Senin, 22 Jun 2026 21:31 WIB

UMKM Kuliner Jatim di IIFEX 2026, Bertahan dan Tumbuh di Tengah Perubahan Zaman

Pengunjung antri mencicipi soup kaki sapi khas Nyonya Lim di stand Rose Brand dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Pengunjung antri mencicipi soup kaki sapi khas Nyonya Lim di stand Rose Brand dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Langkah kaki para pelaku usaha ultra-mikro hingga pemilik ratusan cabang restoran berbaur menjadi satu di lantai pameran EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 yang digelar oleh Krista Exhibitions di Grand City Convention Hall Surabaya.

Dari obrolan gayeng di stan demo masak hingga negosiasi serius di meja Business Matching, ajang tahunan yang berlangsung pada 18–21 Juni 2026 bertransformasi menjadi jembatan hidup yang mempertemukan keringat pelaku usaha lokal dengan jejaring rantai pasok pangan global.

Baca Juga: EastFood Indonesia Expo 2026 Dibuka, 180 Peserta Ramaikan Surabaya

Geliat dinamis ruang pameran seketika dipenuhi asa oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menyelinap di antara jejeran stan, tepatnya di salah satu booth binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Heni Wardhani sibuk melayani pengunjung.

Perempuan asal Malang yang akrab disapa Mamani tersebut tidak berhenti merespons para pemburu informasi yang tertarik menjalin kerja sama bisnis. Dirinya bukan sekadar menawarkan botol-botol sambal racikannya, melainkan sedang menjemput peluang usaha jangka panjang.

Heni Wardhani sibuk melayani pengunjung di stan Disperindag Jatim dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Heni Wardhani sibuk melayani pengunjung di stan Disperindag Jatim dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Mamani merupakan satu dari 30 pelaku UMKM makanan dan minuman (mamin) binaan terpilih yang beruntung mendapatkan fasilitas stan gratis dari Disperindag Jatim dalam pameran dagang Business-to-Business (B2B) skala internasional tersebut. Bagi perajin sambal siap saji merek Mama Ni, momen berharga tahun ini menjadi batu loncatan penting untuk menggeser strategi bisnis.

"Menurut saya, acara pameran seperti sangat bagus. Pameran tersebut merupakan tahun kedua saya ikut. Tahun lalu saya mengikuti hampir seluruh rangkaian pameran yang diselenggarakan Krista Exhibitions, mulai dari Yogyakarta, Surabaya, Bali, hingga Jakarta," tutur Mamani membuka obrolan di sela kesibukannya, Sabtu (20/6/2026) malam.

Dirinya mengenang bagaimana perjuangan pada tahun-tahun sebelumnya untuk bisa tampil di pameran bergengsi. Biasanya, lanjut Mamani, dia bergabung bersama Komunitas BBB (Berbagi Bersama Berkembang), sebuah jaringan pemberdayaan pelaku usaha lokal dan UMKM.

Dalam satu kali pameran, ada sekitar 16 UMKM yang ikut setelah melalui proses kurasi ketat lantaran jumlah anggota komunitas cukup banyak. Tim BBB yang menentukan siapa saja yang berhak berangkat.

"Biaya keikutsertaan biasanya ditanggung bersama, sehingga setiap peserta hanya mendapatkan area yang tidak terlalu luas. Sementara untuk pameran kali sekrang, saya difasilitasi oleh Disperindag sehingga mendapatkan stan yang lebih lega," jelasnya dengan raut wajah penuh syukur.

Bapi Mamani, keberadaan panggung pameran berskala internasional bukan sekadar ajang pamer produk. "Menurut saya, acara seperti sangat bermanfaat bagi UMKM maupun calon pebisnis. Mereka bisa mendapatkan banyak ide baru, mulai dari peluang menjadi reseller hingga inspirasi untuk memulai usaha sendiri," katanya.

Melihat capaian usahanya saat ini, orang mungkin tidak menyangka bahwa bisnis sambal botolan miliknya dibangun dari bawah dengan merangkak. Mamani mengenang bahwa ia merintis usaha tersebut dari titik nadir dengan modal awal yang terbilang sangat minim, yakni hanya Rp100 ribu.

