Sabtu, 20 Jun 2026 05:37 WIB

Dua Dusun di Banyuwangi Akhiri Konflik Setelah Berseteru 17 Tahun

Acara Pengajian dan Santunan Anak Yatim di Banyuwangi
Acara Pengajian dan Santunan Anak Yatim di Banyuwangi

jatimnow.com - Setelah 17 tahun lamanya berseteru warga kampung Cantuk Lor dan Cantuk Kidul, Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi ini akhirnya islah alias rukun kembali.

Penduduk dari dua dusun yang telah lama berseteru itu kini telah akur dan Kamis (21/2/2019) malam menjadi momen menggembirakan bagi seluruh masyarakat di desa tersebut.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Sejak perdamaian tersebut disepakati, kini tidak ada lagi sebutan untuk warga kampung Cantuk Lor maupun Cantuk Kidul berganti dengan nama Dusun/Desa Cantuk. Perdamaian tersebut dikemas dalam sebuah Pengajian dan Santunan Anak Yatim.

Disaksikan oleh Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi, beberapa ulama, tokoh masyarakat Cantuk Kidul dan Cantuk Lor, serta seluruh anak-anak, pemuda hingga orang dewasa di desa tersebut.

Uniknya, yang mempersatukan kedua warga dari dua kampung tersebut adalah anak dari dua tokoh masing-masing kampung tersebut yang selama ini dianggap sebagai panutan.

Mereka adalah Febriana Safitri atau putri dari Fauzi seorang tokoh di kampung Cantuk Kidul dengan Tesa Mellina, putri Masbudi tokoh kampung di Cantuk Lor. Kedua anak perempuan itu ternyata teman seangkatan di Pondok Pesantren Gontor.

Fauzi mengatakan, bahwa selama 17 tahun terakhir dirinya tidak pernah bertegur sapa dengan tokoh atau panutan dari desa Cantuk Lor. Namun berkat putrinya, kini mereka merasa telah tersadarkan.

"Mulai detik ini tidak ada Cantuk Lor, Cantuk Kidul, yang ada Dusun Cantuk, semuanya warga Cantuk. Atas nama keluarga saya banyak salahnya, saya minta maaf," kata Fauzi dihadapan 500 lebih warga yang malam itu memadati lokasi.

Sedangkan, Masbudi yang juga Kepala Desa Cantuk menceritakan, awal dari perdamaian itu setelah putrinya akan kembali Ponpes Gontor beberapa minggu yang lalu. Sebelum kembali, anaknya ingin menjenguk Febriana Safitri dirumahnya.

Mendengar hal itu, dirinya mengaku kaget dan bingung. Tetapi karena rasa malu kepada anaknya dirinya memberanikan diri untuk mengantarkan putrinya itu ke rumah Fauzi.

Sewaktu anaknya turun dari mobil di depan rumah Fauzi, Tesa disambut pelukan oleh Febriana. Namun dirinya masih enggan turun dari mobil yang dikemudikannya.

"Anak saya sudah peluk-pelukan pas turun dari mobil, dan saya malah dihampiri oleh Fauzi dan diajak turun. Seketika itu saya langsung turun dan memeluk Fauzi. Setelah 17 tahun tidak pernah ngomong," jelasnya.

Baca Juga: Sandang Status Tersangka, Kades di Probolinggo Masih Hirup Udara Bebas

Dengan perdamaian ini, kata Masbudi, perseteruan akibat perbedaan dukungan pada Pilkades di desa itu yang diduga sebagai pemicu perseteruan yang berkepanjangan berakhir.

"Apabila ada yang mengusik perdamaian ini, maka saya dan Fauzi bersepakat akan mengundang dan menyelesaikan secara bersama-sama," kata dia.

Sementara itu, Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi mengatakan, bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan salah satu perbuatan yang ridhoi oleh Allah. Jangan dirusak, mari kita tutup lembaran-lembaran lama itu dan membuka lembaran baru.

Perdamaian ini, kata Taufik, dapat menjadi inspirasi terutama bagi desa-desa lain yang masih berseteru di wilayah Negara Indonesia akibat perbedaan pilihan Calon Kepala Desa.

"Mari kita jaga perdamaian ini, kita rawat. Mari kita buka lembaran baru untuk memajukan daerah kita masing-masing," kata AKBP Taufik.

Ratusan orang, yang saat itu hadir dalam pengajian dan menyaksikan momentum tersebut juga terlihat haru dan bergembira dari peristiwa tersebut. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dikabarkan juga menghadiri acara Pengajian dan Santunan Anak Yatim sekaligus momentum perdamaian tersebut.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

 

 

 

 

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.