Selasa, 16 Jun 2026 11:37 WIB

Kritik ke Pesantren Viral, Begini Sikap Dewasa yang Disarankan Gus Kholili

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 16 Nov 2025 00:17 WIB
Gus Kholili menerima penghargaan “Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2025 dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), di Surabaya, Sabtu (15/11/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Gus Kholili menerima penghargaan “Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2025 dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), di Surabaya, Sabtu (15/11/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Fenomena kritik terhadap lingkungan pesantren kembali ramai di media sosial dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian kritik dipicu oleh munculnya perilaku oknum yang mengatasnamakan keturunan kiai yang populer disebut “gus-gusan” hingga kasus potongan video tokoh pesantren yang dipelintir dan memantik reaksi publik.

Di tengah situasi tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al Amiroh Canga’an Bangil, Pasuruan, KH Kholil Kholili, mengajak pesantren untuk menyikapi kritik publik dengan dewasa dan proporsional.

Baca Juga: Dukung Transformasi Pesantren, Gus Yahya Apresiasi Inisiatif KH Imam Jazuli

Cucu Syaikhona Kholil, yang akrab disapa Gus Kholili itu menilai bahwa kritik masyarakat tidak boleh langsung direspons dengan kemarahan berlarut-larut.

Menurutnya, pesantren yang telah mengakar ratusan tahun di Indonesia memiliki tradisi intelektual yang kuat, termasuk budaya menerima nasihat, musabah (introspeksi), dan evaluasi diri.

“Banyak sekali gus-gusan yang problematik. Saya mengakui itu sebagai insan pesantren. Karena itu kritik konstruktif dari masyarakat penting agar lingkungan pesantren berbenah,” ujar Gus Kholili, usai menerima penghargaan “Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2025 dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), di Surabaya, Sabtu (15/11) malam.

Dalam studi sosial keagamaan, institusi pesantren telah lama dipandang sebagai pusat pendidikan karakter. Karena itu, kata Gus Kholili, pesantren harus tampil sebagai teladan, terutama dalam merespons isu-isu yang berkembang secara viral.

Marah Boleh, Berlebihan Jangan

Gus Kholili memahami respons emosional masyarakat pesantren terhadap konten yang dianggap merugikan citra kiai atau lembaga. Namun ia menegaskan agar reaksi tersebut tidak melewati batas.

“Aksi teman-teman pesantren kemarin saya kira perlu. Tapi kalau berlarut-larut akan menjadi overreact dan membuat insan pesantren lupa dengan introspeksi yang harusnya dilakukan,” tuturnya.

Pakar media digital pendidikan Islam, dalam berbagai riset tahun 2020–2023, juga menyebut fenomena overreaction di ruang digital seringkali justru menguntungkan pihak yang memprovokasi, karena memperluas jangkauan konten negatif. Karena itu reaksi terukur dan kontekstual sangat dibutuhkan.

Salah satu kasus yang banyak mendapat sorotan adalah penyebaran potongan video Kiai Anwar Mansur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Video tersebut diambil sepotong dan diberi narasi yang tidak sesuai konteks.

Sebagai alumni yang 10 tahun nyantri di Lirboyo”, Gus Kholili menegaskan bahwa framing tersebut tidak mencerminkan karakter asli sang kiai.

“Selama saya di Lirboyo, beliau itu sederhana, istiqamah ngaji, istiqamah mengajar, dan tidak pernah mengusik orang. Video yang dipotong tanpa penelitian atau pengamatan antropologis itu adalah kejahatan besar,” tegasnya.

Menurutnya, reaksi alumni Lirboyo yang turun merespons framing tersebut masih tergolong wajar. Namun ia kembali mengingatkan agar langkah yang diambil tetap elegan dan tidak berkepanjangan.

Harus diakui, merespons kritik yang viral memang tidak mudah, terutama ketika reputasi kiai atau pesantren dipertaruhkan. Namun Gus Kholili menegaskan bahwa pesantren harus tetap mengedepankan akhlak, kesabaran, dan kedalaman ilmu, tanpa kehilangan ketegasan.

