Wadah Organik dan Refill Jadi Solusi Saat Harga Plastik Melambung
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Selasa, 14 Apr 2026 11:22 WIB
jatimnow.com - Ketergantungan industri terhadap energi fosil kian nyata saat ketegangan Iran vs Israel memicu lonjakan harga bahan baku plastik.
Situasi tersebut berdampak langsung pada biaya kemasan yang mencekik pelaku usaha kecil serta membebani kantong masyarakat.
Baca Juga: Siswa SMPN 58 Surabaya Temukan Partikel Plastik di Air dan Udara
Namun, Koordinator Penelitian Plastik Ecoton, Tasya Husna, melihat gejolak pasar tersebut sebagai peluang besar bagi Indonesia untuk segera meninggalkan budaya sekali pakai.
Kenaikan harga plastik ini membuktikan bahwa kemasan itu bukan sekadar masalah sampah, melainkan isu kedaulatan energi yang rapuh.
"Produksi plastik sangat bergantung pada minyak bumi. Paniknya masyarakat melihat harga plastik naik menunjukkan betapa konsumtifnya kita terhadap material tersebut," ujar Tasya kepada jatimnow.com, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, stabilitas ekonomi justru bisa dicapai jika publik beralih ke sistem guna ulang yang tidak terpengaruh krisis geopolitik global.
Industri ini memang berada dalam genggaman negara-negara kaya minyak. Ironisnya, tingginya produksi dan konsumsi tidak dibarengi upaya pembersihan lingkungan yang sepadan.
Tasya mengungkap fakta bahwa hanya 20 negara di dunia yang menyumbang hampir 70% pencemaran plastik global.
Di tingkat lokal, kenaikan harga kemasan membuat margin keuntungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kian tipis.
Banyak pelaku usaha sulit berpindah haluan karena sudah kadung bergantung pada plastik yang selama ini dianggap murah.
Padahal, penggunaan material tersebut membawa risiko kesehatan jangka panjang serta beban biaya pemulihan lingkungan yang besar.
Baca Juga: Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya
Agar masyarakat tidak sekadar terbebani tanpa ada perubahan perilaku, pemerintah perlu hadir melalui kebijakan tegas.
Tasya menyarankan langkah konkret seperti mencabut fasilitas bebas pajak (tax free) pada industri petrokimia pembuat plastik dan sebaliknya, memberikan insentif bagi industri guna ulang.
"Pemerintah bisa menerapkan pembatasan plastik sekali pakai secara nasional dan menaikkan pajak industrinya. Investasi harus dialihkan pada infrastruktur wadah ramah lingkungan, misalnya mengoptimalkan pelepah pisang atau wadah organik lainnya," jelasnya.
Krisis bahan baku ini justru membuka keran keuntungan bagi sektor ekonomi alternatif. Bisnis substitusi seperti penyedia daun pembungkus, besek, hingga kemasan guna ulang diprediksi akan naik daun.
Kondisi "terpaksa hemat" ini mendorong warga membawa wadah sendiri, yang secara otomatis menguntungkan penjual material organik.
Bagi pihak swasta, model bisnis lama berbasis plastik virgin tidak lagi berkelanjutan. Perusahaan wajib mendesain ulang kemasan agar bisa digunakan kembali atau masuk dalam sistem deposit-return.
Baca Juga: Harga Melambung Tinggi, Pakar Sebut Momen Emas Tinggalkan Plastik
Langkah tersebut juga menjadi pembuktian kepatuhan perusahaan terhadap Peta Jalan Pengurangan Sampah sesuai regulasi P.75 tahun 2019.
Meski infrastruktur pendukung belum merata, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya guna ulang di masyarakat dan sektor informal daur ulang yang masif.
Tantangan biaya alternatif yang masih mahal bisa ditekan jika ada konsistensi kebijakan dari pusat hingga daerah.
"Saat harga plastik tidak lagi murah, ruang untuk normalisasi sistem isi ulang (refill) terbuka lebar. Ini waktu yang tepat untuk memaksa perubahan desain kemasan industri agar lebih sirkular," pungkas Tasya.
Dengan dorongan investasi yang tepat, transisi menuju Indonesia bebas plastik bukan lagi sekadar mimpi, melainkan keharusan ekonomi.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-83741-wadah-organik-dan-refill-jadi-solusi-saat-harga-plastik-melambung