Jumat, 19 Jun 2026 13:06 WIB

Upaya Menjaga Sumber Air, Masyarakat di Tulungagung Gelar Tradisi Ulur-ulur

Prosesi upacara tradisi ulur ulur di Telaga Buret. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Prosesi upacara tradisi ulur ulur di Telaga Buret. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Masyarakat empat desa di Kecamatan Campurdarat, Tulungagung menggelar tradisi ulur-ulur di Telaga Buret.

Tradisi tersebut merupakan warisan leluhur dan menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian sumber air dan hutan di Telaga Buret. Air di telaga tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga di Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan dan Gamping.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Upacara diawali dengan arak-arakan ratusan masyarakat dengan membawa aneka sesajen yang diletakkan dalam tandu. Mereka kemudian meletakan sesajen di depan dua arca yang merupakan perwujudan dari Dewi Sri dan Joko Sedono. Kedua arca ini dipercaya sebagai simbol kemakmuran petani.

Arca tersebut dimandikan dan diberi hiasan berupa mahkota dari janur, serta kalung ronce bunga melati. Beberapa perwakilan kemudian menaburkan bunga di atas telaga.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Telaga Buret, Karsi Nero mengatakan tradisi tersebut selalu digelar pada Jumat Legi pada Bulan Selo dalam sistem kalender jawa.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Upacara ini sebagai bentuk syukur atas melimpahnya air di telaga tersebut. Meskipun dalam musim kemarau panjang, air di Telaga Buret tidak pernah mengalami kekeringan.

"Sudah sejak dahulu, air Telaga Buret memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya para petani di empat desa. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur masyarakat mengadakan upacara ulur-ulur di Telaga Buret," ujarnya, Jumat (09/06).

Upacara adat ini sebenarnya tidak sekedar tradisi kebudayaan semata. Tetapi, juga sebagai upaya pelestarian lingkungan. Karena banyak masyarakat yang meyakini bahwa ulur-ulur dapat menjaga sumber air Telaga Buret dari kekeringan.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Menurut Karsi kebudayaan dan ekologi memiliki korelasi yang saling mengikat. Adanya tradisi ulur-ulur ini menunjukan bahwa nenek moyang telah meninggalkan sebuah hukum alam untuk menjaga kelestarian air dan hutan.

"Saat ini area konservasi Telaga Buret mencapi 22,8 hektare. Selain itu juga terdapat greenbelt seluas 60 hektare. Ditambah adanya tradisi ulur-ulur, membuat kelastarian air tetap terjaga," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.