Perempuan asal Malang tersebut awalnya hanya membuat sambal untuk konsumsi pribadi setelah terinspirasi oleh salah satu merek sambal terkenal di Surabaya. Berangkat dari pengalaman itu, ia mencoba meracik sambal versinya sendiri hingga akhirnya memberanikan diri mulai memasarkannya secara resmi pada 2 September 2013.

"Saat pertama kali dijual, produk saya hanya memiliki satu varian sambal. Sekarang sudah berkembang menjadi 25 varian sambal reguler. Selain itu, kami juga mengembangkan berbagai bumbu masak dan produk lainnya," papar perempuan berlatar belakang pendidikan akuntansi tersebut.

Kini, strategi bisnisnya mulai bertransformasi secara radikal. Mamani tidak lagi bertumpu penuh pada pasar ritel konvensional. "Saat ini kami mulai mengembangkan kerja sama B2B, salah satunya dengan restoran dan kafe. Di Malang, saya sudah bekerja sama dengan beberapa restoran dan kafe yang menggunakan produk kami," ungkapnya.

Ia membeberkan bahwa efek domino dari keikutsertaannya dalam pameran-pameran Krista Exhibitions sebelumnya membuahkan jaringan bisnis luar biasa di luar kota. Menurut Mamani, panggung pameran internasional semacam ini tidak hanya ampuh sebagai media promosi, melainkan juga membuka keran penjualan langsung sekaligus peluang kemitraan baru.

Dia mencontohkan pengalamannya saat mengikuti pameran di Bali, di mana dirinya sukses menggaet distributor dan sejumlah pelaku usaha setempat. Berkat jejaring di lantai pameran, sebuah toko frozen food kini resmi menjadi mitra distribusi produknya, dan beberapa restoran di Pulau Dewata mulai rutin memasok bumbu rawon serta bumbu gulai racikannya.

"Karena itu, saya merasa manfaat setelah pameran atau after sales-nya sangat besar. Mungkin hal tersebut yang membuat saya selalu tertarik untuk kembali mengikuti pameran," terangnya.

"Alhamdulillah, pada pameran kali penjualan saya cukup baik. Bahkan ada beberapa calon pembeli dalam jumlah besar yang menunjukkan minat untuk bekerja sama. Ada juga beberapa restoran yang berpotensi menjadi mitra bisnis ke depan. Jadi menurut saya, pameran seperti tidak hanya menghasilkan penjualan selama acara berlangsung, tetapi juga membuka peluang bisnis jangka panjang yang sangat menjanjikan," tambahnya.

Heni Wardhani melayani pengunjung di stan Disperindag Jatim dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Heni Wardhani melayani pengunjung di stan Disperindag Jatim dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Sebagai pelaku usaha yang peka terhadap pencatatan keuangan, Mamani tidak memungkiri adanya dinamika pasar pada gelaran tahun berjalan. Ia membeberkan bahwa biasanya dalam sekali pameran, dirinya mampu membawa sekitar 1.000 produk campuran dengan tingkat penjualan yang fluktuatif menyesuaikan kondisi lapangan.

Dibandingkan dengan periode sebelumnya, ia merasakan atmosfer kunjungan cenderung sedikit lebih lengang. Dirinya membandingkan dengan catatan tahun lalu, di mana dari 700 produk yang dibawa ke lantai pameran, lebih dari 600 botol di antaranya ludes terjual. Bahkan, saat dirinya mengikuti rangkaian pameran serupa di Bali dan Yogyakarta, hampir seluruh stok produk yang dibawanya habis tanpa sisa.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah usahanya yang berpusat di Malang. Pemasaran produknya kini sudah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, bahkan mulai merambah pasar luar negeri melalui sistem titip beli atau jastip hand carry. Langkah taktis tersebut diperkuat setelah dirinya terlibat aktif dalam agenda kedinasan.

"Pada April lalu saya juga mengikuti misi dagang bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dari kegiatan tersebut ada beberapa calon pembeli yang menunjukkan minat terhadap produk kami. Saya berharap usaha bisa terus berkembang sehingga mampu membuka lebih banyak lapangan kerja dan memberdayakan lebih banyak masyarakat," ungkapnya.

