Jumat, 19 Jun 2026 19:06 WIB

Besutan Melangkah ke Jakarta, Bawa Misi Menyelamatkan Ludruk

Seniman Meimura memerankan Besut Rusmini ketika memainkan wayang suket di Surabaya, beberapa waktu lalu. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Seniman Meimura memerankan Besut Rusmini ketika memainkan wayang suket di Surabaya, beberapa waktu lalu. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kesenian Besutan asal Jawa Timur akan tampil dalam Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan (LISAN XIII) yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5-8 Agustus 2026.

Kehadiran Besutan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan salah satu akar kesenian ludruk yang kini menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan zaman.

Baca Juga: Mahasiswa FIK Ubaya Sabet Tiga Gelar di Asian Student Fashion Week 2026

Undangan tampil diterima oleh Meimura, pegiat budaya yang selama beberapa waktu terakhir aktif menggelar gerakan "Jelajah Deso Milangkori" untuk mengenalkan kembali Besutan kepada masyarakat.

"Saya merasa terhormat mendapatkan kesempatan tampil dalam forum bergengsi ini atas undangan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat, Ibu Pudentia MPSS," ujar Meimura, Selasa (9/6/2026).

Meski demikian, keikutsertaan tersebut dilakukan secara mandiri. Panitia hanya menanggung biaya registrasi kegiatan dan konsumsi selama acara berlangsung, sementara biaya perjalanan Surabaya-Jakarta serta akomodasi selama berada di ibu kota harus dipenuhi sendiri.

Besutan dikenal sebagai bentuk kesenian tutur yang menjadi cikal bakal lahirnya ludruk. Berbeda dengan pertunjukan ludruk yang membutuhkan lebih banyak pemain dan perangkat pendukung, Besutan hadir dalam format yang lebih sederhana sehingga mudah dibawa dan dipentaskan di berbagai ruang masyarakat.

Kondisi ludruk yang semakin jarang tampil di tengah masyarakat menjadi alasan mengapa sejumlah pegiat budaya mendorong kebangkitan Besutan.

Selain sama-sama telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, keduanya memiliki hubungan historis yang tidak terpisahkan dalam perjalanan seni pertunjukan Jawa Timur.

Wakil Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur, Henri Nurcahyo, menilai kehadiran Besutan di forum internasional memiliki nilai strategis untuk memperluas perhatian publik terhadap nasib ludruk.

Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?

"Forum ini dapat menjadi ruang untuk mengingatkan banyak pihak bahwa ludruk sedang menghadapi tantangan serius. Besutan menawarkan jalan alternatif agar semangat dan nilai-nilai ludruk tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," kata Henri.

Dalam rangkaian seminar, Henri juga dijadwalkan mempresentasikan makalah berjudul "Menyalakan Api Ludruk Melalui Besutan" yang mengulas peran kesenian tersebut dalam menjaga keberlanjutan ludruk di era modern.

Seminar dan Festival Internasional Tradisi Lisan merupakan agenda dua tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan di berbagai daerah Indonesia.

Sejumlah kota seperti Wakatobi, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Makassar, Manado, Mataram, hingga Jakarta pernah menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Pada penyelenggaraan tahun ini, tema yang diangkat adalah "Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan".

Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim

Peserta festival dijadwalkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara seperti Singapura dan India.

ATL sendiri merupakan organisasi pemerhati tradisi lisan yang telah memperoleh akreditasi UNESCO sejak 2011.

Sejak berdiri pada 1993, organisasi tersebut aktif melakukan penelitian, pendampingan masyarakat, pendidikan kebudayaan, hingga berbagai program pelestarian tradisi lisan di Indonesia.

Melalui panggung LISAN XIII, Besutan tidak hanya tampil sebagai pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan bahwa warisan budaya lokal masih memiliki ruang untuk tumbuh dan menemukan audiens baru di tengah perubahan zaman.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.