Kamis, 23 Jul 2026 05:59 WIB

Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya

Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)
Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu. (Foto: Ecoton for jatimnow.com)

jatimnow.com - Sungai Surabaya kembali menghadapi krisis limbah rumah tangga yang mengkhawatirkan. Dalam tiga hari terakhir, tim gabungan berhasil mengangkat lebih dari satu ton sampah popok sekali pakai dari dasar Kali Tebu.

Aksi ekskavasi yang digelar sejak Senin (11/5/2026) hingga Rabu (13/5/2026) mengungkap fakta mengejutkan. Dari total 2,4 ton sampah yang terjaring, sebanyak 45 persen atau hampir separuh massa sampah tersebut merupakan limbah popok bayi dan dewasa.

Baca Juga: MPLS Berbeda, Siswa SMAN 1 Mantup Lamongan Teliti Mikroplastik di Sekolah

Temuan itu menjadi peringatan keras bagi warga di enam kelurahan yang dilintasi aliran sungai tersebut.

Kegiatan yang diinisiasi Ecoton bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) bukan sekadar pembersihan biasa. Relawan melakukan brand audit guna melacak produsen mana yang paling banyak menyumbang polusi di perairan tersebut.

Hasilnya, merek Sweety (PT Softex Indonesia) mendominasi dengan 31 persen, disusul MamyPoko (PT Unicharm) sebesar 24 persen.

Direktur Eksekutif Ecoton, Daru Setyorini, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat.

Baca Juga: Sengketa Tata Ruang Graha Famili Surabaya, Sorotan Mengarah ke The Nook Cafe

Ia mendesak pihak industri mulai menjalankan kewajiban Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen atas siklus hidup produk mereka.

"Sampah popok yang menggenang di sungai juga menjadi tanggung jawab perusahaan pembuatnya. Perusahaan wajib memikirkan bagaimana limbah pasca konsumsi mereka dikelola, bukan dibiarkan mencemari ekosistem," tegas Daru.

Persoalan di Kali Tebu kian krusial karena sungai ini menjadi jalur utama sampah plastik menuju Selat Madura. Aliran air membawa residu dari wilayah Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Beri Bantuan Pendidikan untuk 7.380 Siswa SMA/SMK/MA Sederajat

Sebagai langkah pencegahan permanen, program Mozaik kolaborasi Ecoton, Pemkot Surabaya, UNDP, dan Kemenko Bidang Pangan telah memasang trash barrier Barakuda. Alat penghalang tersebut akan dikuras secara rutin setiap dua hari sekali di TPS3R Kedung Cowek.

Amiruddin Muttaqin, perwakilan relawan Tekat, mengajak warga mengubah perilaku demi masa depan lingkungan.

"Kami butuh bantuan semua orang untuk berhenti menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Mari kita kembalikan kelestarian Kali Tebu bersama-sama," pesannya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.