Saat ini, roda produksi Mama Ni digerakkan oleh belasan tenaga kerja di Malang. Ada lima orang khusus di bagian produksi, satu orang admin, sementara Mamani bersama suami dan anaknya terlibat langsung dalam manajemen usaha. Untuk urusan digital, mereka berkolaborasi dengan tenaga pemasaran dari luar perusahaan.

Kesadaran akan ketatnya kompetisi di era digital membuat Mamani terus memacu diri. "Saya juga rutin mengikuti berbagai pelatihan. Menurut saya, pelaku usaha harus terus belajar. Apalagi sekarang persaingan semakin ketat. Banyak pelaku usaha yang mampu menjual ratusan hingga ribuan produk melalui siaran langsung (live shopping). Kalau tidak mau belajar dan berkembang, kita bisa tertinggal," akunya terus terang.

Sejauh ini, mereka aktif berjualan melalui platform digital seperti Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia, meski kontribusi penjualan online saat baru sekitar 12 persen dari total omzet. Penjualan terbesar masih ditopang oleh toko oleh-oleh lewat jalur konsinyasi. Namun, sistem konsinyasi mulai dikurangi.

"Belakangan saya mulai mengurangi porsi penjualan melalui konsinyasi dan memperbesar kerja sama B2B karena lebih fleksibel dari sisi permodalan dan arus kas. Dalam kerja sama B2B biasanya ada sistem pembayaran uang muka sehingga lebih membantu perputaran usaha," urainya membagikan rahasia dapur finansialnya.

Saat ini, total portofolio produknya mencakup 25 varian sambal, delapan varian bumbu masak, dan satu produk rendang. Kehadiran fasilitas stan gratis dari Disperindag Jatim di IIFEX 2026 diakuinya sebagai berkah besar.

"Saya sangat bersyukur bisa mengikuti pameran tanpa biaya stan karena difasilitasi oleh Disperindag. Sebab jika menyewa stan secara mandiri, biayanya cukup besar," ucapnya.

Di pameran lain, kata dia, biaya sewa stan bisa mencapai jutaan rupiah untuk beberapa hari pelaksanaan. Meski demikian, mengikuti pameran tetap membutuhkan modal yang tidak sedikit.

"Kami harus menyiapkan sampel produk untuk dicicipi pengunjung. Dalam satu pameran, puluhan botol produk bisa habis hanya untuk kebutuhan sampel. Namun biasanya biaya tersebut terbayar karena banyak pengunjung yang kemudian melakukan pembelian ulang melalui WhatsApp maupun marketplace," paparnya.

Ia pun menitipkan harapan besar bagi keberlangsungan iklim usaha kecil di masa depan. Mamani berharap, penyelenggara pameran bisa memberikan dukungan yang lebih besar kepada UMKM. Misalnya dengan menyediakan area khusus UMKM yang lebih terjangkau atau mendapatkan fasilitas tertentu karena biaya pameran masih cukup tinggi bagi banyak pelaku usaha kecil. Di sisi lain, ia memuji langkah promosi penyelenggara.

"Saya melihat promosi pameran Krista sudah sangat baik, bahkan sudah menjangkau pasar internasional. Saat berkunjung ke Singapura, saya sempat melihat promosi acara mereka terpampang di area stasiun," tutur Mamani memberikan pengakuan atas agresifnya promosi pihak penyelenggara.

Di tengah bayang-bayang situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian serta kenaikan harga bahan baku mulai dari kemasan hingga plastik, Mamani punya cara cerdik agar usahanya tak oleng. Dirinya mengakui situasi ekonomi yang fluktuatif berimbas langsung pada lesunya penjualan yang dikeluhkan oleh banyak pelaku UMKM, termasuk atmosfer pameran tahun yang terasa lebih menantang.

Hantaman keras juga datang dari lonjakan harga bahan baku produksi, mulai dari komponen kemasan hingga bahan plastik yang terus merangkak naik. Guna menyiasati kondisi yang menjepit permodalan tersebut, dirinya mengambil langkah taktis dengan menggeser harga jual produk di pasaran.

