Pakar Ungkap Bahaya El Nino Godzilla 2026 dan Langkah Mitigasinya
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Rabu, 29 Apr 2026 08:29 WIB
jatimnow.com – Ancaman kekeringan panjang kembali membayangi Indonesia. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat peluang kemunculan fenomena iklim El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Senada dengan NOAA, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Indonesia berpotensi menghadapi El Nino ekstrem yang intensitasnya menyamai rekor terkuat di masa lalu, atau yang belakangan santer disebut publik sebagai El Nino Godzilla.
Baca Juga: DPRD Minta Pemkab Jember Lakukan Hal Ini untuk Hadapi El Nino Godzilla
Menanggapi alarm bahaya iklim tersebut, Pakar manajemen bencana Unair, Dr. Hijrah Saputra mendesak pemerintah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi sejak dini guna meminimalisir dampak destruktif, terutama pada sektor ketahanan air dan pangan.
Hijrah meluruskan bahwa sebutan El Nino Godzilla sejatinya bukanlah terminologi ilmiah, melainkan istilah populer di media untuk memvisualisasikan betapa dahsyatnya intensitas fenomena alam tersebut.
“El Nino biasa itu ibarat orang demam dengan suhu tubuh 38 derajat celsius. Sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan demam parah hingga 40 derajat atau bahkan lebih,” jelas Hijrah.
Secara ilmiah, El Nino terjadi akibat melemahnya angin pasat yang memicu pergeseran massa air laut hangat dari perairan Indonesia menuju Pasifik Tengah dan Timur. Kondisi ini membuat suhu permukaan laut di Pasifik melonjak drastis, dengan anomali mencapai 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal.
Akibatnya, pusat pembentukan awan hujan ikut bergeser ke arah Pasifik. Hal inilah yang mengakibatkan curah hujan di Indonesia menipis, sehingga memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang dari biasanya.
Lebih lanjut, Hijrah menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diukur menggunakan metrik Oceanic Nino Index (ONI). Kategori El Nino diklasifikasikan menjadi lemah (0,5–0,9), sedang (1–1,4), kuat (1,5–1,9), dan sangat kuat atau ekstrem (≥2). Jika angka ONI menembus lebih dari 2, saat itulah julukan Godzilla disematkan.
Baca Juga: BMKG Ungkap Peta Kemarau Jatim 2026: Mayoritas Kering Mulai Mei
Dampak dari El Nino ekstrem ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika tidak diantisipasi, Indonesia berisiko menghadapi rentetan bencana turunan. Mulai dari krisis air bersih yang meluas, lonjakan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gagal panen massal, hingga terganggunya rantai pasok pangan. Secara global, fenomena ini juga berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida.
Sebagai wujud antisipasi dini, Hijrah merumuskan empat langkah mitigasi strategis yang harus segera dieksekusi oleh para pemangku kebijakan.
Pertama, memaksimalkan daya tampung dan pengisian bendungan, waduk, serta embung selagi masih ada curah hujan sebelum periode puncak kemarau tiba.
Kedua, menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan di wilayah-wilayah yang dipetakan paling rawan mengalami kekeringan ekstrem dan karhutla.
Baca Juga: Jawa Timur Waspada Kekeringan, 811 Desa Berpotensi Terdampak
Ketiga, sektor pertanian harus segera melakukan percepatan masa tanam untuk memanfaatkan sisa kelembaban tanah dan ketersediaan air yang ada saat ini.
Keempat, mendorong masyarakat untuk melakukan diversifikasi konsumsi pangan lokal sebagai bentuk adaptasi jangka panjang terhadap perubahan iklim ekstrem yang mengancam produksi beras.
“Langkah-langkah strategis ini sangat krusial dan harus dilakukan sejak awal. Mitigasi yang terencana akan sangat membantu meminimalkan dampak buruk El Nino Godzilla, khususnya dalam menyelamatkan sektor air bersih dan ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Editor : Dadang KurniaURL : https://jatimnow.id/baca-84113-pakar-ungkap-bahaya-el-nino-godzilla-2026-dan-langkah-mitigasinya