Selasa, 16 Jun 2026 10:16 WIB

Para Pegiat Seni Jaranan Banyuwangi Melepas Kangen Tampil di Hajatan

  • Penulis : Rony Subhan
  • | Minggu, 01 Nov 2020 16:59 WIB
Para pegiat seni jaranan Banyuwangi saat tampil di sebuah acara hajatan
Para pegiat seni jaranan Banyuwangi saat tampil di sebuah acara hajatan

jatimnow.com - Para pelaku kesenian jaranan atau kuda lumping di Banyuwangi tampil cukup puas meski hanya empat jam. Mereka melepas kangen dengan berekspresi di acara hajatan di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Minggu (1/11/2020).

Agus Samir (41), salah satu pemilik seni jaranan barong kumbo dan barong keblak mengatakan, meski pertunjukan hanya empat jam, mereka tetap menyediakan peras berupa sesajen. Sebab menurutnya, barong-barong yang mereka buat semua memiliki khodam.

Baca Juga: Besutan Melangkah ke Jakarta, Bawa Misi Menyelamatkan Ludruk

Menurut Agus, jaranan atau kuda lumping adalah seni tari yang bisa dibilang cukup ekstrem. Terkadang tubuh penarinya harus rela disusupi makhluk gaib.

Agus menambahkan, hampir satu tahun kesenian jaranan miliknya tak pentas akibat Pandemi Covid-19. Dan saat ini mereka bisa tampil dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Hampir satu tahun tidak pernah tampil. Bukan uang saja yang tidak kita dapatkan, tetapi pelaku seni kita sudah kangen bawa barong," tambah Agus di lokasi.

Salah satu penonton seni jaranan di Banyuwangi kesurupanSalah satu penonton seni jaranan di Banyuwangi kesurupan

Baca Juga: Mahasiswa FIK Ubaya Sabet Tiga Gelar di Asian Student Fashion Week 2026

Jaranan di Banyuwangi identik dengan barong. Sekilas mirip barong asal Bali, tetapi tak sama. Selain suara gamelan yang rancak, barong mempunyai ciri khas tersendiri.

"Di Banyuwangi, barong bermakna petua hidup seperti halnya di Pulau Bali, barong di sini punya sejarah dan arti kehidupan. Itu semua dari nenek moyang kita," terang Agus.

Di sekitar lokasi pertunjukan, sebagian penonton banyak yang kesurupan. Mereka adalah komunitas pecinta jaranan, yang tidak hanya datang dari lingkungan desa, tapi juga dari luar desa.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

"Saya datang dari luar desa, ke sini hanya ingin melepas kerinduan melihat budaya leluhur jaranan barong," tutur Jaini (38), salah satu penonton.

Hampir semua penonton memakai masker dan juga berusaha menjaga jarak. Sampai acara selesai banyak penonton yang masih kesurupan dan belum bisa sadar.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.