Jumat, 19 Jun 2026 05:47 WIB

Keluhkan Masalah Upah, Sejumlah Relawan Dapur MBG di Sumenep Mundur

Ilustrasi MBG. (Foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)
Ilustrasi MBG. (Foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sejumlah relawan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumenep untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengundurkan diri. Hal itu disebabkan tidak jelasnya upah yang akan diterima oleh relawan.

Setidaknya ada empat relawan dapur bagian pencuci kotak makan yang mengundurkan diri. Sebelumnya, jumlah relawan di bagian itu sebanyak 16 orang kini tersisa 12 orang.

Baca Juga: Pulang dari Malaysia, Fauzi Bangun Layanan Keuangan Warga Kangean

Salah satu relawan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pekerjaan di dapur MBG cukup berat. Meski setiap bagian memiliki relawan masing-masing.

"Relawan ada beberapa bagian, yaitu yang menyiapkan bahan makanan, pencuci kotak makan, bagian masak, bagian menyajikan makanan dan yang mengantar makanan," ujarnya, Rabu (29/1/2025).

Ia menuturkan, jadwal pekerjaan di dapur cukup padat. Pukul 13.30 WIB hingga 01.00 WIB merupakan jadwal bagi relawan pencuci kotak makan. Lalu pukul 01.00 WIB hingga 10.00 WIB relawan bagian masak mulai bekerja.

"Kalau yang menyiapkan makan itu mulai dari jam 04.00 WIB sampai jam 11.00 WIB," imbuhnya.

Sedangkan relawan bagian menyiapkan bahan makanan akan bekerja mulai jam 15.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Menurutnya beban pekerjaan paling berat dirasakan relawan bagian mencuci kotak makan.

Baca Juga: Puji Program MBG, Bupati Jember: Bukan Sekadar Pemenuhan Gizi

"Apalagi tidak semua relawan mendapatkan jatah makan. Bahkan ada yang makan dari sisa makanan dari kotak makan siswa," ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga menyayangkan ketidakjelasan upah yang akan diterima para pekerja. Sebab, status pekerja merupakan relawan dan tidak memiliki kontrak kerja.

Sementara itu, Kepala Satu Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumenep, Mohammad Kholilurrahman mengonfirmasi adanya pekerja yang berhenti. Ia mengaku, pekerja bisa berhenti karena tak terikat kontrak.

Baca Juga: Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam

"Memang statusnya relawan jadi tidak ada kontrak. Bagi yang ingin berhenti silakan, karena memang tidak mengikat," jelasnya.

Ia mengaku, meski statusnya relawan, pihaknya akan memberikan upah yang akan dibayarkan tiap bulan. Namun, ia enggan menyampaikan besaran upah yang akan diterima para relawan.

"Kalau upah pasti ada. Memang hitungannya harian namun pembayarannya diakumulasikan perbulan," pungkasnya. 

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.