Sejarah dan Filosofi Ketupat Sebagai Simbol Idulfitri
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Sabtu, 21 Mar 2026 14:45 WIB
jatimnow.com - Ketupat atau kupat adalah makanan khas Nusantara yang identik dengan perayaan Idulfitri. Bentuknya yang unik, beras dimasak dalam anyaman daun kelapa muda, menjadikannya bukan sekadar hidangan, melainkan simbol budaya yang sarat makna filosofis.
Dalam tradisi Jawa, kata kupat berasal dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Kupat menjadi lambang permintaan maaf dan penyucian diri setelah Ramadan, sehingga kehadirannya di meja makan saat Lebaran memiliki makna spiritual yang mendalam.
Baca Juga: Update Arus Balik: 1,15 Juta Kendaraan Lintasi Tol Pandaan-Malang
Anyaman daun kelapa muda (janur) yang membungkus beras melambangkan keterikatan sosial. Kehidupan manusia penuh masalah, namun dengan kesabaran dan kebersamaan, semuanya bisa tersusun rapi seperti anyaman kupat.
Kupat diyakini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak. Beliau menggunakan kupat sebagai media dakwah kultural, menggabungkan ajaran Islam dengan simbol lokal agar lebih mudah diterima masyarakat Jawa.
Di Jawa, kupat disajikan saat Idulfitri dan Lebaran Ketupat (8 Syawal). Hidangan ini biasanya dipadukan dengan opor ayam, sambal goreng ati, dan rendang, menjadi simbol kebersamaan keluarga dan masyarakat.
Baca Juga: Tol Gempol-Pandaan Mulai Landai, Jasa Marga Tetap Siagakan Skenario Antrean
Sementara masyarakat Sunda juga mengenal kupat, namun lebih sering disebut tupat. Filosofinya mirip dengan Jawa, yakni pengakuan kesalahan dan permintaan maaf, tetapi penyajiannya sering dipadukan dengan sayur labu atau gulai khas Sunda.
Di Madura, kupat dikenal sebagai makanan wajib saat Lebaran. Kupat biasanya disajikan dengan sate Madura atau gulai kambing. Filosofinya lebih menekankan pada kebersamaan dan pesta rakyat setelah sebulan berpuasa.
Sementara di Sumatra, kupat sering disebut ketupat dan disajikan bersama rendang, gulai, atau sambal lado. Filosofinya tidak jauh berbeda, yakni simbol syukur dan permintaan maaf, tetapi lebih menonjolkan kekayaan rasa kuliner Minangkabau.
Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Selamatkan Barang Penumpang Senilai Rp138 Juta
Masyarakat Kalimantan memiliki variasi unik seperti ketupat kandangan yang disajikan dengan ikan haruan (ikan gabus) berkuah santan. Kupat di sini menjadi simbol keberkahan dan identitas kuliner lokal yang khas.
Kupat bukan sekadar makanan, melainkan media dakwah, simbol sosial, dan identitas budaya. Dari Jawa hingga Kalimantan, kupat memiliki filosofi yang sama: pengakuan kesalahan, permintaan maaf, dan kebersamaan. Namun, setiap suku memberi sentuhan khas sesuai budaya dan kuliner lokal mereka.
Editor : Ni'am KurniawanURL : https://jatimnow.id/baca-83240-sejarah-dan-filosofi-ketupat-sebagai-simbol-idulfitri