Minggu, 21 Jun 2026 12:06 WIB

Air Hujan Surabaya Tercemar Mikroplastik, Jangan "Mangap" Saat Hujan!

Penelitian mikroplastik dalam air Hujan melibatkan 6 orang peneliti untuk pengamatan fisik mikroplastik dan uji polimer. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)
Penelitian mikroplastik dalam air Hujan melibatkan 6 orang peneliti untuk pengamatan fisik mikroplastik dan uji polimer. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)

jatimnow.com - Hasil penelitian terbaru dari Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menunjukkan adanya dugaan kontaminasi mikroplastik dalam air hujan di Kota Surabaya. Temuan ini memicu kekhawatiran akan potensi dampak buruk bagi kesehatan warga.

Sebelumnya, Surabaya menduduki peringkat 6 dari 18 kota di Indonesia dengan kontaminasi mikroplastik di udara sebesar 12 partikel/90 cm2/2 jam. Penelitian terbaru ini melanjutkan riset tersebut dengan fokus pada air hujan.

Baca Juga: Siswa SMPN 58 Surabaya Temukan Partikel Plastik di Air dan Udara

Peneliti GrowGreen sekaligus mahasiswa Unesa Surabaya, Shofiyah, menghimbau warga untuk berhati-hati dan tidak menelan air hujan secara langsung.

“Semua lokasi penelitian tercemar mikroplastik, kondisi ini mengkhawatirkan dan akan jadi ancaman serius bagi kesehatan warga, maka kami menghimbau agar warga tidak mangap atau menelan air hujan karena masuknya air hujan akan meningkatkan kontaminasi mikroplastik dalam tubuh,” ujar Shofiyah, di Surabaya, Jumat (14/11/2025).

Penelitian yang dilakukan pada 11-14 November 2025 di 5 lokasi menunjukkan bahwa daerah Pakis Gelora memiliki tingkat pencemaran mikroplastik tertinggi, yaitu 356 partikel Mikroplastik (PM) per liter. Disusul Tanjung Perak dengan 309 PM/L.

Koordinator Penelitian Mikroplastik Kota Surabaya, Alaika Rahmatullah, menjelaskan bahwa tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

“Semisal di Pakis Gelora menunjukkan kadar mikroplastik tinggi karena terdapat aktivitas pembakaran sampah dan lokasi yang berdekatan dengan pasar dan jalan raya,” ungkap Alaika.

Baca Juga: Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya

Penelitian ini berhasil mengidentifikasi beberapa sumber utama yang diduga berkontribusi terhadap keberadaan mikroplastik dalam air hujan di Surabaya. Di antaranya pembakaran sampah plastik secara terbuka, gesekan antara ban kendaraan bermotor dengan permukaan aspal jalan raya, kegiatan laundry seperti mencuci dan menjemur pakaian, timbunan sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, polusi dari aktivitas industri, serta emisi asap kendaraan bermotor.

Ridha Fadhillah menambahkan bahwa pencemaran plastik di laut juga dapat berkontribusi terhadap kontaminasi mikroplastik dalam air hujan.

“Faktor lain penyumbang mikroplastik dalam air hujan kota Surabaya berasal dari pencemaran plastik air laut. Dalam proses siklus air, air laut terevaporasi menjadi uap air dan terkondensasi menjadi awan, jadi semakin tinggi tingkat polusi plastik atau mikroplastik dalam air laut maka akan berdampak pada tingginya tingkat pencemaran mikroplastik dalam air hujan,” ujar Ridha.

Sementara peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini, menjelaskan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan dalam air hujan di Surabaya adalah jenis fiber atau filamen.

Baca Juga: Wadah Organik dan Refill Jadi Solusi Saat Harga Plastik Melambung

“Membakar sampah plastik akan menghasilkan jenis mikroplastik fiber, dari riset sebelumnya yang dilakukan di lokasi dekat tungku pembakaran sampah di Sidoarjo menunjukkan jenis fiber mendominasi mikroplastik di udara sekitar daerah pembakaran sampah,” ungkap Sofi.

Menyikapi temuan ini, para peneliti menyampaikan sejumlah rekomendasi penting sebagai upaya mitigasi dan pencegahan pencemaran mikroplastik lebih lanjut, antara lain menghentikan praktik pembakaran sampah secara terbuka, menghentikan pembuangan sampah plastik ke sungai dan wilayah pesisir, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai secara signifikan.

Kemudian juga menerapkan publikasi atau sanksi sosial berupa pemasangan foto bagi warga yang terbukti melakukan pembakaran sampah plastik atau membuang sampah ke sungai dan pesisir, serta melaksanakan pengujian mikroplastik secara berkala di udara Surabaya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.