Pemanasan Global Dorong Migrasi Tikus Pembawa Hantavirus ke Pemukiman
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Jumat, 29 Mei 2026 12:05 WIB
jatimnow.com – Dampak pemanasan global merambah pada ancaman kesehatan masyarakat secara langsung. Perubahan iklim dan kerusakan habitat memaksa hewan pengerat, khususnya tikus, bermigrasi secara masif ke area pemukiman padat penduduk.
Fenomena ini memicu alarm tanda bahaya terhadap ancaman hantavirus, penyakit zoonosis mematikan yang menular dari hewan ke manusia. Pakar virologi Universitas Airlangga (Unair), Shelly Wulandari, memperingatkan bahwa mitigasi dan pemahaman terhadap perilaku hewan pembawa virus menjadi kunci utama mencegah lonjakan penularan.
Baca Juga: Ancam Ginjal hingga Paru-Paru, Pakar Ungkap Cara Cegah Hantavirus
"Pemanasan global memicu tikus keluar dari habitat alami untuk mencari tempat yang lebih nyaman dan sumber makanan di pemukiman penduduk. Situasi ini, apalagi jika ditambah musim hujan atau banjir, akan melipatgandakan risiko penularan," jelas Shelly, Jumat (29/5/2026).
Tantangan terbesar dalam mendeteksi hantavirus adalah sifatnya yang asimtomatik (tanpa gejala) pada inang alaminya. Berbeda dengan hewan sakit pada umumnya, tikus cokelat yang terinfeksi hantavirus tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan fisik, meskipun tubuhnya membawa beban virus yang sangat tinggi.
"Hewan pengerat yang terinfeksi tidak tampak sakit secara fisik. Oleh karena itu, identifikasi keberadaan virus pada populasi hewan di lapangan tidak bisa dilihat secara kasat mata, melainkan harus melalui uji laboratorium seperti ekstraksi organ ginjal," papar dosen teknologi veteriner tersebut.
Karena wujudnya yang tampak sehat, masyarakat sering kali lengah terhadap potensi bahaya mematikan yang dibawa oleh hama rumah tangga tersebut.
Migrasi tikus ke pemukiman warga menciptakan kondisi yang disebut zoonotic spillover, yakni situasi dimana kontak antara satwa liar pembawa virus dan manusia menjadi sangat intensif.
Baca Juga: Kasus Hantavirus di Kabupaten Kediri Nihil, Dinkes Minta Warga Jaga Kebersihan
Shelly menjelaskan bahwa penularan hantavirus tidak selalu harus melalui gigitan. Virus ini dapat bertahan di lingkungan sekitar dan menular ke manusia melalui inhalasi partikel debu yang telah terkontaminasi oleh urine, feses, hingga air liur tikus yang mengering.
Untuk mencegah wabah, langkah preventif utama harus difokuskan pada manajemen pengendalian populasi tikus dan penerapan biosekuriti lingkungan, yakni menjaga kebersihan area rumah dari akses hewan liar.
Lebih lanjut, Shelly memberikan peringatan serius mengenai potensi mutasi genetik dari virus ini di masa depan jika tidak segera dikendalikan.
Baca Juga: PMI Surabaya Latih Relawan Antisipasi Hantavirus dan Wabah
"Meskipun awalnya Hantavirus hanya menular dari hewan ke manusia, adanya mutasi genetik pada strain tertentu memungkinkan terjadinya transmisi antarmanusia," tegasnya.
Oleh karena itu, pengawasan atau surveilans ketat terhadap kesehatan populasi hewan pengerat di area urban harus menjadi benteng pertahanan pertama.
Tenaga ahli teknologi veteriner kini memegang peran vital untuk mendeteksi potensi mutasi sejak dini demi mencegah fatalitas Hantavirus yang dikenal memiliki tingkat kematian cukup tinggi pada manusia.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-84910-pemanasan-global-dorong-migrasi-tikus-pembawa-hantavirus-ke-pemukiman