Sabtu, 20 Jun 2026 07:52 WIB

Bupati Tulungagung Boyongan ke Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo saat mengikuti tradisi boyongan. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo saat mengikuti tradisi boyongan. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo mengikuti upacara tradisi Boyongan Ndalem Keprabon di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bangsa. Tradisi ini menandai Gatut akan menempati dan tinggal di Pendopo selama menjabat sebagai Bupati Tulungagung.

Gatut mengungkapkan, pemilihan hari boyongan ini tidak dilakukan secara sembarang. Boyongan dilakukan malam hari dan memiliki arti tibo kukuh dalam penanggalan Jawa.

Baca Juga: Awali Buka Giling, PG Modjopanggung Tulungagung Gelar Manten Tebu

Kukuh, lanjut Gatut, bermakna kokoh. Ini menandakan keinginan pemkab untuk menjadi penopang yang kokoh dalam pemerintahan, yakni dengan cara bersinergi dengan seluruh jajaran di lingkup Pemkab.

“Hari ini saya melakukan boyongan dari rumah Gandong ke Pendapa di Tulungagung. Saya mencari hari ini adalah hari yang terbaik menurut keluarga kami. Hari ini kalau orang Mataraman tibo kukuh,” ujarnya, Jumat (7/3/2025) malam.

Gatut juga mengaku menerima instruksi khusus dari Gubernur Jatim untuk meningkatkan sinergitas Pemkab dengan Pemprov. Hal ini bertujuan untuk memastikan program yang dicanangkan di tingkat pusat bisa direalisasi secara paripurna di tingkat daerah.

Baca Juga: 3 Koper Diamankan KPK Dari Penggeledahan Kantor Pemkab Tulungagung

“Intinya, pemerintah daerah harus bersinergi dengan Pemprov, sesuai asta cita Pak Prabowo,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Boyongan Ndalem Keprabon Bupati Tulungagung, Fuad Saiful Anam menerangkan, agenda ini merupakan salah satu bentuk menjaga tradisi dan budaya Jawa.

Baca Juga: KPK Panggil Kepala OPD Saat Geledah Pemkab Tulungagung

Terdapat banyak makna di rangkaian prosesi boyongan, mulai dari pemilihan waktu, pemilihan barang-barang yang dibawa boyongan, hingga pemilihan atau penggunaan setelan Gatut Sunu.

“Ini dalam rangka nguri-uri budaya leluhur ya. Jadi orang Jawa masih punya ada seperti ini lihat banyak sekali tanda-tanda atau pralampito itu bagian dari doa sebenarnya,” pungkasnya.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.