"Misalnya, sambal yang sebelumnya kami jual Rp28 ribu, kini terpaksa disesuaikan menjadi Rp30 ribu per botol," tutur Mamani blak-blakan mengenai strategi dapurnya untuk bertahan.

"Dalam menentukan harga jual, saya menggunakan perhitungan harga rata-rata bahan baku selama beberapa bulan. Jadi saya tidak langsung menaikkan harga mengikuti harga tertinggi di pasaran. Dengan cara itu harga produk tetap bisa bersaing dan terjangkau oleh konsumen," tambah perempuan yang terbantu oleh ilmu akuntansinya tersebut.

Terlebih, sejak usahanya resmi berbadan hukum Perseroan Perorangan pada 2023, pintu program pemerintah dan peluang bisnis terbuka lebih lebar, walau ia harus disiplin melaporkan kegiatan usaha secara berkala agar Nomor Induk Berusaha (NIB) miliknya tetap aktif.

Langkah taktis memburu inovasi dan kemitraan di lantai pameran juga diadopsi oleh pelaku usaha yang skalanya sudah lebih mapan. Rido Mahfud, Co-Founder Ayam Geprek Doyan Ayam, sengaja menyusuri koridor Grand City untuk berburu penyegaran menu dan teknologi pendukung industri kuliner.

 Rido Mahfud, Co-Founder Ayam Geprek Doyan Ayam, melihat produk UMKM saat berada di gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com) Rido Mahfud, Co-Founder Ayam Geprek Doyan Ayam, melihat produk UMKM saat berada di gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Sejak awal berdiri, jaringan bisnisnya melejit hingga memiliki sekitar 300 cabang, dengan sekitar 150 cabang aktif yang beroperasi ketat hingga hari berjalan.

"Kalau ditanya apakah sudah masuk kategori perusahaan besar, saya rasa kami masih termasuk UMKM. Sebab, kalau dibilang besar, masih banyak usaha lain yang skalanya jauh lebih besar daripada kami," ujar Rido dengan rendah hati.

Baca Juga: IIFEX dan ALLPACK Surabaya 2026 Siap Perkuat Industri Pangan dan Kemasan

Bagi calon pebisnis yang tertarik meminang mereknya, Rido menjelaskan bahwa program kemitraan atau franchise Ayam Geprek Doyan Ayam membutuhkan nilai investasi berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta. "Nilai tersebut sudah termasuk perlengkapan yang cukup lengkap, meskipun ada beberapa pilihan paket yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan calon mitra," terangnya.

Kehadirannya di arena IIFEX 2026 membawa misi khusus untuk memperkuat struktur menu di ratusan gerainya. "Kehadiran kami di acara bertujuan untuk mencari calon partner baru. Kami ingin terus mengembangkan menu dan produk-produk baru. Syukur-syukur, kami bisa mendapatkan kerja sama yang baik di sini sehingga dapat membantu memperbesar dan mengembangkan usaha kami ke tingkat yang lebih tinggi," harapnya.

Dalam kunjungan berburunya malam itu, Rido kedapatan mencicipi beberapa produk sambal lokal yang dipajang. "Tadi saya juga membeli sambal. Saya mencoba sambal bawang karena memang itu salah satu produk bestseller. Untuk Ayam Geprek sendiri, sambal yang kami gunakan merupakan hasil pengembangan kami sendiri. Namun, dalam proses produksinya kami juga bekerja sama dengan perusahaan maklon," terangnya.

Fleksibilitas menjadi kunci utama bagi Rido untuk mempertahankan eksistensi bisnisnya di tengah gempuran tren kuliner modern.

"Pada dasarnya, menu kami cukup fleksibel. Produk-produk bestseller tetap kami pertahankan, tetapi kami juga memiliki menu musiman. Setiap tiga bulan sekali kami berupaya menghadirkan menu baru sehingga membuka peluang untuk kerja sama dan inovasi yang lebih luas. Menurut saya, inovasi memang harus terus dilakukan. Itu menjadi kunci agar usaha bisa tetap berkembang dan bersaing," tegas Rido.

