Meimura Bawa Ludruk Garingan ke Nganjuk, Bedah Filosofi Sambang Putu
- Penulis : Yanuar D
- | Kamis, 23 Apr 2026 23:12 WIB
jatimnow.com - Panggung sandiwara tradisi kembali berdenyut di pelosok Kabupaten Nganjuk. Meimura, aktor kawakan di balik lakon Besut, bakal memboyong rombongan Ludruk Garingan Meimura ke Sanggar Rumah Ilalang (KSII), Karangnongko, Sabtu malam (25/4/2026).
Pentas bertajuk "Sambang Putu" tersebut tidak sekadar menyajikan guyonan segar, melainkan membedah tuntas filosofi kerinduan kakek dan nenek terhadap cucu mereka.
Baca Juga: Besutan Melangkah ke Jakarta, Bawa Misi Menyelamatkan Ludruk
Berbeda dari sekadar tontonan, Meimura sengaja menyeret anak-anak didik Sanggar Ilalang untuk melebur di atas panggung. Kehadiran bocah-bocah ini bukan pemanis suasana, melainkan representasi nyata dari tema yang diangkat.
Baginya, cucu adalah cermin hidup yang memantulkan kembali masa muda para leluhur dengan energi yang jauh lebih meledak-ledak.
"Sambang putu itu perjalanan pulang ke diri sendiri yang pernah muda. Di tubuh seorang cucu, kakek atau nenek seperti melihat revolusi kecil, perpindahan jiwa dan kesinambungan rasa agar tetap hidup lewat generasi berikutnya," ungkap seniman yang akrab disapa Cak Mei tersebut.
Pemilihan Sanggar Rumah Ilalang sebagai lokasi pementasan keempat dalam rangkaian tur "Besut Jajah Deso Milangkori" ini bukan tanpa alasan. Sanggar besutan Agus R. Subagyo alias Kang Rego itu memang dikenal getol mengasuh bakat seni anak-anak di Ngronggot.
Kang Rego, seorang penyair sekaligus petani bawang merah, telah menyulap sawah dan ladangnya menjadi kawah candradimuka bagi pegiat teater dan sastra di Nganjuk.
Baca Juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?
Nantinya, lakon Besut bakal tetap setia pada khitahnya: nakal, penuh parikan tajam, dan memancing tawa. Namun, di balik banyolan itu terselip pesan reflektif tentang waktu yang kian senja. Hubungan batin antara kakek dan cucu dipotret sebagai "suplemen jiwa" yang mampu menghalau rasa sepi di masa tua.
"Sambang putu adalah tentang pulang. Tapi bukan ke rumah fisik, melainkan ke diri yang tak pernah benar-benar pergi," tambah Mei.
Usai pementasan, agenda berlanjut dengan sarasehan budaya yang menghadirkan Dr. Autar Abdillah bersama Kang Rego. Diskusi ini bakal membedah peluang pemberdayaan ruang publik bagi seniman daerah.
Baca Juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim
Program ini sendiri mendapat dukungan penuh dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem seni tradisi tetap relevan di tengah gempuran zaman.
Setelah singgah di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, pengembaraan Besut dijadwalkan bakal berlabuh di Mojokerto pada 7 Mei mendatang.
Bagi warga Nganjuk, Sabtu malam esok adalah momentum melihat bagaimana tradisi ludruk merawat ingatan sekaligus menyiapkan regenerasi sejak dini.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83995-meimura-bawa-ludruk-garingan-ke-nganjuk-bedah-filosofi-sambang-putu