Pendekatan matang semacam ini dinilai para peneliti sebagai strategi paling efektif meredam hoaks dan distorsi digital yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun.

Dalam banyak literatur modern tentang pendidikan Islam, pesantren yang adaptif terhadap kritik terbukti lebih cepat berkembang. Gus Kholili berharap momentum kritik publik hari ini menjadi ruang berbenah, bukan sekadar arena konflik emosional.

Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk jurnalis Nahdliyin yang ikut menjaga marwah pesantren di tengah derasnya arus informasi digital.

Baca Juga: FJN Minta Prabowo Turun Tangan Bebaskan Jurnalis RI di Israel

“Terima kasih kepada teman-teman Forkom Jurnalis Nahdliyin. Saya bangga dan terhormat. Semoga FJN terus menggawangi isu-isu penting di kalangan NU,” ujarnya.

Penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Kholil

Dalam kesempatan ini, Gus Kholili juga menyampaikan rasa syukur atas dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan hanya untuk keluarga besar, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap peran pesantren.

“Penghargaan untuk beliau adalah penghargaan terhadap pesantren, terhadap Nahdlatul Ulama, dan semua kaum muslim di Indonesia. Beliau itu layak disebut Bapak Pesantren Indonesia,” kata Gus Kholili.

Sementara itu, Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), Muhamad Didi Rosadi atau yang akrab disapa Diday, memberikan apresiasi atas pandangan moderat dan elegan yang disampaikan Gus Kholili. Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan kedewasaan intelektual pesantren yang sudah semestinya menjadi rujukan publik.

“Apa yang disampaikan Gus Kholili sangat penting di tengah situasi digital yang penuh distorsi. Beliau menunjukkan bahwa pesantren bisa merespons kritik tanpa kehilangan marwah, tanpa reaksi berlebihan, tetapi tetap tegas menjaga kehormatan para kiai,” ujar Diday.

Diday menilai, suara-suara dari tokoh muda pesantren seperti Gus Kholili sangat dibutuhkan untuk meredam ketegangan dan memberi arah yang lebih sehat bagi ekosistem informasi keislaman.

Baca Juga: Asah Life Skill Siswa, Ponpes Safinda Surabaya Luncurkan Studio Podcast

“Gus Kholili memberi contoh bagaimana kritik dijadikan ruang refleksi, bukan bahan permusuhan. Ini selaras dengan nilai-nilai pesantren yang mencintai ilmu, ketenangan, dan hikmah,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa FJN akan terus berada di garda depan untuk menjaga kualitas informasi, melawan disinformasi yang menyasar tokoh dan lembaga pesantren, serta memperkuat literasi digital di kalangan Nahdliyin.

“Kita ingin memastikan pesantren tidak menjadi korban framing. FJN berdiri untuk menjaga objektivitas, mendukung kiai, sekaligus mendorong ruang dialog yang sehat. Sikap Gus Kholili menjadi inspirasi bagi jurnalis Nahdliyin di seluruh Indonesia,” tegas Diday.

Dengan dukungan tokoh-tokoh pesantren dan jurnalis, ia berharap ke depan setiap kritik yang muncul di ruang digital dapat diperlakukan secara proporsional sehingga pesantren tetap menjadi ruang intelektual yang matang sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

Sebagaimana diketahui, penghargaan Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif merupakan agenda tahunan Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN). Penghargaan dirilis pada momen Hari Santri. Tahun ini, FJN memberikan apresiasi kepada 16 tokoh muda NU.

"Apresiasi ini murni dari kawan-kawan FJN kepada figur Nahdliyin yang rekam jejak dan karyanya bisa menginspirasi generasi muda," tandas Diday.

Untuk kriteria utama dalam menentukan figur dilakukan secara kolektif dan independen oleh internal FJN. Syaratnya adalah tentu merupakan seorang Nahdliyin yang asuk kategori muda atau penggerak pemuda dan diversifikasi independen dan imparsial.

Bahkan tidak ada komunikasi yang kami lakukan dengan figur-figur yang menjadi nominator sampai diumumkan.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.