Minggu, 07 Jun 2026 20:35 WIB

Bus Misterius, Banyuwangi-Mojokerto Hanya 3 Jam

  • Penulis :
  • | Sabtu, 31 Mar 2018 16:22 WIB
ilustrasi/istimewa
ilustrasi/istimewa

jatimnow.com - Kisah ini terjadi pada sekitar pertengahan 2008 silam. Dialami seorang warga Mojokerto yang berkunjung ke rumah sahabatnya di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.

Tak sengaja, dia menumpang bus super cepat saat perjalanan pulang dari Banyuwangi ke Mojokerto. Sebut saja namanya Raden. Tak pernah terbayangkan dia akan mengalami fenomena perjalanan darat yang aneh.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

Menempuh perjalanan Banyuwangi-Mojokerto berjarak sekitar 290 Km, hanya 3 jam. Normalnya dibutuhkan waktu 6 jam dengan menumpang bus umum.

Saat itu, kata Raden, dia berkunjung ke rumah Paijo, sahabatnya di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Dia menumpang bus dan turun di terminal Jajag.

Dihitungnya, perjalanan Mojokerto-Banyuwangi memakan waktu sekitar 6 jam. Beberapa hari dia berada di Banyuwangi, akhirnya Raden berpamitan pulang.

Sekitar pukul 20.00 WIB dia diantar Paijo ke terminal Jajag hanya selemparan batu saja. Untuk ke Mojokerto, Raden harus menumpang bus jurusan Banyuwangi-Surabaya (transit), baru dilanjutkan bus ke Mojokerto.

Setengah jam berlalu, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Raden yang memilih menunggu di depan terminal mulai penat berdiri. Hingga kemudian, datang sebuah Bus.

Raden mengaku tak lagi menghiraukan trayek bus tersebut. Yang dipikirkan, semua bus yang mengarah ke Surabaya, bisa mengantarkannya.

Saat naik ke bus dia melihat beberapa tempat duduk terisi penumpang. Saat bersamaan dia ditanya kondektur Bus kemana tujuannya. Lantas dia menuju ke kursi barisan tengah lajur kiri yang kosong. Belum sempat duduk, bus langsung berjalan meninggalkan calon penumpang lainnya.

"Pintu bus langsung ditutup dan berjalan, saya sempat heran kenapa cuma saya yang naik bus. Padahal ada calon penumpang lainnya," kenangnya.

Sesaat kemudian kondektur bus menghampiri Raden untuk meminta uang tiket ke Raden. Saat ditanya berapa ongkosnya, sang Kondektur hanya menjawab jika tarif tiket harus dibayar dengan nilai yang ganjil. Tidak menerima nilai uang genap.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

"Saya bertambah heran, akhirnya saya kasih Rp 70 ribu, karena yang ada di saku celana ya itu," tambahnya.

Selama perjalanan Raden tak melihat sama sekali bus yang ditumpangi menaikan dan menurunkan penumpang lagi. Tidak ada pemandangan aneh yang dilihat dan dirasakan. Kecuali semua penumpang dan crew bus diam seribu bahasa. Suasana hening meski penumpang tidak tidur.

"Beberapa lama, eh saya sudah sampai di Mojokerto dan diturunkan persis depan rumah. Padahal, rumah saya masuk dari jalan raya masih masuk 100 meter. Jalan raya itu juga tidak dilalui trayek bus," kenangnya lagi sembari terpingkal.

Saat itu dia tak percaya. Dilihatnya jam tangan menunjukan pukul 24.00 WIB. Dia tak percaya begitu saja. Dilihatnya jam dinding di kamarnya ternyata menunjukkan waktu yang sama. Yang artinya dia tidak lebih dari 3 jam menempuh perjalanan Banyuwangi-Mojokerto.

"Dari Jajag waktu itu sekitar jam 9 malam kok, lah kok sampai di rumah jam 12 malam. Aneh tapi juga enak perjalanan jadi cepat," ungkapnya.

Baca Juga: Banyuwangi Jadi Pilot Project, PTPN I Tanam 10 Ribu Kelapa Genjah demi Hilirisas

Meski begitu dia mengaku sama sekali tidak takut. Hingga 10 tahun kejadian itu berlalu, dia masih penasaran dengan sosok bus misterius tersebut.

Dimana perjalanan seolah-olah melalui jalan Tol Banyuwangi-Mojokerto. Yang memangkas perjalanan separuh waktu sendiri.

"Semoga ada Tol Banyuwangi-Mojokerti ya, biar kalau saya ke Banyuwangi cepat," tutupnya sembari terbahak.

Reporter: Irul Hamdani

Editor: Erwin Yohanes

Editor : Erwin Yohanes
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.