Senin, 22 Jun 2026 08:01 WIB

Kisah Sumur Mumbul Pasuruan, Sumber Air Tumpuan Warga di Musim Kemarau

  • Penulis : Moch Rois
  • | Minggu, 29 Sep 2019 16:37 WIB
Salah satu warga mengambil air bersih yang keluar dari Sumur Mumbul Pasuruan
Salah satu warga mengambil air bersih yang keluar dari Sumur Mumbul Pasuruan

jatimnow.com - Sebuah sumur tua yang berada di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, menjadi jujugan warga setempat dan sekitar, di saat kemarau panjang dan kekeringan melanda. Sumur tua itu dikenal dengan nama Sumur Mumbul.

Sesuai namanya, Sumur Mumbul ini memiliki air yang melimpah. Bahkan hingga kini, air itu masih bisa dinikmati ribuan masyarakat desa setempat, hingga warga desa tetangga.

Baca Juga: Sengketa Lahan TNI AL dan Warga 10 Desa Pasuruan Temui Titik Terang di DPR RI

"Dahulu waktu saya kecil, saat musim kemarau, sumur ini kering. Akhirnya, ayah saya (Tarji) setiap tahun menyewa tukang gali sumur untuk menperdalamnya," jelas Heni Kusuma (47), anak Tarji.

Hingga pada tahun 1985 silam, dua orang tukang gali sumur memperdalam sumur tersebut. Kedua orang itu dikejutkan dengan munculnya sumber air besar dari dalam sumur.

"Salah satu penggali sumur itu namanya Pak Mansur, satunya saya lupa. Jadi, saat sumber besarnya keluar itu, mereka berdua cepat-cepat memanjat keluar sumur. Seperti balapan sama airnya yang naik ke atas," kisah suami dari Yudhi (50) ini.

Saat itu, sumber air yang keluar dari dalam sumur akhirnya meluber hingga ke atas, sehingga membuat warga sekitar heboh. Selama satu minggu, air yang muncul itu berwarna putih seperti susu. Setelah itu, air berubah jadi jernih.

Heni Kusuma, menunjukkan Sumur Mumbul, milik orangtuanyaHeni Kusuma, menunjukkan Sumur Mumbul, milik orangtuanya

Dari peristiwa itulah, lanjut Heni, masyarakat desa setempat menyebutnya dengan Sumur Mumbul.

"Di tahun pertama sampai dapat dua tahunan, sumur ini banyak didatangi orang sakit. Banyak orang digotong untuk dimandikan di sumur ini. Karena banyak disalahgunakan, akhirnya sumur ini ditutup oleh pemerintah," ungkapnya

Baca Juga: Simak Rekayasa Lalu Lintas Dampak Pembangunan Jembatan Bokwedi Pasuruan

Kini, luberan air dari sumur mumbul itu dipipanisasi masuk ke dapur rumah-rumah penduduk desa. Untuk pengelolaannya, diatur oleh masing-masing Ketua RT secara musyawarah.

"Meski sumur ini berada di dalam tanah orangtua saya, namun baik orangtua saya dulu ataupun saya sekarang, tidak menarifnya kepada setiap orang yang mengambil air. Semuanya gratis," paparnya.

Tidak hanya ke rumah warga, air dari sumur tersebut juga dinikmati secara gratis oleh para santri yang belajar di Pondok Pesantren yang tidak jauh dari Sumur Mumbul.

"Derasnya aliran air yang keluar dari dalam sumur ini tak seperti dulu. Karena sekarangkan mulai ada sumur bor," tambahnya.

Baca Juga: Dua Kali Diteror Molotov, Warga Pasuruan Ajukan Perlindungan LPSK

Dan pada saat musim kemarau datang seperti sekarang, debit air Sumur Mumbul yang keluar jadi menurun. Sehingga, ada sebagian rumah warga yang tidak teraliri air dari pipa Sumur Mumbul. Kondisi inilah bisa membuat antrean panjang terjadi.

"Kalau kemarau mas, yang antre bisa panjang mas," jelas Cahyono (40), warga Dusun Gelatik, Desa Glagahsari, yang saat itu mengambil dua galon air dari Sumur Mumbul untuk keperluan masak dan minum.

Sementara, Rudi (44), warga Desa Kesiman, Kecamatan Sukorejo, yang saat itu membawa tiga drum kecil mengaku, air sumur miliknya di musim kemarau ini hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci kedelai buat usaha tempe miliknya. Sehingga untuk minum dan memasak, ia mengambil air Sumur Mumbul ini.

"Air di sini (Sumur Mumbul) jernih dan segar. Lebih jernih dari air sumur bor yang ada di sisi timur Desa Glagah sini," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.