Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang
- Penulis : Ali Masduki
- | Rabu, 01 Apr 2026 15:41 WIB
jatimnow.com - Aroma masa lalu dan riuh narasi sosial menyeruak di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang. Ruang tersebut berubah menjadi panggung dialektika seni visual lewat pameran bertajuk "Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual" yang berlangsung hingga 2 April 2026.
Dua fotografer dengan latar belakang berbeda, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya, berkolaborasi menyuguhkan perspektif segar tentang kekayaan tradisi lokal.
Baca Juga: Meimura Bawa Ludruk Besutan ke Kampus, Sentil Eksploitasi Alam Mojokerto
Pameran ini bukan sekadar pajangan estetis, melainkan upaya merekam jejak arkeologi, benda bersejarah, hingga aksara nusantara yang mulai terlupakan oleh generasi muda.
Sofan Kurniawan, fotografer Jawa Pos Radar Mojokerto lulusan ISI Yogyakarta, mencuri perhatian lewat subjek bertajuk "Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan".

Melalui bidikan kameranya, Sofanka memotret sisi lain pemain Ludruk laki-laki yang memerankan sosok perempuan (travesti).
Bagi Sofanka, gincu dan kostum travesti bukan hanya urusan panggung hiburan. Ia membedah bagaimana tubuh-tubuh ini memikul beban sejarah yang berat. Di era Orde Baru, Ludruk sempat dibungkam karena dianggap sebagai alat propaganda politik tertentu.
"Melalui lensa, saya melihat kompleksitas tubuh travesti sebagai simbol ekspresi sekaligus perlawanan sosial. Meski sempat dibekukan, Ludruk terbukti mampu bangkit kembali dan tetap menjadi hiburan akar rumput di pelosok desa," ungkap Sofanka saat menjelaskan karyanya.
Sementara itu, Luhur Wahyu Wijaya mengambil jalur dokumentasi tradisi yang lebih tenang namun mendalam.
Baca Juga: Meimura Bawa Ludruk Garingan ke Nganjuk, Bedah Filosofi Sambang Putu
Pegiat foto budaya yang juga berprofesi sebagai ASN di Pemkab Jombang ini mengusung tema "Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru".

Luhur memotret bagaimana kesenian klasik ini berjuang mencari celah agar tetap relevan di era gempuran budaya pop.
Karya-karyanya menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus mati, asalkan ada upaya untuk terus menghidupkannya dalam medium-medium baru.
Di sudut lain ruangan, pengunjung disuguhi deretan artefak arkeologi dan keindahan aksara nusantara yang selama ini hanya tersimpan di gudang sejarah. Kolaborasi teks dan visual ini memberikan pengalaman literasi yang berbeda bagi publik.
Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir
Seorang pengunjung, Saskia, mengaku terkesan dengan kedalaman materi pameran kali ini. Menurutnya, pameran ini berhasil menyederhanakan sejarah yang rumit menjadi sajian visual yang mudah dicerna.
"Banyak hal baru yang saya dapatkan, baik dari sisi visual maupun cerita di balik foto-fotonya. Ini cara belajar sejarah yang tidak membosankan," kata Saskia.
Eksibisi ini menjadi ruang langka bagi warga Jombang untuk melihat kembali identitas budayanya secara kritis.
Sebelum tirai pameran foto ditutup pada 2 April mendatang, masyarakat masih memiliki kesempatan untuk menyelami dialektika seni ini secara langsung.
Editor : Ali Masduki