Selasa, 16 Jun 2026 00:34 WIB

Dukung Transformasi Pesantren, Gus Yahya Apresiasi Inisiatif KH Imam Jazuli

Gus Yahya membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). (Foto: FJN for jatimnow.com)
Gus Yahya membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). (Foto: FJN for jatimnow.com)

jatimnow.com - Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, memberikan apresiasi kepada Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Imam Jazuli, atas penyelenggaraan Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia yang bertujuan memperkuat kesiapan pesantren menghadapi perubahan cepat di era disrupsi.

Apresiasi tersebut disampaikan Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan III di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan itu diikuti sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Baca Juga: Ponpes Al Falah Kediri Ditetapkan Tuan Rumah Munas Alim Ulama dan Konbes NU

Menurut Gus Yahya, pesantren dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan peran utamanya sebagai pusat pembinaan spiritual dan penjaga kehidupan umat.

“Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa para ulama terdahulu telah mewariskan tradisi yang menjadikan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, melainkan juga tempat pembentukan karakter, penyucian jiwa, dan pusat ri'ayatul ummah atau pelayanan kepada umat.

KH Imam Jazuli mengatakan workshop tersebut berangkat dari kebutuhan pesantren untuk membaca arah perubahan yang berlangsung di berbagai bidang kehidupan.

Menurutnya, banyak institusi besar yang gagal bertahan karena tidak mampu beradaptasi. Sebaliknya, lembaga yang cepat membaca perubahan justru tumbuh lebih kuat.

“Workshop ini menjadi ruang berbagi strategi agar pesantren mampu merespons perubahan secara tepat dan proaktif,” kata Imam Jazuli.

Ia menilai anggapan bahwa minat masyarakat terhadap pesantren menurun tidak sepenuhnya tepat. Yang terjadi justru perpindahan pilihan masyarakat menuju pesantren yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

“Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun, tetapi jumlah santrinya berkembang sangat cepat. Itu menunjukkan pentingnya kemampuan merespons perubahan,” ujarnya.

Baca Juga: Katib Syuriyah PBNU Kecam Penyergapan Relawan Indonesia oleh IOF

Dalam forum tersebut, Imam Jazuli juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi Nahdlatul Ulama pada abad kedua. Menurutnya, persoalan besar organisasi tidak bisa diselesaikan oleh individu atau kelompok tertentu secara terpisah.

Ia mengajak seluruh elemen NU mengubah pola pikir dari “ana wal akhar” atau “aku dan mereka” menjadi “nahnu” atau “kita”.

“Tantangan abad kedua NU tidak bisa dijawab oleh satu figur atau satu kelompok saja. Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan perubahan sosial yang sangat cepat, kekuatan NU justru terletak pada kemampuan mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki,” katanya.

Imam Jazuli menilai NU memiliki modal sumber daya manusia yang sangat besar, mulai dari kalangan ulama, akademisi, profesional, birokrat hingga generasi muda yang tersebar di berbagai sektor strategis.

Potensi tersebut, kata dia, perlu dipetakan dan disinergikan melalui kolaborasi lintas generasi serta penguatan ekosistem kerja yang mendorong inovasi.

Baca Juga: Muktamar NU, Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

“Kita harus menjadi super tim yang solid. Kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan,” ujarnya.

Ia juga mendorong penguatan tata kelola organisasi yang modern, digitalisasi data kader, serta integrasi informasi antarlembaga di lingkungan NU agar kolaborasi berjalan lebih efektif dan mengurangi ego sektoral.

Selain itu, jaringan pesantren, modal warga, serta kepakaran profesional NU dinilai dapat menjadi kekuatan ekonomi besar yang menopang dakwah dan pemberdayaan umat secara mandiri.

“Perbedaan pandangan di internal NU harus dipandang sebagai khazanah intelektual yang memperkaya pilihan strategi organisasi, bukan ancaman perpecahan. Dengan semangat tabayyun dan keterbukaan, NU akan semakin kuat menghadapi tantangan zaman,” tutup Imam Jazuli.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.