Algoritma vs Suroboyoan, Alasan Gen Z Surabaya Tak Bisa Lepas dari Radio
- Penulis : Ali Masduki
- | Jumat, 03 Apr 2026 05:00 WIB
jatimnow.com - Di tengah gempuran algoritma Spotify dan YouTube Music yang serba otomatis, anak muda di Surabaya ternyata belum sepenuhnya berpaling dari frekuensi radio.
Meski mendamba kontrol penuh atas apa yang mereka dengar, ada satu hal yang tidak bisa diberikan oleh kecerdasan buatan (AI), yakni ruh manusia dan kedekatan budaya lokal.
Baca Juga: Gaya Cak Armuji, Saat YouTube Ubah Birokrasi Surabaya Jadi Ruang Publik
Fenomena ini terungkap dalam riset terbaru bertajuk "Transisi dari Radio Terestrial ke Audio-On-Demand" yang digarap oleh Dekan Fikom Unitomo Surabaya, Harliantara, dan Bahar Ozturk dari Universitas İnönü, Turki.
Penelitian tersebut memotret bagaimana mahasiswa di Kota Pahlawan menavigasi telinga mereka di antara efisiensi digital dan kebutuhan emosional.
Bagi Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan, radio terestrial seringkali dianggap memuakkan karena rentetan iklan yang repetitif.
Mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini sepakat bahwa platform Audio-on-Demand (AoD) menawarkan otonomi yang mutlak.
"Pendengar sekarang bukan lagi penerima pasif, melainkan kurator aktif. Mereka ingin menjadi bos atas telinga mereka sendiri, menentukan playlist tanpa interupsi," tulis Harliantara dalam laporannya yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Communication.
Peralihan dari model push (disodori konten) ke model pull (memilih konten) ini mengubah ponsel pintar menjadi pusat kendali suasana hati (mood) mereka.
Namun, ada temuan unik yang disebut sebagai "paradoks perjalanan". Saat terjebak kemacetan Surabaya yang menjemukan, kebebasan memilih di platform digital justru menjadi beban kognitif. Di titik inilah, radio terestrial kembali naik daun.
Baca Juga: ITS Tancap Gas di QS WUR 2026, Tiga Bidang Baru Masuk
Saat mobilitas tinggi, anak muda cenderung malas memilah lagu satu per satu. Mereka memilih untuk menyerahkan kendali kepada penyiar. Radio dianggap lebih praktis, tinggal putar tanpa perlu berpikir, sekaligus menjadi teman di kabin kendaraan.
Riset ini menggarisbawahi kegagalan AI dalam menangkap nuansa emosional. Algoritma mungkin tahu lagu apa yang Anda sukai, tapi ia tidak tahu bagaimana rasanya terjebak macet di jalanan Ahmad Yani saat hujan deras.
Di sinilah peran "jangkar manusia" menjadi krusial. Penggunaan dialek Suroboyoan yang khas, celetukan spontan penyiar, hingga bahasan isu lokal menjadi perekat sosial yang tidak dimiliki oleh kurasi lagu global.
"Audiens muda tetap mencari interaksi langsung dan kedekatan budaya. Dialek lokal dan spontanitas manusia adalah sesuatu yang belum mampu dihadirkan oleh kurasi berbasis AI," ungkap tim peneliti dalam kesimpulannya.
Baca Juga: Synchroma Fest 2026 di Surabaya, Ruang Temu Kopi, Musik, dan Edukasi
Agar tidak gulung tikar, riset ini menawarkan kerangka kerja bernama "mutasi digital". Radio tidak boleh lagi sekadar siaran cuap-cuap di udara, tapi harus menempuh dua jalur sekaligus
Pertama, adaptasi teknis. Menyediakan konten yang bisa diakses kapan saja (on-demand) dan meminimalisir gangguan audio yang mengganggu pengalaman mendengarkan.
Kedua, penguatan emosional. Mempertajam kehadiran manusia, empati, dan konteks lokal yang sangat spesifik.
Masa depan industri audio di kota-kota besar seperti Surabaya rupanya tidak terletak pada kemenangan mutlak teknologi, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dipadukan dengan sentuhan personal yang manusiawi.
Editor : Ali Masduki