Selasa, 16 Jun 2026 16:53 WIB

Sri Mulyani Jadi Dewan Gates, Peluang Redefinisi Arah Pembangunan RI?

Sri Mulyani ketika mengajar di SMAN 1 Tanjung Pandan. (Foto: IG @smindrawati/jatimnow.com)
Sri Mulyani ketika mengajar di SMAN 1 Tanjung Pandan. (Foto: IG @smindrawati/jatimnow.com)

jatimnow.com – Penunjukan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ke dalam jajaran Dewan Direksi Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF) memicu perdebatan.

Mampukah Indonesia memanfaatkan posisi strategis ini untuk memengaruhi kebijakan kesehatan global, atau justru terperangkap dalam agenda filantrokapitalisme yang kerap dikritik?

Baca Juga: KADIN Jatim Soroti Ketimpangan Pajak UMKM dan Korporasi

Bergabungnya Sri Mulyani ke BMGF bukan sekadar pengakuan atas kapasitasnya, melainkan juga kesempatan untuk duduk di meja yang menentukan arah pembangunan dunia. Namun, Ekonom Tri Prakoso mengingatkan, Indonesia harus berhati-hati.

"Ini bukan hanya soal mendapatkan dana atau proyek," ujar Tri Prakoso, WKU Migas Kadin Jatim.

"Tapi bagaimana kita bisa memastikan bahwa program-program BMGF benar-benar selaras dengan kebutuhan dan prioritas nasional," lanjutnya.

Menurut Tri Prakoso, Indonesia perlu mewaspadai potensi konflik kepentingan dan jerat ketergantungan pada pendanaan asing. BMGF, dengan dana abadi setara PDB negara-negara kecil, memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi agenda kesehatan global.

"Kita harus ingat, filantrokapitalisme itu punya DNA efisiensi pasar," katanya. Pendekatannya sering kali top-down dan mengabaikan akar masalah sosial.

Baca Juga: Sarbini yang Terlupakan

Kritik terhadap BMGF pun bukan tanpa alasan. Yayasan ini dituding mengalihkan perhatian dari isu-isu krusial seperti kemiskinan dan ketimpangan, dan lebih berfokus pada solusi teknokratis seperti vaksin dan obat-obatan.

"Ini bisa jadi semacam kolonialisme baru," tegas Tri Prakoso. Para miliarder Silicon Valley menentukan penyakit mana yang layak diperangi, bukan pemerintah yang dipilih rakyat.

Sri Mulyani, dengan pengalaman mumpuni di bidang ekonomi dan keuangan, diharapkan mampu menjembatani kepentingan Indonesia dan BMGF. Namun, tantangannya tidak kecil.

Baca Juga: Mengendalikan BBM, Menguji Jawa Timur

"Ujian sebenarnya bukan di rapat dewan di Seattle. Tapi bagaimana dia bisa menerjemahkan wawasan global menjadi kebijakan domestik yang lebih berdaulat," kata Tri Prakoso.

Pemerintah Indonesia juga memikul tanggung jawab besar. Mereka harus menyiapkan tim pendukung dan strategi negosiasi yang solid agar posisi Sri Mulyani di BMGF tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi benar-benar menjadi alat untuk mewujudkan dunia yang lebih adil.

"Kita harus jadi koreografer, bukan sekadar penonton. Jika tidak, kursi itu hanya akan jadi tontonan, bukan kekuatan," pungkas Tri Prakoso.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.