Kamis, 18 Jun 2026 22:48 WIB

Fenomena Hujan Plastik Terjadi di Jakarta, Peneliti Beberkan Sumbernya

Riset Ecoton dan BRIN mengungkap air hujan Jakarta mengandung mikroplastik akibat polusi udara. (Foto: Ilustrasi/ChatGPT Image)
Riset Ecoton dan BRIN mengungkap air hujan Jakarta mengandung mikroplastik akibat polusi udara. (Foto: Ilustrasi/ChatGPT Image)

jatimnow.com - Fenomena “hujan mikroplastik” kini bukan sekadar istilah ilmiah, tetapi kenyataan yang sedang terjadi di Jakarta. Hasil riset gabungan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SEIJ) menunjukkan bahwa udara Jakarta mengandung partikel mikroplastik paling tinggi di Indonesia, yang kemudian terserap dan larut dalam air hujan.

Penelitian ini memperkuat temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sebelumnya menemukan mikroplastik dalam setiap meter persegi air hujan di ibu kota. Peneliti BRIN, M. Reza Cordova, menjelaskan bahwa partikel plastik dalam air hujan berasal dari berbagai sumber, mulai dari serat sintetis pakaian hingga sisa pembakaran sampah plastik.

Baca Juga: Siswa SMPN 58 Surabaya Temukan Partikel Plastik di Air dan Udara

“Dalam satu meter persegi air hujan, kami menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik berbentuk serat sintetis dan fragmen. Sebagian besar berasal dari poliester, nilon, polietilena, polipropilen, serta residu ban kendaraan,” ungkap Reza, Kamis (23/10/2025).

Peneliti Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa mikroplastik di udara menjadi penyumbang utama tercemarnya air hujan di Jakarta. Ketika hujan turun, partikel plastik di atmosfer ikut larut ke permukaan bumi, menciptakan fenomena yang disebut wet deposition atau deposisi basah.

“Tingginya kadar mikroplastik di udara Jakarta berdampak langsung pada air hujan. Uap air di atmosfer menangkap partikel mikroplastik yang melayang di udara, sehingga ketika hujan turun, partikel itu ikut terbawa,” jelas Rafika.

Hasil analisis laboratorium Ecoton menunjukkan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah fragmen (53,26%) dan fiber (46,14%), sedangkan film hanya 0,6%. Jenis polimer yang teridentifikasi pun beragam, mulai dari poliester, nilon, polibutadien, hingga PTFE dan epoxy resin yang banyak digunakan dalam produk industri.

“Partikel plastik ini berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil dari debu. Karena bentuknya mikroskopis, mereka mudah terhirup manusia, menempel pada tanaman, dan masuk ke rantai makanan,” tambahnya.

Senada, Koordinator relawan riset Ecoton, Sofi Azilan Aini, mengungkapkan bahwa lokasi pengambilan sampel udara di Jakarta meliputi Pasar Tanah Abang, Jalan Sawah Besar, dan Kawasan Ragunan. Dari ketiganya, Tanah Abang tercatat sebagai wilayah dengan kadar mikroplastik tertinggi.

“Kombinasi antara padatnya aktivitas perdagangan tekstil, lalu lintas kendaraan, dan pembakaran sampah plastik di sekitar pasar membuat wilayah ini menjadi titik panas mikroplastik,” ujar Sofi.

Menurut Sofi, kebiasaan masyarakat membakar sampah plastik di ruang terbuka menjadi penyumbang utama pencemaran udara yang kemudian berujung pada kontaminasi air hujan.

“Sekitar 57 persen kebiasaan membakar sampah plastik di permukiman padat menjadi faktor dominan. Akibatnya, partikel plastik hasil pembakaran beterbangan dan akhirnya turun bersama air hujan,” tambahnya.

Penelitian ini menggunakan metode pemantauan deposisi pasif dengan mikroskop stereo dan spektroskopi FTIR (Fourier Transform Infrared) untuk memastikan jenis polimer. Hasilnya menunjukkan bahwa partikel mikroplastik di udara Jakarta berpotensi masuk ke sistem pernapasan manusia, kemudian mengendap di paru-paru, dan akhirnya ikut larut di air permukaan setelah hujan.

Baca Juga: Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya

“Mikroplastik bukan hanya limbah visual, tapi juga polutan kimiawi. Permukaannya mudah mengikat zat beracun seperti logam berat dan bahan kimia berbahaya. Itu sebabnya, toksisitasnya bisa seratus kali lebih berbahaya daripada logam berat,” kata Rafika.

Selain mengancam kesehatan manusia, hujan mikroplastik juga berdampak pada kualitas air tanah dan sistem perairan perkotaan. Partikel plastik yang terbawa air hujan akan masuk ke saluran drainase, sungai, hingga laut, memperparah siklus pencemaran plastik nasional.

Sebagai tindak lanjut dari riset ini, Ecoton mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), agar segera membuat kebijakan tegas untuk menekan sumber polusi mikroplastik dari udara dan pembakaran sampah.

Lima rekomendasi yang diajukan Ecoton meliputi:

1. Larangan total pembakaran sampah terbuka di kawasan perkotaan.

2. Pemantauan rutin kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta dan kota besar lainnya.

Baca Juga: Wadah Organik dan Refill Jadi Solusi Saat Harga Plastik Melambung

3. Penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis zero waste di tingkat kecamatan.

4. Edukasi publik tentang bahaya mikroplastik terhadap kesehatan.

5. Investasi riset dan teknologi filtrasi udara perkotaan.

“Fenomena hujan mikroplastik bukan sekadar isu sains, tapi panggilan darurat lingkungan. Pemerintah perlu bertindak cepat sebelum partikel plastik menjadi bagian permanen dari udara yang kita hirup dan air yang kita minum,” tegas Rafika.

Ecoton menilai langkah strategis ini harus segera diwujudkan untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. Jika tidak, Jakarta akan menghadapi siklus pencemaran plastik yang terus berulang: udara kotor, air hujan tercemar, dan tanah yang makin beracun.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.