Jumat, 19 Jun 2026 11:46 WIB

Ironi Cukai Rp226 Triliun, Gus Lilur Desak Keadilan bagi Pabrik Rokok Rakyat

Industri Hasil Tembakau (IHT) terus menjadi tulang punggung fiskal Indonesia. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Industri Hasil Tembakau (IHT) terus menjadi tulang punggung fiskal Indonesia. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com – Industri Hasil Tembakau (IHT) terus menjadi tulang punggung fiskal Indonesia dengan setoran cukai menembus angka fantastis Rp226 triliun pada 2024.

Namun, di balik angka impresif tersebut, terdapat jurang ketimpangan yang kian lebar antara pabrik rokok skala rakyat dengan para konglomerat.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Wismilak Kretek Slim Klik Pecahkan Rekor MURI

Founder sekaligus Owner Rokok Bintang Sembilan, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, mengungkapkan bahwa kebijakan teknis saat ini secara sistematis menekan pelaku kecil.

Masalah utamanya bukan pada prosedur administratif, melainkan pada pembatasan kuota pita cukai yang tidak proporsional.

Menurut Gus Lilur, pembatasan kuota pita cukai, khususnya untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) adalah pukulan telak bagi ekonomi kerakyatan.

Berbeda dengan pabrik besar yang mengandalkan mesin, SKT adalah jantung produksi rakyat yang menyerap ribuan buruh linting dan menjaga hubungan langsung dengan petani tembakau.

“Ketika kuota pita cukai SKT dibatasi, yang terhenti bukan hanya produksi, tetapi seluruh mata rantai ekonomi rakyat. Buruh dirumahkan, pesanan tembakau berkurang, dan petani kehilangan kepastian pasar,” tegas Gus Lilur dalam keterangannya, Senin (02/2/2026).

Ia menilai negara sering kali mengambil jalan pintas dalam pengawasan. Alih-alih menindak tegas oknum yang menyalahgunakan peruntukan pita cukai (SALTEM), pemerintah justru membatasi kuota secara menyeluruh.

"Kesalahan segelintir pelaku dibayar oleh ribuan pabrik kecil yang patuh hukum," tambahnya.

Gus Lilur memperingatkan bahwa penyempitan ruang legal bagi pabrik rokok rakyat justru menjadi pemicu utama suburnya peredaran rokok ilegal.

Secara fiskal, ia berpendapat negara akan jauh lebih diuntungkan jika penjualan pita cukai SKT dilepas sesuai permintaan pasar tanpa pembatasan kuota.

Baca Juga: Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Untuk urusan pengawasan, Gus Lilur menawarkan solusi teknologi yang lebih presisi ketimbang sekadar pembatasan.

Gus Lilur menawarkan solusi konkret melalui penguatan sistem kontrol berbasis teknologi dengan mewajibkan pemasangan CCTV di setiap pabrik yang terhubung langsung ke sistem pengawasan Bea Cukai.

Melalui integrasi digital ini, praktik penyalahgunaan peruntukan pita cukai atau SALTEM dapat dipantau secara real-time, sehingga transparansi produksi tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kuota produksi pabrik kecil.

Beriringan dengan digitalisasi pengawasan tersebut, diperlukan pula pergeseran paradigma dalam penegakan hukum yang lebih presisi dan tepat sasaran.

Gus Lilur mendorong Polri untuk mengintensifkan penegakan hukum terhadap pelanggaran besar yang nyata, ketimbang sekadar melakukan operasi rutin yang sering kali justru menyasar pelaku usaha kecil yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Optimis Menanam, Petani Bondowoso Minta Perlindungan Regulasi Tembakau

Langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berencana menerbitkan jenis pita cukai khusus dengan tarif lebih murah bagi rokok rakyat mendapat apresiasi tinggi dari Gus Lilur.

Ia memandang diferensiasi tarif adalah bentuk koreksi atas ketimpangan struktural, bukan sekadar pemanjaan.

Lebih lanjut, ia mendorong realisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Madura, sebuah gagasan yang diperjuangkan oleh Komunitas Muda Madura (KAMURA).

“KEK Tembakau bukan sekadar kawasan industri, melainkan desain kebijakan untuk membenahi relasi timpang industri tembakau. Madura memiliki posisi strategis untuk menjadi laboratorium kebijakan ini agar petani tembakau menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek pajak,” pungkas Gus Lilur.

Baginya, ukuran keberhasilan kebijakan cukai bukanlah sekadar angka penerimaan, melainkan tingkat kesejahteraan jutaan petani dan buruh yang bergantung pada tanaman "emas hijau" ini.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.