Minggu, 14 Jun 2026 11:25 WIB

Kemdiktisaintek Mau Tutup Prodi, Pakar Singgung Warisan Orde Baru

Konsep kesesuaian antara kampus dan kebutuhan pasar kerja memang terdengar ideal untuk menekan angka pengangguran. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Konsep kesesuaian antara kampus dan kebutuhan pasar kerja memang terdengar ideal untuk menekan angka pengangguran. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyisir dan melakukan penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak laku di pasar kerja memicu alarm peringatan.

Kebijakan tersebut dinilai kian mengukuhkan wajah pendidikan Indonesia yang sekadar menjadi bengkel pencetak buruh industri, ketimbang ruang pengembangan intelektual.

Baca Juga: Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, melihat langkah pemerintah merupakan kelanjutan pola lama. Menurutnya, arah pendidikan nasional sejak era Orde Baru hingga sekarang masih terjebak dalam diksi pembangunan dan modernisasi yang sangat kaku.

"Sejak dulu kita mengenal istilah pembangunan hingga konsep link and match dengan dunia usaha," ujar Radius saat memberikan keterangan, Selasa (28/4/2026).

Konsep kesesuaian antara kampus dan kebutuhan pasar kerja memang terdengar ideal untuk menekan angka pengangguran. Namun, Radius memberikan catatan tajam.

Ia menilai mekanisme tersebut berisiko melahirkan manusia robot yang kehilangan daya kritis karena seluruh orientasi hidupnya hanya tertuju pada materi dan pekerjaan fisik di sektor manufaktur atau jasa.

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Radius mengamati narasi 'mengejar ketertinggalan' yang kerap digaungkan pemerintah hanya menjadi legitimasi untuk menyeret kampus ke dalam logika pasar bebas. Masyarakat dipaksa meninggalkan cara pandang lama demi mengejar standar modern yang didefinisikan oleh industri.

"Praktiknya menyerupai pasar bebas. Negara mendisiplinkan institusi pendidikan agar tunduk pada kepentingan pemodal. Terjadi semacam mitos bahwa maju atau tidaknya seseorang hanya diukur dari kecocokannya dengan kebutuhan pabrik," tegasnya.

Fenomena ini, lanjut Radius, merupakan bentuk nyata dari neoliberalisme pendidikan. Pemerintah tidak lagi campur tangan secara frontal, melainkan lewat regulasi yang memaksa mahasiswa mengontrol diri sendiri agar laku dijual.

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Kakarobot, Robot Edukasi Tanpa Gawai untuk Anak 3T

Kompetisi antarindividu pun tak lagi soal kualitas keilmuan, melainkan soal siapa yang paling siap pakai untuk kepentingan bisnis.

Kecenderungan marketisasi ini dianggap sangat berbahaya bagi masa depan demokrasi. Jika prodi-prodi yang dianggap 'tidak menghasilkan uang' terus dipangkas, ruang untuk mendiskusikan gagasan, etika, dan kritik sosial akan semakin menyempit.

"Pendidikan hari ini didorong mengikuti keinginan pasar. Ini adalah bentuk determinasi ekonomi terhadap dunia akademik yang seharusnya merdeka," pungkas Radius.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.