Ritual Jamasan Pusaka Warga Pasuruan di Malam Satu Suro Bentuk Pelestarian Budaya
- Penulis : Ahaddiini HM
- | Rabu, 19 Jul 2023 08:08 WIB
jatimnow.com - Bermula dari kekhawatiran punahnya keris apabila tidak dilestarikan, Muhammad Nuh (36) warga Dusun Jagil Kecamatan Prigen, mendalami dunia keris hingga saat ini.
Terhitung sejak tahun 2018, kini Nuh telah memiliki beragam keris antara lain keris Yudho gati, Tresno gati, Mageti limo, Tilam upi, Sabuk intan, Brojol, Angkung, Mundharang, Kebo dengen dan
Sujen Ampel.
Baca Juga: Sengketa Lahan TNI AL dan Warga 10 Desa Pasuruan Temui Titik Terang di DPR RI
Di setiap Malam Satu Suro, Nuh mengadakan agenda wajib jamasan pusaka atau ngumbah keris terhadap semua keris yang dimilikinya. Bagi Nuh ini adalah sebuah adat yang harus dilestarikan.
"Ini adalah adat dan budaya yang masih dilakukan di setiap daerah sebagai bentuk nguri-uri budaya peninggalan para leluhur," ucapnya Selasa (18/7/23).

Baca Juga: Simak Rekayasa Lalu Lintas Dampak Pembangunan Jembatan Bokwedi Pasuruan
Nuh mengartikan lebih dalam mengenai konsep ideal terkait ritual jamasan pusaka.
"Secara bahasa jamas artinya membersihkan atau memandikan. Namun lebih dari itu, ritual jamasan adalah sebuah upaya perawatan, baik dari segi bentuk fisik atau metafisiknya. Hal ini menjadi sistem kontrol terhadap keberadaan pusaka-pusaka yang beredar di masyarakat agar senantiasa mendapat keberkahan dari do'a sang empu yang tertanam dalam wilah pusaka," pungkasnya.
Baca Juga: Dua Kali Diteror Molotov, Warga Pasuruan Ajukan Perlindungan LPSK

Nuh berharap adanya keris yang tetap dijaga dan dilestarikan tidak mendapat stigma negatif dari masyarakat. Tidak memandang kepada mistisnya, melainkan memberi nilai pada pemahaman sebagai sejarah dan bagian pegangan pedoman falsafah hidup bangsa Indonesia.
Editor : Endang Pergiwati