Pernikahan Dini Picu Stunting, Gus Fawait Siapkan Sekolah Berdaya di Jember
- Penulis : Sugianto
- | Jumat, 17 Apr 2026 11:00 WIB
jatimnow.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember mengambil langkah strategis untuk memutus mata rantai pernikahan dini yang selama ini menjadi akar masalah tingginya angka stunting serta angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Menggandeng tokoh pendidikan nasional pendiri Sekolah Cikal, Najelaa Shihab, Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) menyiapkan intervensi khusus berbasis ekosistem melalui program Sekolah Berdaya.
Baca Juga: Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember
Komitmen kolaborasi tersebut ditegaskan Gus Fawait saat membuka pagelaran talkshow peringatan Hari Kartini bertajuk “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (15/4/2026).
“Masalah pernikahan dini dan persoalan pendidikan lainnya tidak bisa diselesaikan oleh bupati atau kepala dinas saja. Perlu kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga keluarga,” kata Gus Fawait.
Gus Fawait menyoroti fakta miris di lapangan bahwa banyak kasus stunting di daerahnya lahir dari kehamilan ibu yang usianya masih sangat belia, di mana organ reproduksinya belum siap secara medis.
Sebagai wujud nyata perlawanan terhadap budaya pernikahan dini, Pemkab Jember saat ini tengah mematangkan cetak biru (blueprint) program Sekolah Berdaya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jember Capai 6,35 Persen, Tertinggi di Kawasan Sekar Kijang
Program ini tidak akan dipukul rata, melainkan dikustomisasi menggunakan pendekatan berbasis karakteristik demografi wilayah. Edukasi dan intervensi yang diberikan akan disesuaikan dengan kultur masyarakat di kawasan perkotaan, perdesaan, hingga masyarakat pesisir pantai.
Langkah progresif Gus Fawait tersebut menuai apresiasi tinggi dari Najelaa Shihab. Sebagai praktisi pendidikan yang sukses membangun institusi pendidikan inklusi berbasis kompetensi dari jenjang PAUD hingga SMA, Najelaa menilai Jember telah melakukan lompatan paradigma yang tepat.
“Pendidikan tidak hanya soal sekolah, tetapi juga keluarga dan isu sosial, termasuk pernikahan anak. Ini pendekatan yang masih jarang dilakukan pemerintah daerah,” jelasnya.
Baca Juga: Kecewa Harga Mentimun Rp500 per Kg, Petani Jember Bagikan Panen Gratis
Najelaa berharap gebrakan Pemkab Jember ini tidak hanya berhenti sebagai program seremonial, tetapi menjadi role model (proyek percontohan) praktik baik bagi kabupaten/kota lain di Tanah Air.
"Ini bukan sekadar program, tapi bagaimana semua pihak berkolaborasi untuk menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya.
Editor : Dadang Kurnia