Minggu, 07 Jun 2026 00:14 WIB

Jangan Biarkan Kasus MBG Tenggelam

Kasus MBG harus menjadi pelajaran bersama bahwa program yang baik tidak otomatis menghasilkan tata kelola yang baik. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Kasus MBG harus menjadi pelajaran bersama bahwa program yang baik tidak otomatis menghasilkan tata kelola yang baik. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak yang semakin menarik. Bukan karena munculnya tersangka baru. Bukan pula karena nilai anggaran yang diduga terlibat sangat besar. Tetapi karena publik mulai melihat bahwa persoalan yang sedang dibuka bukan sekadar soal uang. Tapi yang sedang dibuka adalah cara kerja sebuah sistem.

Belakangan publik disuguhi berbagai pernyataan, bantahan, klarifikasi, hingga surat-surat bernada satir yang beredar di media sosial. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai drama. Sebagian lain melihatnya sebagai konflik internal para elite.

Baca Juga: MBG, Korupsi dan Kegagalan Tata Kelola Kebijakan

Tetapi menurut saya, justru di sinilah masyarakat harus semakin waspada. Sebab pengalaman bangsa ini menunjukkan bahwa tidak sedikit kasus besar yang pada awalnya menggegerkan dan meramaikan ruang publik, tapi seiring berjalanya waktu kasus tersebut pelan-pelan menghilang dari ruang publik sebelum seluruh fakta benar-benar terungkap.

Kita pernah menyaksikan bagaimana perhatian masyarakat begitu besar ketika sebuah kasus pertama kali meledak. Semua orang membicarakannya. Media memberitakannya setiap hari. Para pejabat berlomba-lomba memberikan komentar. Namun beberapa bulan kemudian publik mulai lelah.

Muncul isu baru. Datang skandal baru. Perhatian berpindah. Dan kasus lama akhirnya tenggelam. Padahal justru pada tahap-tahap akhir itulah fakta-fakta penting mulai muncul ke permukaan.

Karena itu, masyarakat tidak boleh berhenti pada rasa marah. Publik harus terus menjaga perhatian. Mengapa? Karena yang sedang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara. Yang dipertaruhkan adalah masa depan tata kelola program publik di Indonesia.

MBG bukan program biasa. Program ini menyangkut makanan anak-anak sekolah. Menyangkut kualitas generasi masa depan. Menyangkut harapan jutaan keluarga Indonesia.

Jika dalam program sebesar ini muncul dugaan praktik jual beli akses, jual beli pengaruh, atau permainan di sekitar penentuan titik layanan, maka yang harus dibongkar bukan hanya pelakunya. Itu memang penting dan harus. Tapi yang lebih penting adalah membongkar mekanismenya.

Bagaimana proses itu bisa terjadi? Siapa yang memberi ruang? Siapa yang memperoleh keuntungan? Siapa yang mengetahui tetapi memilih diam? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus dijawab secara terang-benderang.

Baca Juga: Diminati Karena Kualitas, Selada Hidroponik Lapas Lamongan Suplai Dapur MBG

Sebab korupsi di era modern seperti saat ini tidak lagi bekerja dengan cara-cara kasar. Tetapi bekerja melalui jaringan. Melalui prosedur. Melalui yayasan. Melalui rekomendasi. Melalui kedekatan. Melalui celah-celah yang secara administratif terlihat sah tetapi secara moral dan substansi justru merusak tujuan kebijakan.

Karena itu saya berharap aparat penegak hukum tidak berhenti pada aktor lapangan. Jangan berhenti pada nama-nama yang mudah terlihat. Tapi telusuri seluruh rantai pengambilan keputusan. Ikuti aliran uangnya. Ikuti aliran pengaruhnya. Ikuti siapa yang menikmati manfaat terbesar dari sistem tersebut.

Sementara itu masyarakat juga harus mengambil peran. Demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering kita memilih pemimpin. Demokrasi juga diukur dari seberapa kuat kita mengawasi kekuasaan setelah pemimpin itu terpilih.

Kasus korupsi MBG harus menjadi pelajaran bersama bahwa program yang baik tidak otomatis menghasilkan tata kelola yang baik. Niat baik tetap membutuhkan sistem yang baik. Dan sistem yang baik hanya dapat lahir dari pengawasan yang kuat.

Baca Juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Karena itu jangan biarkan kasus ini tenggelam. Jangan biarkan perhatian publik padam. Biarkan proses hukum berjalan sampai tuntas. Biarkan fakta dibuka seterang-terangnya.

Sebab hanya dengan keterbukaan itulah kepercayaan publik dapat dipulihkan. Dan dalam pembangunan bangsa, tidak ada aset yang lebih berharga daripada kepercayaan rakyat kepada negaranya sendiri.

Oleh: Ulul Albab
Akademisi Administrasi Publik, Ketua ICMI Jawa Timur

 

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.