Minggu, 07 Jun 2026 16:19 WIB

Studi Ecoton dan ITB, Nanoplastik Picu Kerusakan Sel dan Risiko Stroke Kronis

Sofi Azilan Aini peneliti nanoplastik dalam sel darah sedang melakukan analisis unsur kimia dalam material dengan menggunakan Mikroskop Elektron di Scientific Imaging Centre ITB. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
Sofi Azilan Aini peneliti nanoplastik dalam sel darah sedang melakukan analisis unsur kimia dalam material dengan menggunakan Mikroskop Elektron di Scientific Imaging Centre ITB. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tubuh manusia tidak lagi murni organik. Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bekerja sama dengan Scientific Imaging Centre (SIC) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap fakta brutal, nanoplastik kini telah menyusup ke dalam sistem peredaran darah dan cairan reproduksi manusia.

Melalui pemindaian Scanning Electron Microscope (SEM) pada Jumat (10/4/2026), tim peneliti mengidentifikasi partikel plastik berukuran 200 hingga 800 nanometer.

Baca Juga: Tren Kecantikan 2026, Rever Academy Surabaya Rilis Gaya Ikonik

Ukuran ini jauh lebih kecil dari sel darah merah manusia yang rata-rata berdiameter 7,2 mikrometer. Artinya, partikel asing ini mampu meluncur bebas di pembuluh arteriol dan berinteraksi langsung dengan jaringan terdalam tubuh.

Hasil analisis terhadap 30 subjek perempuan di Jawa Timur menunjukkan rata-rata terdapat 9 partikel mikroplastik per 1 ml darah. Temuan paling mengejutkan adalah jenis polimer yang mendominasi: Polyester (28%).

Polyester merupakan tulang punggung industri fast fashion dan tekstil global. Serat mikro yang rontok saat mencuci pakaian sintetis ternyata tidak hanya berakhir di sungai, tetapi bertransformasi menjadi polutan yang mengalir di pembuluh darah masyarakat.

Selain itu, ditemukan pula kandungan Polyisobutylene (24%), Polyethylene (32%), dan PET (16%).

"Hasil SEM memastikan adanya nanoplastik dalam darah dan sperma berupa jenis fiber serta fragmen," ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton.

Kehadiran benda asing sintetis ini memicu "badai" dalam sistem biologis manusia. Partikel nanoplastik yang bergesekan dengan membran sel darah merah meningkatkan risiko hemolisis atau pecahnya sel.

Kondisi tersebut memicu penggumpalan darah yang berujung pada sumbatan pembuluh darah, stroke, dan penyakit jantung koroner.

Tak hanya itu, sistem imun manusia dipaksa bekerja ekstra. Sel darah putih (makrofag) yang mencoba memakan plastik tersebut akan gagal dan justru terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik (TNF-alpha). Dampaknya adalah stres oksidatif yang membuat sel tubuh layu dan mati sebelum waktunya.

Temuan ini kian kelam saat menyentuh ranah reproduksi. Pada Februari 2026, Ecoton mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban.

Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah

Partikel polyethylene berukuran 1,5 hingga 7,9 mikrometer ditemukan pada sampel sperma, yang berpotensi merusak kualitas benih manusia dan memicu infertilitas.

Di sisi lain, temuan pada air ketuban menunjukkan ancaman nyata bagi janin, mulai dari gangguan perkembangan hingga risiko kelahiran prematur.

Manager Science, Art and Communication Ecoton, Prigi Arisandi, menjelaskan bahwa plastik yang masuk ke tubuh hari ini bukan hanya masalah individu saat ini.

Mengutip pakar kesehatan Philip J. Landrigan, paparan kimia plastik pada ibu hamil secara otomatis mengekspos tiga generasi sekaligus: sang ibu, janin yang dikandung, dan sel reproduksi yang sedang tumbuh di dalam janin tersebut.

Guna menanggapi darurat kesehatan yang kian mendesak, tim peneliti merekomendasikan serangkaian langkah radikal bagi masyarakat demi memutus rantai polusi dari tingkat personal.

Baca Juga: Indomobil eMotor QT Meluncur di Surabaya, Motor Listrik Stylish Rp16 Jutaan

Langkah pertama dapat dimulai dengan melakukan audit gaya hidup, yakni menghentikan total penggunaan plastik sekali pakai dan beralih secara konsisten ke wadah berbahan kaca atau baja tahan karat.

Selain membenahi penggunaan wadah, masyarakat juga diimbau untuk menerapkan diet tekstil. Strategi ini dilakukan dengan mengurangi pemakaian pakaian berbahan sintetis dan mulai beralih ke serat alami guna menekan rontokan mikrofiber yang mencemari lingkungan.

Upaya dari sisi eksternal tersebut perlu diimbangi dengan intervensi medis alami dari dalam tubuh. Hal ini dapat dicapai melalui peningkatan konsumsi zat anti-inflamasi alami seperti kunyit, serta asupan antioksidan dari buah dan sayuran untuk meredam stres oksidatif akibat polutan.

Akhirnya, seluruh upaya tersebut harus ditutup dengan aktivitas fisik yang tepat; olahraga yang berfokus pada manajemen energi seperti Taichi sangat disarankan karena efektivitasnya dalam membantu proses pemulihan selular secara menyeluruh.

Krisis ini bukan lagi soal sampah di laut, melainkan sampah yang telah menjadi bagian dari biologi manusia. Pilihan ada di tangan konsumen: mengubah pola hidup atau membiarkan plastik menentukan masa depan keturunan kita.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.