Rido pun memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi pameran mamin terbesar di Jawa Timur tersebut. Menurutnya, gelaran tahun ini sangat menarik dan luar biasa. Ia mengaku cukup sering menghadiri pameran atau agenda serupa di Surabaya, terutama yang diselenggarakan di Grand City.

Baginya, di lokasi tersebut selalu ada hal baru yang bisa ditemukan dan selalu ada inovasi segar yang bisa dipelajari untuk pengembangan bisnisnya.

"Karena itu, saya tidak pernah bosan mengikuti acara semacam ini. Inovasi akan terus berjalan, sehingga event seperti sangat penting bagi para pelaku usaha untuk menambah wawasan, memperluas jaringan, dan meningkatkan level bisnis mereka ke tahap yang lebih tinggi," tuturnya.

Pengunjung antusias mencari informasi di gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Pengunjung antusias mencari informasi di gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Pertemuan ekosistem dari hulu hingga hilir di IIFEX 2026 melibatkan lebih dari 180 peserta lintas negara. Kehadiran para pemain global dirancang khusus membuka akses ekspor bagi produk mamin lokal lewat program Business Matching dan Hosted Buyer.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyampaikan bahwa melalui EastFood Indonesia Expo 2026, Krista Exhibitions Group ingin menghadirkan platform bisnis yang mampu mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman dari berbagai negara sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

“Pameran menjadi momentum strategis bagi pelaku industri untuk memperluas pasar, menjalin kemitraan, serta mengakselerasi pertumbuhan sektor makanan dan minuman yang terus menunjukkan tren positif di Indonesia. Kami berharap EastFood Indonesia Expo 2026 dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan industri, memperluas jaringan bisnis, dan membuka akses pasar yang lebih besar bagi pelaku usaha nasional maupun internasional,” ungkap Daud D. Salim penuh optimisme.

Tidak hanya urusan transaksi makro di atas kertas, pameran internasional tersebut menyajikan ruang kompetisi dan edukasi. Salah satu agenda unggulan yang memikat perhatian pengunjung adalah Bakat Boga Challenge 2026, sebuah kompetisi kuliner bergengsi yang lahir di Yogyakarta dan sukses menarik partisipasi para talenta kuliner dari berbagai daerah.

Kategori yang dipertandingkan sangat beragam, mulai dari Lapis Surabaya & Bolu Gulung Keju, Traditional Jajanan Pasar, Western Seafood Spaghetti & Chicken Main Course, hingga The Best Risoles & Classic Chiffon Cake.

Selain itu, ada ajang Indonesia Coffee Art Battle (ICAB) yang menghadirkan workshop dan talkshow edukatif bagi barista dan roaster nasional, disusul dengan rangkaian sesi Cooking Demo dan Baking Demo dari praktisi merek terkemuka seperti IndoBake, Kewpie, dan Rich’s.

Ketangguhan sektor makanan dan minuman dipertegas oleh data ekonomi makro yang dipaparkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman. Ia mengungkapkan bahwa industri mamin nasional tetap menunjukkan pertumbuhan positif yang mengagumkan meski berada di tengah tekanan tantangan geopolitik dan ekonomi global.

“Pada tahun lalu industri makanan dan minuman tumbuh 6,38 persen, sementara pada triwulan pertama 2026 mencapai 7,04 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Adhi.

Sektor strategis tersebut memberikan kontribusi masif sekitar 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas nasional. Menurut Adhi, kondisi tantangan ekonomi saat menuntut pelaku usaha untuk menolak pasif.

“Melalui pameran seperti ini, pelaku usaha dapat berbagi pengalaman, teknologi, dan inovasi baru sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan industri ke depan,” paparnya.

Sinyal pertumbuhan di sektor hilir sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dr. Endy Alim Abdi Nusa, yang hadir membuka acara mewakili Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, menyampaikan bahwa EastFood Indonesia Expo 2026 memiliki makna strategis yang mendalam bagi penguatan struktur ekonomi daerah.

