Pesan Kiai Zuhri Zaini, Alasan Logis Mengapa Makan Harus Pakai Tangan Kanan
- Penulis : Ali Masduki
- | Sabtu, 09 Mei 2026 20:47 WIB
jatimnow.com - Di tengah riuh rendah dunia yang serba instan, seringkali kita abai terhadap hal-hal kecil yang sejatinya menjadi fondasi keberkahan hidup. Salah satunya adalah adab makan.
Di tangan KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, urusan sepiring nasi ini dibedah bukan sekadar sebagai pemuas lapar, melainkan jembatan menuju rida Ilahi.
Baca Juga: Lomba Pioneering Latih Kekompakan dan Mental Santri Nurul Jadid
Saat membedah Kitab Riyadhus Sholihin, sosok kiai yang dikenal teduh ini memberikan wejangan mendalam. Ia membedah sekat antara hukum formal dan adab.
"Mungkin menunjuk sesuatu dengan kaki itu tidak membuat seseorang masuk penjara, tapi sanksi sosial akan bicara," tutur beliau memberikan perumpamaan tentang pentingnya etika.
Kiai Zuhri menuturkan, setiap helai nasi yang masuk ke kerongkongan adalah rezeki yang wajib disyukuri. Memulainya dengan Bismillah adalah harga mati. Tanpanya, keberkahan akan terputus seperti rantai yang kehilangan pengaitnya.
"Setiap perbuatan baik, termasuk makan, harus diawali dengan nama Allah. Jika alpa, maka terputuslah barokahnya," tegas Kiai Zuhri.
Menariknya, ia mengingatkan bahwa mengingat Tuhan tidak melulu harus di atas sajadah. Di meja makan pun, Tuhan hadir melalui rasa syukur.
Jika di awal kita lupa berselawat atau mengucap nama-Nya, Kiai Zuhri menganjurkan untuk segera membacanya di tengah-tengah saat teringat. Tak ada kata terlambat untuk menjemput barokah yang sempat tertunda.
Meniru Langkah Rasulullah
Baca Juga: Pesan Kiai Zuhri Zaini, Mengapa Beragama Tak Cukup Hanya Modal Cerdas?
Merujuk pada hadis riwayat Amr bin Abi Salamah, Kiai Zuhri memetakan tiga protokol utama di meja makan: mengucap Bismillah, menggunakan tangan kanan, dan mengambil hidangan yang paling dekat. Ini bukan sekadar aturan kaku, melainkan bentuk penghormatan terhadap rezeki.
Tak hanya soal spiritual, Kiai Zuhri juga menyentuh aspek medis yang relevan dengan kehidupan modern. Ia mewanti-wanti agar kita tidak makan secara kesusu atau terburu-buru.
Mengunyah hingga halus bukan hanya soal adab, tapi soal bagaimana kita menghargai organ pencernaan yang telah bekerja keras untuk tubuh.
Seni Berhenti Sebelum Kenyang
Baca Juga: Pegawai Ponpes Nurul Jadid Probolinggo Kini Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan
Sebagai penutup, Kiai Zuhri melempar nasihat klasik namun sangat sulit dipraktikkan. Jangan makan sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang.
Filosofinya sederhana, makan saat perut sudah penuh justru akan melenyapkan kenikmatan makanan itu sendiri.
"Makan dalam kondisi kenyang itu justru merusak rasa, dan tentu, tidak baik bagi raga," pungkasnya
Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa dalam setiap suapan, ada doa dan kesehatan yang seharusnya selaras.
Editor : Ali Masduki