Minggu, 14 Jun 2026 19:35 WIB

New Normal, Bupati Anas Kenalkan Wisata Banyuwangi ke Diaspora Dunia

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

jatimnow.com - Simulasi new normal pariwisata yang dilakukan Pemkab Banyuwangi diperkenalkan kepada para diaspora Indonesia di berbagai penjuru dunia.

Hal ini disampaikan dalam seminar daring yang diselenggarakan oleh Kelana Anantara Nusa, Jumat (12/6/2020) malam.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Acara yang dipandu oleh Tendi Naim itu diikuti puluhan peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia. Seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia.

Pemandu acaranya sendiri bertempat di Kualalumpur, Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas paparkan bagaimana visi pariwisata Banyuwangi di tengah masa pandemi.

"Ada perbedaan strategis era sebelum Covid-19 dan new normal ini dalam dunia pariwisata. Kita perlu paradigma baru agar bisa memenangkan persaingan pariwisata dengan alternatif destinasi daerah lainnya," ujar Anas dalam siaran pers yang diterima redaksi, Sabtu (13/6/2020).

Anas mencontohkan soal sumberdaya manusia (SDM) pariwisata.

"Dulu jualannya keramahan dan kompetensi, tapi sekarang SDM-nya juga harus sehat. Pelaku wisata harus jualan bahwa semua stafnya sehat, diperiksa berkala, diberi vitamin dan sebagainya," ujarnya.

Lalu, pengaturan jam pelayanan. Era sebelum Covid-19, pelayanan 7 hari sepekan. Di era new normal, harus ada waktu libur.

"Harus ada jeda untuk evaluasi kesehatan dan kebersihan, untuk atur sampah dan sebagainya," paparnya.

"Kini kami juga memprioritaskan sertifikasi kebersihan dan kesehatan. Standar itu kini wajib ada karena itu menjadi 'jualan' ke wisatawan. Banyuwangi berinisiatif menerapkan sertifikasi tanda new normal bisnis kuliner, dan berlanjut ke hotel, rent car, destinasi. Ini semacam legitimasi karena berdasarkan disupervisi Dinas Kesehatan, maka sebuah tempat layak disematkan lolos standar new normal," jelasnya.

Anas juga mengatakan, akan mendorong wisata sehat dengan mengandalkan wisata alam yang menjadi andalan Banyuwangi selama ini. Banyuwangi telah menjadi cagar biosfer dunia serta sedang diajukan menjadi jaringan geopark dunia.

"Pemkab juga mendorong setiap destinasi menjual makanan sehat. Kekayaan hasil pertanian Banyuwangi ini berlimpah. Ini jadi modal utama kami pula," cetus Anas.

Baca Juga: Pariwisata RI Terancam Konflik Global, Ini Strategi Amankan Turis

Terkait atraksi wisata, Anas menjelaskan bahwa kini Banyuwangi secara perlahan menerapkan kuota di setiap pertunjukan. Artinya, kapasitas destinasi dan atraksi harus diatur.

"Kami perbanyak atraksi seni di sejumlah ruang publik. Sanggar seni tetap bergerak, namun standar keamanan tetap dijaga. Lalu ada aplikasi, begitu orang mau beli tiket tapi di dalam kapasitas sudah tidak bisa, ya otomatis tertolak," jelasnya.

Anas mengaku terus melakukan simulasi dan uji coba untuk pengembangan pariwisata Banyuwangi di era normal baru tersebut.

"Kami optimis melakukan semua persiapan. Apalagi, hasil survey Traveloka menempatkan Banyuwangi di posisi ke-3 sebagai destinasi domestik yang diminati wisatawan setelah pandemi di bawah Bali dan Yogyakarta. Di atas Lombok dan Labuan Bajo yang masing-masing peringkat 7 & 9," kata Anas.

Komitmen ini diapresiasi oleh pembicara lainnya, Direktur Jatim Park III Suryo Widodo. Menurutnya, Banyuwangi memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan dunia wisata.

"Tidak hanya memiliki potensi alam dan budaya yang amat kaya, Banyuwangi saya kira juga memiliki visi yang jelas dalam pariwisata. Seperti halnya penerapan aturan yang jelas, perizinan investasi wisata yang dipermudah dan kenyamanan berusaha," ungkap Suryo Widodo.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Para diaspora tersebut pun menyampaikan hal yang sama. Banyak langkah-langkah yang diambil oleh Banyuwangi memiliki prinsip penerapan yang tak jauh berbeda dengan pariwisata di sejumlah negara. Seperti halnya yang disampaikan oleh salah satu diaspora asal Kyoto, Jepang.

"Di sini (Jepang), pariwisata juga sudah mulai dibuka. Pola penerapannya juga tak jauh berbeda dengan apa yang telah diterapkan di Banyuwangi," ungkapnya.

Di Banyuwangi sendiri sudah dilakukan sejumlah simulasi new normal pariwisata. Seperti halnya di Agro Wisata Tamansuruh, Taman Gandrung Terakota, sejumlah hotel, restoran hingga sentra kuliner di Taman Blambanga.

"Kita evaluasi simulasi ini secara bertahap, sebelum pemerintah pusat benar-benar memberlakukan new normal, kita telah siap terlebih dahulu," pungkas Anas.

 

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.