Kamis, 18 Jun 2026 02:04 WIB

Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Pakar Ungkap Pola Penularan dan Bahayanya

Virus (ilustrasi). (Foto: Magnific)
Virus (ilustrasi). (Foto: Magnific)

jatimnow.com – Kemunculan kasus hantavirus yang memicu gangguan pernapasan berat pada penumpang kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini menyita perhatian dunia. Pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unait), Laura Navika Yamani memberikan analisis komprehensif terkait pola penyebaran dan risiko ancaman penyakit zoonosis tersebut.

Laura menegaskan bahwa infeksi hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan yang tertutup rapat seperti kapal pesiar. Kuat dugaan, paparan virus sudah terjadi sebelum perjalanan dimulai atau saat penumpang berada di wilayah yang menjadi reservoir hewan pengerat, yaitu tikus.

Baca Juga: Pemanasan Global Dorong Migrasi Tikus Pembawa Hantavirus ke Pemukiman

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung hingga beberapa minggu. Sehingga, wajar jika kasus atau gejala klinis baru muncul ketika individu tersebut sudah berpindah lokasi atau sedang dalam pelayaran,” jelas Laura di Surabaya, Sabtu (9/5/2026).

Berbeda dengan beberapa virus menular lainnya, hantavirus utamanya menular melalui udara atau inhalasi. Manusia dapat terinfeksi ketika menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi oleh urine, feses, atau air liur dari hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan ini tidak selalu membutuhkan kontak fisik secara langsung dengan hewan pembawa virus.

Laura pun menggarisbawahi sebagian besar strain hantavirus tidak menular antarmanusia (human-to-human transmission). Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ada strain tertentu, seperti virus Andes, yang memiliki rekam jejak kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia.

"Oleh karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah krusial untuk memastikan pola penularan yang sedang terjadi di klaster tersebut," tekannya.

Di sisi lain, faktor lingkungan disinyalir menjadi katalis penyebaran virus zoonosis ini. Perubahan iklim serta pergeseran habitat satwa membuat aktivitas manusia—seperti tren ekowisata di wilayah baru—memperbesar peluang kontak dengan sumber penyakit yang sebelumnya terisolasi di pedalaman.

Baca Juga: Ancam Ginjal hingga Paru-Paru, Pakar Ungkap Cara Cegah Hantavirus

Dari kacamata klinis, Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair ini membeberkan bahwa gejala awal hantavirus kerap mengecoh karena bersifat tidak spesifik. Gejala awal meliputi demam tinggi, kelelahan ekstrem, hingga gangguan pencernaan (gastrointestinal).

Fase kritis terjadi ketika gejala tersebut memburuk secara drastis menjadi pneumonia berat hingga memicu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan syok. Pada kondisi infeksi berat yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), pasien membutuhkan intervensi medis intensif secepat mungkin.

“Pada kasus HPS, tingkat fatalitas (fatality rate) sangat mengkhawatirkan, yakni dapat mencapai 30 hingga 50 persen, terutama jika penanganan medis terlambat dilakukan,” urai Laura.

Baca Juga: Kasus Hantavirus di Kabupaten Kediri Nihil, Dinkes Minta Warga Jaga Kebersihan

Guna meredam eskalasi dan mencegah kasus serupa di masa depan, Laura mendorong penerapan pendekatan One Health—sebuah strategi terpadu yang menyelaraskan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem lingkungan secara bersamaan.

Langkah mitigasi yang harus segera diperkuat meliputi penguatan sanitasi di fasilitas publik dan transportasi massal, pemantauan gejala penyakit secara ketat, serta komunikasi risiko yang transparan kepada masyarakat luas.

“Dalam era mobilitas lintas batas yang semakin masif, kesiapsiagaan sistem kesehatan, deteksi dini, dan surveilans genomik mutlak diperlukan untuk membendung penyebaran virus secara global,” pungkasnya.

Editor : Dadang Kurnia
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.