Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek yang Sudah Berlangsung Sejak Ratusan Tahun
- Penulis : Bramanta
- | Sabtu, 28 Mar 2026 12:45 WIB
jatimnow.com - Warga di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek memiliki tradisi lebaran ketupat yang terlah berlangsung ratusan tahun. Mereka melakukan silaturahmi pada hari ke tujuh lebaran.
Dalam lebaran ini, ketupat beserta aneka sayur dan lauk menjadi hidangan wajib. Warga yang bersilaturahmi dapat menikmati hidangan tersebut sepuasnya.
Baca Juga: Bank Jatim Salurkan CSR ke Trenggalek Berupa Floor Projector Highlight
Tradisi lebaran ketupat ini berawal dari Pondok Pesantren Babul Ulum di kecamatan tersebut. Keluarga Ponpes Babul Ulum, Muhammad Al Haidar mengatakan tradisi ini bermula saat kakeknya, KH Imam Mahyin memiliki kebiasaan puasa syawal usai lebaran hari pertama.
Saat berpuasa KH Imam Mahyin dijemput oleh Adipati yang memerintah di Kadipaten Trenggalek. Pihak Kadipaten Trenggalek meminta KH Mahyin untuk mendampingi open house selama enam hari. Selama disana, kiai kharismatik tersebut tidak makan di pagi hingga sore hari.
Baca Juga: JLS di Tulungagung Telah Rampung Pembangunannya, Tiga Kabupaten Sudah Terhubung
Ternyata Kiai Mahyin menjalankan sunnah dengan berpuasa saat tanggal 2 hingga 7 Syawwal. Termasuk keluarga yang ditinggalkan di rumah juga menjalankan Puasa Syawwal. Selama enam hari berada di pendopo kadipaten, hingga waktunya tiba akhirnya diantar pulang ke rumah Kiai Mahyin. Kepulangan kakeknya, langsung masyarakat berduyun-duyun sowan ke Kiai Mahyin.
"Sejak saat itu menjadi tradisi perayaan lebaran di Pondok ini selalu pada tanggal 7 dan 8 Syawwal," ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga: Penutupan Jalan Utama Tulungagung - Trenggalek Tertunda, Ini Alasannya
Saat menyambut tamu, mereka menghidangkan ketupat serta sayur lodeh nangka muda. Tamu yang datang untuk bersilaturahmi diminta menikmati hidangan tersebut. Tradisi ini kemudian menyebar ke lingkungan keluarga di sekitar pondok. Setelah itu sekitar tahun 80an warga sekitar juga mulai menjalankan tradisi lebaran ketupat ini. Mereka melakukan puasa syawwal usai lebaran hari pertama.
"Kupatan ini sudah berjalan lebih dari 200 tahun kupatan ini. Lantas setelah mbah saya (KH Imam Mahyin) meninggal tahun 10 atau 1910 sekitar itu, lalu diteruskan oleh ayah saya," pungkasnya.
Editor : Bramanta