Ujian Kelulusan Unik, Siswa SMP Labschool Unesa 3 Pamerkan Karya Inovatif
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Minggu, 07 Jun 2026 22:27 WIB
jatimnow.com - Sebanyak 68 siswa kelas 9 SMP Labschool Unesa 3 Surabaya memamerkan hasil karya mereka dalam Gelar Karya yang digelar di Ciputra World Surabaya, Minggu (7/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proyek kelulusan sekaligus implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau Profil Lulusan 8 Dimensi (P8) dalam Kurikulum Merdeka.
Beragam karya ditampilkan, mulai dari teknologi tepat guna, produk kuliner, karya seni, hingga alat berbasis sensor digital. Seluruh karya merupakan hasil pengembangan pengetahuan yang dipelajari siswa selama tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Baca Juga: STB Gandeng Muhammadiyah Jatim, 500 Siswa Bakal Belajar ke Singapura
Kepala SMP Labschool Unesa 3 Surabaya, Dian Hijrah Saputra, mengatakan gelar karya dirancang untuk memastikan siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi mampu menerapkannya menjadi produk nyata.
"Tujuannya agar siswa tidak sekadar menghafal teori, melainkan memahami dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajari melalui karya yang dapat ditampilkan kepada masyarakat," ujarnya.
Menurut Dian, program tersebut telah diterapkan sejak siswa berada di kelas 7. Pada jenjang kelas 7 dan 8, karya dapat dibuat secara berkelompok dengan tema yang telah ditentukan sekolah. Sementara untuk kelas 9, setiap siswa wajib menghasilkan karya secara individu.
Karya yang dibuat harus mengintegrasikan berbagai mata pelajaran yang dipelajari selama masa sekolah. Misalnya perpaduan teknologi informasi dengan olahraga, Bahasa Inggris dengan Pendidikan Pancasila, atau kombinasi bidang ilmu lainnya.
Selain menghasilkan produk, siswa juga diwajibkan menyusun makalah ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas karya yang dibuat.
"Penilaian gelar karya memiliki bobot 30 persen dari kelulusan. Ini menjadi bagian dari evaluasi selain akademik dan menggantikan ujian praktik yang sebelumnya digunakan dalam sistem kelulusan," jelas Dian.
Ia menambahkan, sebelum tampil dalam pameran terbuka, seluruh siswa terlebih dahulu menjalani ujian tertutup untuk menguji kerangka berpikir ilmiah dan proses penyusunan karya.
Berbagai karya inovatif ditampilkan dalam pameran tersebut. Ada produk kuliner, kerajinan manik-manik, desain busana, hingga parfum yang dibuat berdasarkan konsep pemisahan zat yang dipelajari dalam pelajaran sains.
"Kami ingin menunjukkan bahwa apa yang dipelajari di kelas bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata. Karya yang ditampilkan adalah bukti bahwa siswa memahami pembelajaran secara utuh," kata Dian.
Baca Juga: IndoWood Expo 2026 Raup 2.049 Pengunjung, Perkuat Daya Saing Furnitur
Menurutnya, sejumlah karya bahkan berkembang menjadi peluang usaha. Beberapa alumni telah menjalankan bisnis berbasis produk yang pertama kali diperkenalkan melalui gelar karya sekolah.
"Ada yang mengembangkan usaha manik-manik dan ada juga yang meneruskan produk kuliner bersama keluarganya. Ketika dipamerkan di tempat umum, banyak karya yang terjual dan itu menjadi motivasi bagi siswa untuk terus berinovasi," ujarnya.
Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah alat pengukur tinggi badan berbasis sensor ultrasonik karya siswa bernama Made.
Ia mengaku terinspirasi dari alat ukur tinggi badan di sekolah yang dinilai kurang praktis dan masih menggunakan kontak fisik.
"Saya ingin membuat alat yang bisa memberikan hasil lebih akurat tanpa kontak fisik," katanya.
Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter
Alat tersebut menggunakan mikrokontroler ESP32, sensor ultrasonik HC-SR04, kabel jumper, serta baterai litium sebagai sumber daya. Dengan sistem tersebut, pengguna cukup berdiri di bawah sensor untuk mendapatkan hasil pengukuran secara otomatis.
Made membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk menyelesaikan proyek tersebut. Meski menjadi karya pertamanya, ia berharap alat yang dibuat dapat dikembangkan lebih lanjut dan diikutsertakan dalam kompetisi inovasi teknologi.
Menurutnya, proses pembuatan karya memberikan pengalaman berharga sekaligus membentuk karakter dan kreativitas siswa.
"Sekolah memberi ruang bagi kami untuk berkembang dan berkreasi secara positif. Kami berterima kasih kepada para guru yang terus membimbing selama proses pembuatan karya," ujarnya.
Melalui Gelar Karya, SMP Labschool Unesa 3 Surabaya berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang tidak berhenti pada ruang kelas, melainkan mendorong siswa menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Ali Masduki