Kamis, 18 Jun 2026 03:27 WIB

Mengenal Ithuk-Ithukan, Tradisi Merawat Sumber Mata Air di Banyuwangi

  • Penulis :
  • | Rabu, 25 Jul 2018 17:14 WIB
Bupati Anas dan Danlatamal V Laksamana Pertama TNI Edwin saat mencoba ithuk-ithukan/Foto: istimewa
Bupati Anas dan Danlatamal V Laksamana Pertama TNI Edwin saat mencoba ithuk-ithukan/Foto: istimewa

jatimnow.com – Masyarakat Suku Osing memiliki kekayaan tradisi yang tak lekang oleh zaman. Salah satu-satunya adalah ithuk-ithukan yang terus dijalani warga Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya sumber mata air di desa.

Siang itu puluhan ibu warga Dusun Rejopuro berbaris rapi dalam busana khas Suku Osing. Yang laki-laki mengenakan baju hitam-hitam dan kaum perempuannya memakai kebaya hitam dan bawahan jarik Banyuwangi.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Di atas kepala mereka tersunggi baskom berisi ithuk-ithukan yang di dalamnya ada makanan menu sederhana. Ithuk adalah bahasa setempat yang berarti alas makan yang terbuat dari daun pisang. Ratusan Ithuk tersebut siap diarak warga dusun dengan berbagai menu lainnya, seperti ingkung ayam bakar.  

Usai berdoa bersama, arak-arakan tersebut lalu dilepas oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Istimewanya, Komandan Pangkalan Laut Utama (Danlatamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin, S.H juga turut meramaikan acara tersebut.

Danlantamal Edwin hadir dalam rangka meresmikan kampung sidat, yang merupakan program kolaboratif antara pemkab dengan TNI AL.

“Tradisi ini adalah salah satu wajah Indonesia dimana nilai-nilai  gotong royong dan kebersamaan menjadi energi yang menyatukan warga. Saya bangga dengan Banyuwangi, disini meskipun daerahnya terus maju dan modern tapi tidak meninggalkan adat tradisi yang di dijaga oleh warga,” kata Danlatamal Edwin.

Arak-arakan dimulai dari pusat pemukiman Rejopuro menuju sumber air yang bernama Sumber Hajar. Lalu ithuk-ithuk tersebut dimakan bersama-sama setelah berdoa bersama di sumber air tersebut. Sumber Hajar sangat penting bagi masyarakat Rejopuro karena air nya yang sangat melimpah dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebutuhan sehari hari.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mengajarkan untuk menjaga keseimbangan alam. Kenduri yang digelar di sumber air, lanjut dia, menandakan begitu pentingnya setiap manusia untuk menjaga sumber air sebagai salah satu sumber kehidupan manusia.

"Kami akan terus menjada tradisi semacam ini di tengah moderenitas yang terus tumbuh. Tradisi yang diwariskan leluhur ini, menunjukkan bagaimana kita manusia harus menghormati dan menjaga alam ini dengan bijaksana," ujar Anas.

Sesepuh Dusun Rejopuro, Sarino mengatakan, tradisi ithuk-ithukan ini digelar setiap 12 Dulqaidah (bulan ke sebelas penanggalan Hijriyah). Tradisi ini ini selain sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat dari Yang Maha Agung atas sumber daya alam yang melimpah, ini juga digelar agar masyarakat bisa saling kepethuk (bertemu-red).

"Ithuk ini juga diambil dari kata kepethuk. Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya,” ujar Sarino.

Baca Juga: Banyuwangi Jadi Pilot Project, PTPN I Tanam 10 Ribu Kelapa Genjah demi Hilirisas

Tradisi ini, imbuh Sarino, merupakan bentuk syukur warga atas sumber air di desanya yang melimpah dan tidak pernah kering. Dengan sumber air itu, maka warga bisa mengairi sawah dan melakukan aktifitas lainnya di sumber tersebut.

“Berkat sumber air itu pula, hidup kami di sini jadi terasa nikmat, warga menjadi dekat satu sama lain dan mudah memaafkan,” kata Sarino.  Itu sebabnya, imbuh Sarino, dusun ini dinamakan Dusun Rejopuro. Rejo artinya ramai, Puro artinya memaafkan.

Penulis/editor: Arif Ardianto

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.