Selasa, 23 Jun 2026 01:17 WIB

Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek yang Sudah Berlangsung Sejak Ratusan Tahun

  • Penulis : Bramanta
  • | Sabtu, 28 Mar 2026 12:45 WIB
Tumpeng berisi ketupat yang diarak warga Durenan Trenggalek. (Foto: Bramanta/jatimnow.com)
Tumpeng berisi ketupat yang diarak warga Durenan Trenggalek. (Foto: Bramanta/jatimnow.com)

jatimnow.com - Warga di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek memiliki tradisi lebaran ketupat yang terlah berlangsung ratusan tahun. Mereka melakukan silaturahmi pada hari ke tujuh lebaran.

Dalam lebaran ini, ketupat beserta aneka sayur dan lauk menjadi hidangan wajib. Warga yang bersilaturahmi dapat menikmati hidangan tersebut sepuasnya.

Baca Juga: Bank Jatim Salurkan CSR ke Trenggalek Berupa Floor Projector Highlight

Tradisi lebaran ketupat ini berawal dari Pondok Pesantren Babul Ulum di kecamatan tersebut. Keluarga Ponpes Babul Ulum, Muhammad Al Haidar mengatakan tradisi ini bermula saat kakeknya, KH Imam Mahyin memiliki kebiasaan puasa syawal usai lebaran hari pertama. 

Saat berpuasa KH Imam Mahyin dijemput oleh Adipati yang memerintah di Kadipaten Trenggalek. Pihak Kadipaten Trenggalek meminta KH Mahyin untuk mendampingi open house selama enam hari. Selama disana, kiai kharismatik tersebut tidak makan di pagi hingga sore hari.

Baca Juga: JLS di Tulungagung Telah Rampung Pembangunannya, Tiga Kabupaten Sudah Terhubung

Ternyata Kiai Mahyin menjalankan sunnah dengan berpuasa saat tanggal 2 hingga 7  Syawwal. Termasuk keluarga yang ditinggalkan di rumah juga menjalankan Puasa Syawwal. Selama enam hari berada di pendopo kadipaten, hingga waktunya tiba akhirnya diantar pulang ke rumah Kiai Mahyin. Kepulangan kakeknya, langsung masyarakat berduyun-duyun sowan ke Kiai Mahyin.

"Sejak saat itu menjadi tradisi perayaan lebaran di Pondok ini selalu pada tanggal 7 dan 8 Syawwal," ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Baca Juga: Penutupan Jalan Utama Tulungagung - Trenggalek Tertunda, Ini Alasannya

Saat menyambut tamu, mereka menghidangkan ketupat serta sayur lodeh nangka muda. Tamu yang datang untuk bersilaturahmi diminta menikmati hidangan tersebut. Tradisi ini kemudian menyebar ke lingkungan keluarga di sekitar pondok. Setelah itu sekitar tahun 80an warga sekitar juga mulai menjalankan tradisi lebaran ketupat ini. Mereka melakukan puasa syawwal usai lebaran hari pertama.  

"Kupatan ini sudah berjalan lebih dari 200 tahun kupatan ini. Lantas setelah mbah saya (KH Imam Mahyin) meninggal tahun 10 atau 1910 sekitar itu, lalu diteruskan oleh ayah saya," pungkasnya.

Editor : Bramanta
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.