Senin, 15 Jun 2026 20:17 WIB

Riset Laut Gili Noko, Sinyal Bahaya Mikroplastik untuk Bawean

Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air. (Foto: Humas for jatimnow.com)
Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air. (Foto: Humas for jatimnow.com)

jatimnow.com - Penelitian di Gili Noko, Pulau Bawean, membuka dua hal sekaligus, yaitu kualitas perairan yang masih terjaga dan ancaman mikroplastik yang mulai mengintai ekosistem laut.

Riset kolaboratif antara SDIT Al Huda Bawean dan mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya itu tak hanya menghasilkan data, tetapi juga membawa siswa sekolah dasar terlibat langsung memahami laut mereka sendiri.

Baca Juga: Siswa SMPN 58 Surabaya Temukan Partikel Plastik di Air dan Udara

Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air.

Hasilnya, kadar oksigen terlarut mencapai 8,76 mg/L, pH 9, dan suhu 31 derajat Celsius, angka yang menunjukkan perairan masih dalam kondisi baik untuk mendukung kehidupan biota laut.

Mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA, Davin Jauhar Bernarddien, menjelaskan plankton menjadi fondasi rantai makanan laut.

“Fitoplankton menghasilkan oksigen, sedangkan zooplankton menjadi penghubung bagi organisme yang lebih besar. Keduanya menentukan keseimbangan ekosistem laut,” ujarnya.

Temuan lapangan juga menunjukkan kontras dengan wilayah pesisir perkotaan. Di Surabaya, tekanan aktivitas manusia membuat kualitas air lebih rentan. Sementara di Gili Noko, kejernihan air masih memungkinkan pandangan hingga dasar laut.

Riset kemudian berlanjut pada identifikasi makroalga, khususnya anggur laut (Caulerpa sp.) yang tumbuh di sekitar terumbu karang.

Dewi Fitriana, mahasiswa yang memimpin pengamatan, menyebut kondisi habitat masih sangat sehat.

“Terumbu karang berwarna, tidak ada tanda pemutihan, dan ikan kecil masih mudah dijumpai,” katanya.

Ia juga mengingatkan ancaman yang tak kasatmata. “Mikroplastik dari sampah laut berisiko merusak keanekaragaman plankton. Padahal plankton adalah produsen oksigen sekaligus sumber energi utama di laut,” ujar Dewi.

Keterlibatan siswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Empat siswa kelas 5 SDIT Al Huda Bawean ikut turun langsung dalam pengamatan. Mereka tidak hanya melihat laut sebagai pemandangan, tetapi sebagai ruang belajar.

Baca Juga: Studi Ecoton dan ITB, Nanoplastik Picu Kerusakan Sel dan Risiko Stroke Kronis

Syarif Hidayatulloh, salah satu peserta, mengaku baru memahami perbedaan jenis plankton.

“Saya baru tahu ada fitoplankton dan zooplankton. Seru karena bisa belajar langsung sambil melihat ikan dan tumbuhan laut,” katanya.

Guru pendamping, Inayatul Fitriah, menyebut pendekatan lapangan membuat sains terasa dekat bagi siswa.

“Anak-anak belajar dari lingkungan yang mereka temui setiap hari, jadi lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Rifky Ananda Rahman. Ia melihat metode riset lapangan memberi pengalaman yang tak tergantikan oleh kelas.

“Kami mendapat cara baru dalam pembelajaran. Siswa juga lebih antusias karena terlibat langsung,” tuturnya.

Baca Juga: Keterbukaan Informasi Jeblok, UIN Sunan Ampel Masuk Daftar Raport Merah

Di luar hasil ilmiah, riset tersebut membawa pesan yang lebih luas, yakni menjaga laut tidak bisa ditunda. Sampah plastik yang belum tertangani berpotensi menjadi sumber krisis lingkungan di Bawean.

Mahasiswa UINSA yang terlibat berharap generasi muda pulau mulai dari mengenali ekosistemnya sendiri sebelum bergerak lebih jauh.

Kesadaran itu menjadi kunci untuk menjaga laut tetap sehat, sekaligus melindungi sumber kehidupan masyarakat pesisir.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah awal memperkuat pendidikan berbasis riset di wilayah kepulauan.

Dari Gili Noko, siswa Bawean belajar bahwa sains bukan sesuatu yang jauh—ia ada di laut yang mereka pijak setiap hari.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.