Sektor industri pengolahan, khususnya mamin, menjadi jangkar utama bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang pada triwulan pertama 2026 berhasil tumbuh di angka 5,96 persen—menjadi catatan pertumbuhan tertinggi di seluruh Pulau Jawa.

Baca Juga: Rujak Uleg King Salmon, Inovasi Mewah Excotel di Festival Rujak Uleg 2026

“Jawa Timur merupakan produsen utama berbagai komoditas pangan nasional seperti jagung, cabai rawit, daging sapi, telur ayam, susu, tebu, garam hingga hasil perikanan tangkap. Potensi besar sektor hulu yang melimpah harus terus didorong untuk menghasilkan nilai tambah melalui industri pengolahan,” jelas Endy dengan lugas.

Ia menekankan pentingnya hilirisasi agar komoditas daerah tidak lekas keluar dalam bentuk mentah tanpa nilai ekonomi. Endy mencontohkan, komoditas peternakan seperti ayam tidak boleh hanya dijual sebagai daging potong biasa, melainkan harus diolah menjadi berbagai produk turunan siap konsumsi. Begitu pula dengan melimpahnya hasil perikanan tangkap yang mestinya dipasarkan dalam wujud produk olahan bernilai jual tinggi.

Pameran EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 menempati dua lantai, yakni lantai dasar dan lantai 3 Grand City Convention Hall Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Pameran EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 menempati dua lantai, yakni lantai dasar dan lantai 3 Grand City Convention Hall Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Endy menambahkan bahwa pameran bertindak sebagai wadah integratif yang mempertemukan seluruh elemen industri dari hulu hingga hilir. Pemprov Jatim mengapresiasi penuh komitmen penyelenggara yang terus memberikan karpet merah bagi pelaku UMKM untuk unjuk gigi di pentas internasional.

"Keterlibatan UMKM sangat penting agar mereka tidak hanya menjadi konsumen atau penonton, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai dan rantai pasok industri pangan nasional. Harapan kami, keikutsertaan UMKM tidak hanya berhenti pada promosi semata, tetapi mampu menghasilkan kemitraan usaha, perluasan pasar, peningkatan kapasitas bisnis hingga peluang ekspor yang nyata," tegas Endy melihat tingginya antusiasme pelaku usaha di lapangan.

Di sisi lain, megahnya atmosfer Grand City pada malam Minggu itu bertransformasi menjadi ruang belajar yang hangat bagi pelaku usaha ultra-mikro. Di sudut stan Rose Brand, tampak seorang perempuan paruh baya sedang berdiri dengan gayeng menikmati semangkuk kecil sup kaki sapi hangat.

Ia adalah sosok yang lebih suka dipanggil Ibu Adi, pelaku UMKM kuliner asal Sidoarjo. Sup kaki sapi yang dicicipinya dengan lahap merupakan racikan langsung dari Ny. Liem Bandung, pakar boga legendaris sekaligus pelopor toko kursus masak terkemuka.

Ibu Adi adalah potret nyata dari perjuangan akar rumput. Ia sengaja datang sendirian menaiki angkutan umum dari Sidoarjo menuju Surabaya demi seberkas ilmu baru untuk membesarkan bisnis rumahan yang dikelolanya bersama sang suami.

Usahanya bergerak di ranah digital, memanfaatkan jaringan pertemanan di aplikasi pesan singkat WhatsApp tanpa modal toko fisik maupun warung konvensional.

"Saya datang langsung ke acara untuk mencari kebutuhan usaha. Karena saya bergerak di bidang kuliner, yang saya cari tentu bahan-bahan yang diperlukan untuk UMKM saya, mulai dari bahan baku, kemasan, hingga ide-ide resep baru. Mungkin di sini ada hal-hal yang bisa menjadi pengetahuan dan pengalaman baru bagi saya," tutur Ibu Adi dengan mata berbinar optimis melihat deretan mesin dan kelengkapan bahan baku di hadapannya.

Bagi seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai penggerak ekonomi keluarga kecil, kelengkapan pameran internasional memberikan ruang adaptasi yang luar biasa. Saat ditanya kenapa memilih datang ke lokasi, ia mengakui bahwa acaranya sangat lengkap.

