mengubur mimpinya berkumpul bersama keluarga.

Baca Juga: Umsura Buka Klinik Rawat Inap, Warga Bisa Akses Layanan Kesehatan

Walaupun Yaman tidak terlibat secara langsung dalam kontak senjata terbuka, stabilitas keamanan di wilayah tersebut rontok seketika.

"Harga tiket naik tiga sampai empat kali lipat. Bandara utama seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar sempat tutup karena dampak konflik ini. Hampir semua negara Teluk terdampak," ungkap Khalid.

Selain faktor keamanan dan biaya, durasi libur kuliah yang singkat menjadi pertimbangan tambahan bagi Khalid untuk tetap bertahan di Surabaya.

Ia mengaku sebenarnya bisa saja terbang menuju Jeddah, Arab Saudi, untuk menemui kerabatnya, namun risiko perjalanan dan jadwal akademik membuatnya memilih menetap.

Baca Juga: Mendiktisaintek Batasi Kuota PTN hingga Juli, Beri Ruang untuk Kampus Swasta

"Ada banyak faktor; mulai dari perang, harga tiket yang gila-gilaan, sampai waktu libur yang pendek. Jadi, bertahan di sini adalah pilihan paling logis," tambahnya.

Pada Idul Fitri 2026 ini, Khusay, Khalid, dan empat rekan senegaranya akan merayakan hari kemenangan di asrama mahasiswa asing kawasan Gunung Anyar, Surabaya.

Mereka akan bergabung dengan belasan mahasiswa mancanegara lainnya yang juga tidak bisa kembali ke negara asal karena berbagai kendala global.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.