Sabtu, 06 Jun 2026 09:03 WIB

Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya

Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Sungai Surabaya kembali menghadapi krisis limbah rumah tangga yang mengkhawatirkan. Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu.

Aksi ekskavasi yang digelar sejak Senin (11/5/2026) hingga Rabu (13/5/2026) mengungkap fakta mengejutkan. Dari total 2,4 ton sampah yang terjaring, sebanyak 45 persen atau hampir separuh massa sampah tersebut merupakan limbah popok bayi dan dewasa.

Baca Juga: Mahasiswa Jatim Kampanyekan Kali Tebu Bebas Sampah Popok

Temuan itu menjadi peringatan keras bagi warga di enam kelurahan yang dilintasi aliran sungai tersebut.

Kegiatan yang diinisiasi Ecoton bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) bukan sekadar pembersihan biasa. Relawan melakukan brand audit guna melacak produsen mana yang paling banyak menyumbang polusi di perairan tersebut.

Hasilnya, merek Sweety (PT Softex Indonesia) mendominasi dengan 31 persen, disusul MamyPoko (PT Unicharm) sebesar 24 persen.

Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat.

Baca Juga: Siswa SMPN 58 Surabaya Temukan Partikel Plastik di Air dan Udara

Ia mendesak pihak industri mulai menjalankan kewajiban Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen atas siklus hidup produk mereka.

"Sampah popok yang menggenang di sungai juga menjadi tanggung jawab perusahaan pembuatnya. Perusahaan wajib memikirkan bagaimana limbah pasca konsumsi mereka dikelola, bukan dibiarkan mencemari ekosistem," tegas Daru.

Persoalan di Kali Tebu kian krusial karena sungai ini menjadi jalur utama sampah plastik menuju Selat Madura. Aliran air membawa residu dari wilayah Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi.

Baca Juga: SIER Pamerkan Mobil Hias Kupu-Kupu Robotik Raksasa di Surabaya Vaganza 2026

Sebagai langkah pencegahan permanen, program Mozaik kolaborasi Ecoton, Pemkot Surabaya, UNDP, dan Kemenko Bidang Pangan telah memasang trash barrier Barakuda. Alat penghalang tersebut akan dikuras secara rutin setiap dua hari sekali di TPS3R Kedung Cowek.

Amiruddin Muttaqin, perwakilan relawan Tekat, mengajak warga mengubah perilaku demi masa depan lingkungan.

"Kami butuh bantuan semua orang untuk berhenti menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Mari kita kembalikan kelestarian Kali Tebu bersama-sama," pesannya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.