Sabtu, 13 Jun 2026 06:06 WIB

Ritual Bercocok Tanam Suku Osing Banyuwangi Masih Lestari hingga Kini

Ritual bercocok tanam Suku Osing di Banyuwangi
Ritual bercocok tanam Suku Osing di Banyuwangi

jatimnow.com - Suku Osing di Banyuwangi terus merawat dan melestarikan adat istiadat yang diturunkan nenek moyang mereka. Salah satu adat yang masih terawat hingga kini yaitu ritual bercocok tanam.

Seperti yang dilakukan warga Kampung Osing Dusun Kampung Baru, Desa/Kecamatan Glagah. Selama bercocok tanam, mereka mengadakan tiga kali ritual.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Ritual pertama bernama 'Labu Nyingkal'. Ritual ini digelar sebelum tanah diolah atau disingkal. Kedua ritual 'Pari Meteng', ritual saat tanaman padi yang mereka tanam hendak keluar buah. Ketiga 'Ritual Panen', digelar saat masa memetik padi.

Sanusi (65), pemuka adat setempat mengatakan, ritual itu bertujuan agar tanaman mereka selamat dari hama dan hasil panen melimpah. Menurutnya, Suku Osing di Desa Glagah dalam kesehariannya beraktivitas bertani dan berkebun.

Menurut Sanusi, ritual Labu Nyingkal memerlukan wanci kinangan atau perlengkapan bersirih atau nginang, ayam kampung dimasak lembaran (mirip kare), dan punar atau ketan kirip kelapa dan diberi gula kelapa.

"Setelah semua perlengkapan ritual disiapkan, lalu kita taruh di tulaan yaitu pintu air masuk sawah dan didoakan," ungkap Sanusi.

Ritual bercocok tanam Suku Osing di BanyuwangiRitual bercocok tanam Suku Osing di Banyuwangi

Baca Juga: Awali Buka Giling, PG Modjopanggung Tulungagung Gelar Manten Tebu

Lalu Ritual Pari Meteng hampir mirip dengan ritual Labu Nyingkal. Hanya saja perlengkapan ritualnya memerlukan rujak letok atau rujak gula dengan bahan timun, pepaya, jambu biji dan ubi.

"Untuk Ritual Pari Meteng, ayam yang dipakai dagingnya dipilih sesuai keperluan ritual seperti ceker, brutu, tlampikan dan hati, karena semua potongan ayam ada arti dan filosofinya," jelas Sanusi.

Sanusi menambahkan, semua perlengkapan ritual diletakkan di tulakan, kemudian didoakan.

Sedangkan ritual Labu Gyampung yaitu ritual masa panen. Perlengkapan ritual ini memakai bunga warna putih, minyak wangi, tumpeng pecel pitik lalu disandingkan ditulaan.

Baca Juga: Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek yang Sudah Berlangsung Sejak Ratusan Tahun

Ritual Labu Gyampung diawali memotong padi dengan cara 7 jalang (tangkai padi), daun padi yang dipotong diurai disisipkan bunga dan uang juga diberi umbul-umbul kain warna merah yang tiangnya memakai tebu hitam.

Perlengkapan ritual tidak hanya itu. Mereka menambahkan jenang ketan atau dodol ketan tiga warna yang dibungkus daun kemiri.

"Umbul-umbul kain warna merah yang tiangnya dari tebu hitam itu pesan moral yang harus ada dalam acara ritual panen itu semua dari leluhur," tandas Sanusi.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.