Pameran Fotografi Anak SD di Wisma Jerman Sajikan Cara Unik Melihat Dunia
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Selasa, 09 Jun 2026 09:35 WIB
jatimnow.com - Cara anak-anak memandang dunia menjadi tema utama dalam pameran fotografi bertajuk What We See yang digelar di Wisma Jerman Surabaya. Sebanyak 16 siswa anggota Klub Fotografi SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo menampilkan karya mereka kepada publik dalam pameran yang berlangsung pada 7-9 Juni 2026.
Melalui lensa kamera, para fotografer cilik merekam berbagai hal yang mereka temui sehari-hari, mulai dari ekspresi teman, permainan cahaya, sudut ruang, hingga momen sederhana yang sering terlewat dari perhatian orang dewasa.
Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang
Kurator pameran, Idealita Ismanto, mengatakan karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi dari arsip foto para siswa selama hampir tiga tahun mengikuti kegiatan fotografi.
“Pameran ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan karya mereka. Dari arsip selama hampir tiga tahun belajar, karya-karya terpilih menjadi pengingat bahwa fotografi dapat dipelajari siapa saja, termasuk anak-anak, dengan pendampingan yang tepat,” kata Idealita.
Sebanyak 16 siswa terlibat dalam pameran tersebut, di antaranya Rafardan Abhinara Atmaja, Brian Delta Ramadhan, Muhammad Rayyan Firdaus, Celine Justopo, Nicole Arno Priyono, Nelson Arno Priyono, Muhammad Ammar Faqih, Giannino Arkananta Byan, Helsa Emunahope, Estrella Dya Kumaralalita, Leona Sarah Emyra, Jasmine Alyka Fernanda, Deandra Rahmi Davintio, Keanu Pramono Dewa, Ibrahim Maliq Parsa, dan Keanu Pramono.
Kepala SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, Ririn Indriyanti, mengaku bangga melihat hasil karya para siswanya yang mampu mengolah pengamatan menjadi cerita visual.
“Melalui pameran What We See, anak-anak menunjukkan kemampuan mereka mengamati, merasakan, dan menceritakan dunia di sekitar dengan cara yang unik. Setiap foto bukan sekadar hasil jepretan kamera, melainkan cerminan kreativitas, kepekaan, dan keberanian mereka dalam mengekspresikan diri,” ujarnya.
Menurut Ririn, pengalaman berpameran diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk terus berkarya dan percaya pada potensi yang dimiliki.
Pandangan serupa disampaikan Management Advisor Wisma Jerman, Mike Neuber. Ia menilai pameran tersebut memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat dunia dari perspektif anak-anak.
Baca Juga: Eksplorasi Visual Mahasiswa Unitomo Lewat Pameran RUPA, Hadirkan 21 Karya Foto
“Sebagai orang dewasa, kita mungkin tidak selalu melihat sesuatu dari sudut pandang anak. Padahal, kita juga bisa belajar dari cara mereka memahami lingkungan sekitar. Pameran seperti ini sangat berharga karena membuka wawasan baru bagi kita,” kata Mike.
Ia berharap karya para peserta dapat menginspirasi pengunjung untuk memandang hal-hal biasa dengan cara yang berbeda.
Foto-foto yang dipamerkan menampilkan beragam tema dan pendekatan visual. Ada potret anak yang mengintip dari balik lubang tembok, ekspresi spontan teman-teman sebaya, hingga eksperimen fotografi dengan kecepatan rana rendah yang menghasilkan bentuk-bentuk abstrak.
Salah satu peserta pameran, Celine Justopo, mengaku menikmati proses belajar fotografi yang dijalaninya selama ini.
“Seru dan menyenangkan. Aku bisa memotret serta membuat foto yang menarik. Ilmu fotografi yang aku pelajari juga dipakai di rumah untuk membantu memotret produk jualan papa,” tuturnya.
Baca Juga: Kopi dan Kamera, Ketika Lensa dan Kopi Merayakan Inklusi Diri
Selain menampilkan karya fotografi, penyelenggara juga menggelar diskusi yang menghadirkan pendiri Disabilitas Berkarya, Leo Arif Budiman. Dalam sesi tersebut, ia berbagi pengalaman mengenai proses pembelajaran fotografi beserta tantangan yang dihadapi.
Pameran What We See menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan cerita tentang keseharian, rasa ingin tahu, dan kreativitas melalui medium visual.
Karya-karya yang dipajang memperlihatkan kepekaan khas anak-anak yang jujur, segar, dan kerap menghadirkan makna baru dari hal-hal yang terlihat sederhana.
Pameran terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi titik temu antara anak-anak, praktisi seni visual, pendidik, serta masyarakat luas yang ingin melihat dunia dari perspektif berbeda.
Editor : Ali Masduki