Kisah Unik Wisuda ITS, Pemuda 20 Tahun & Pria 65 Tahun Kompak Lulus Cumlaude
- Penulis : Ali Masduki
- | Senin, 20 Apr 2026 12:58 WIB
jatimnow.com - Wisuda ITS ke-133 menghadirkan potret kontras yang mengena bagi publik. Seorang sarjana berusia 20 tahun dan seorang doktor berusia 65 tahun sama-sama lulus dengan prestasi tinggi. Dari ruang yang sama di Grha Sepuluh Nopember, keduanya mengirim pesan kuat, akses dan semangat belajar tak dibatasi umur.
Rochman Sugiarto menjadi wisudawan termuda ITS dalam prosesi tersebut. Ia menyelesaikan studi Teknik Material dan Metalurgi pada usia 20 tahun 1 bulan dengan predikat magna cumlaude dan IPK 3,77. Di sisi lain, Siens Harianto, wisudawan tertua, meraih gelar doktor Manajemen Teknologi pada usia 65 tahun dengan IPK 3,67.
Baca Juga: Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat
Perjalanan Rochman terbilang cepat sejak awal. Ia menempuh program akselerasi sejak SMP hingga SMA, memangkas masa pendidikan menengah menjadi empat tahun. Dukungan keluarga membuatnya mantap melanjutkan pola tersebut.
“Karena saya bisa bertahan saat SMP, orang tua mendukung saya ikut akselerasi di SMA,” ujarnya.
Wisudawan termuda pada Wisuda ke-133 ITS Rochman Sugiarto (kiri) saat menerima ijazah dari Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)
Masuk perguruan tinggi pada usia 16 tahun, Rochman memilih bidang material dan metalurgi karena melihat peluang industri yang luas. Aktivitasnya tak hanya di kelas. Ia aktif dalam organisasi, kepanitiaan, hingga menjadi asisten laboratorium.
“Tantangan terbesar ada pada pembagian waktu, tapi saya menikmati prosesnya,” kata pemuda asal Sidoarjo tersebut.
Tugas akhirnya menyoroti isu lingkungan. Ia meneliti konversi karbon dioksida menjadi metanol menggunakan kombinasi material tertentu. Topik tersebut lahir dari kegelisahan terhadap polusi udara sekaligus peluang pemanfaatan limbah gas menjadi produk bernilai.
Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter
Berbeda arah, Siens Harianto menapaki jalur akademik pada usia yang tak lagi muda. Ia memulai studi doktoral di usia 59 tahun sebagai bagian dari angkatan pertama programnya. Enam tahun kemudian, ia menuntaskan disertasi dengan hasil memuaskan.
Motivasi utamanya bersumber dari keyakinan pribadi dan keinginan meninggalkan jejak bagi keluarga.
“Saya ingin menjadi pembelajar sepanjang hayat dan memberi warisan bagi anak serta cucu,” ucapnya.
Proses tersebut tidak ringan. Ia berkali-kali mengganti topik disertasi di setiap tahap ujian. Kondisi fisik dan daya ingat yang menurun juga menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Kakarobot, Robot Edukasi Tanpa Gawai untuk Anak 3T
“Dengan tertatih, saya mengumpulkan argumen satu per satu sampai akhirnya menjadi disertasi,” tuturnya.
Kisah dua wisudawan dari generasi berbeda itu memperlihatkan dampak nyata pendidikan, membuka peluang bagi siapa pun, baik yang melaju cepat maupun yang memulai kembali di usia matang.
Pesan yang mereka bawa sederhana namun kuat, yakni konsistensi dan kemauan belajar tetap menjadi kunci, apa pun titik awalnya.
Editor : Ali Masduki