"Mulai dari alat berat, alat ringan, bahan baku eceran sampai bahan baku grosir, semuanya ada di sini," tegasnya.

Sedangkan untuk harganya, Ibu Adi mengaku relatif dan tidak jauh berbeda dengan pasaran. Namun hal yang menarik bagi dia sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku usaha, di IIFEX 2026 banyak hadiah dan program promosi yang memikat mata.

"Selain itu, ada juga kesempatan untuk berkonsultasi dan mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk usaha," ungkapnya.

Pengunjung berkerumun di stand Rose Brand dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Pengunjung berkerumun di stand Rose Brand dalam gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Sembari menyuap makanan, ia memuji kualitas masakan di stan tersebut. "Saat saya sedang mencicipi iga sapi dari Nyonya Lim. Rasanya mantap. Saya sudah tahu produk Nyonya Lim sebelumnya," selorohnya gayeng.

Ibu Adi menceritakan bahwa produk kuliner yang dijualnya dari rumah di Sidoarjo sangat beragam, mulai dari makanan basah hingga aneka camilan kering seperti keripik. Hingga kini, produknya dipasarkan tanpa menggunakan merek khusus, mengandalkan kepercayaan dari warga sekitar perumahan dan komunitas UMKM tempatnya bernaung.

"Nama saya cukup Bu Adi saja. Nama lengkap usaha belum ada, dan selama ini usaha yang saya jalankan merupakan usaha keluarga bersama suami saya. Saya juga mengenal beberapa teman dari komunitas UMKM. Saya masih dalam tahap belajar dan terus berusaha mengembangkan usaha," ucapnya jujur, merefleksikan semangat juang ribuan pelaku usaha kecil di Jawa Timur yang menolak pasrah pada keterbatasan.

Melalui ruang temu yang komplet di EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026, jalinan koneksi bisnis yang digagas lewat Hosted Buyer Program maupun interaksi cair di lantai pameran menjadi bukti otentik. Pameran dagang internasional tidak pernah berakhir sebagai tempat transaksi instan yang sesaat.

Untuk memudahkan pengunjung, Krista Exhibitions menyiapkan peta di setiap pintu masuk gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)Untuk memudahkan pengunjung, Krista Exhibitions menyiapkan peta di setiap pintu masuk gelaran IIFEX 2026 di Grand City Convention Hall Surabaya, Sabtu (20/6/2026) malam. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Keringat para pelaku usaha lokal, strategi cerdik pengalihan pasar, hingga keteguhan ibu rumah tangga yang berburu inovasi kemasan, secara perlahan namun pasti, bergerak bersama membentuk motor penggerak kokoh yang membawa produk kuliner Nusantara bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai pasok pangan global.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

DPW NasDem Jatim Tunjuk Soehadi Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Penunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi atas dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Mulyono selama memimpin dan membesarkan Partai NasDem di Kabupaten Bojonegoro.

Soehadi Moeljono Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Pertimbangan NasDem Bojonegoro

Pengalaman panjang dan kontribusi Mulyono dalam membangun struktur partai di Bojonegoro masih sangat dibutuhkan.

Kenang Almarhum Rektor, UIN KHAS Jember Pakai Pita Hitam di Liga Mahasiswa

Sebuah bingkai foto almarhum Prof. Hepni juga tampak dibawa ke tengah lapangan oleh para pemain UIN KHAS.

Tak Sekadar Hiburan, Musik Miliki Peran Krusial di Berbagai Elemen Kehidupan

Musik memegang peranan krusial yang menyentuh berbagai elemen kehidupan, mulai dari aspek sosial, edukasi, hingga menjadi identitas budaya suatu bangsa.

Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Adela Kanasya Adies menemui 1.000 relawan di Surabaya demi menjaga komunikasi politik pasca-PAW menggantikan politisi senior Adies Kadir.

Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya

Gus Yahya paparkan capaian organisasi, mulai dari tata kelola organisasi, kaderisasi terstruktur, transformasi digital, aset dan kemandirian, hingga peran kebangsaan dan global.