Rabu, 17 Jun 2026 19:23 WIB

Bukan Sekadar Jalan Kaki, Ada Komando Keselamatan Bangsa di Balik Isyaroh NU

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 04 Jan 2026 13:02 WIB
Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan menggelar kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU, Minggu (4/1/2026). (Foto: FJN/jatimnow.com)
Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan menggelar kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU, Minggu (4/1/2026). (Foto: FJN/jatimnow.com)

jatimnow.com - Langkah kaki seribu orang memenuhi jalanan Bangkalan menuju Jombang sejak Minggu pagi (4/1/2026). Mereka bukan sekadar berjalan, melainkan sedang menjemput ingatan kolektif tentang lahirnya organisasi Islam terbesar di dunia dalam agenda Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU.

Ritual fisik dan spiritual ini bermula dari titik nol di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, tempat sejarah besar itu bermula seabad silam.

Baca Juga: Dukung Transformasi Pesantren, Gus Yahya Apresiasi Inisiatif KH Imam Jazuli

Kegiatan ini menjadi magnet bagi para ulama dan tokoh Nahdliyin untuk merenungi kembali isyaroh berupa tongkat dan tasbih yang dikirimkan Syaichona Moh. Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.

Di lepas langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, perjalanan ini memanggul misi besar, yakni membangkitkan kembali komando keselamatan bagi bangsa Indonesia.

Perwakilan Dzurriyah Syaichona Moh. Cholil, KH Mohammad Nasih Aschal, menyampaikan bahwa gerak jalan sejauh puluhan kilometer ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar parade.

Sosok yang akrab disapa Lora Nasih itu menyebut setiap langkah peserta merupakan upaya menghidupkan kembali "ruh" yang ditiupkan para pendiri Nahdlatul Ulama.

"Kita mengulang sejarah pendirian Jam’iyah NU dari tempat ini. Isyaroh tongkat dan tasbih itu panduan sekaligus komando agar bangsa ini tetap selamat," tutur Lora Nasih di hadapan ribuan peserta yang memadati area pesantren.

Menurutnya, warisan Syaichona Moh. Cholil bukan hanya urusan agama, melainkan jalinan erat antara keimanan dan nasionalisme.

Lora Nasih yang juga duduk di kursi DPRD Jawa Timur ini mengajak generasi muda Nahdliyin untuk tidak memisahkan cinta tanah air dari ibadah harian.

Perjalanan berat ini terbagi dalam tiga etape yang menguji daya tahan lahir dan batin. Etape pertama menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Setelah menyeberangi selat, peserta melanjutkan perjalanan darat menuju Stasiun Jombang sebelum akhirnya berjalan kaki kembali menuju titik finis di Pondok Pesantren Tebuireng.

Puncak emosional dari prosesi ini terjadi saat replika tongkat dan tasbih legendaris itu diserahkan secara berantai.

Dari tangan RKH Fakhruddin Aschal, amanah itu berpindah ke KHR Achmad Azaim Ibrahimi dari Sukorejo, hingga akhirnya diterima oleh KH Abdul Hakim selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Prosesi estafet ini merefleksikan peristiwa ikonik saat KHR As’ad Syamsul Arifin muda berjalan kaki membawa pesan Syaichona Cholil untuk KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926.

Peristiwa itulah yang kemudian memantapkan hati para kiai untuk mendeklarasikan berdirinya NU.

Baca Juga: Katib Syuriyah PBNU Kecam Penyergapan Relawan Indonesia oleh IOF

Napak tilas ini diselenggarakan oleh Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama yang melibatkan tiga pesantren pilar: Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, dan Tebuireng Jombang.

Sinergi ini mempertegas posisi NU sebagai penjaga gawang nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Menutup prosesi pelepasan, Lora Nasih memohon doa agar para penerus mampu menjaga amanah besar ini. Ia berharap lelahnya para peserta menjadi wasilah datangnya keberkahan bagi Indonesia.

"Semoga setiap langkah dalam napak tilas ini menyatukan kita bersama para muassis di hari akhir nanti," pungkasnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.