Minggu, 21 Jun 2026 08:14 WIB

Ketua Ansor Jatim: Negara Nikmati Cukai Tembakau, Petani Merana

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 09 Nov 2025 09:21 WIB
Kontribusi besar sektor tembakau belum sebanding dengan kesejahteraan para petani. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Kontribusi besar sektor tembakau belum sebanding dengan kesejahteraan para petani. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, bersuara lantang tentang nasib petani tembakau yang merana meski negara menikmati cukai tembakau.

Hal itu dikemukakan dalam pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) GP Ansor Jawa Timur di Kota Malang, Sabtu (8/11/2025).

Musaffa menegaskan bahwa Indonesia berhutang besar kepada petani tembakau. Ia mengungkapkan, penerimaan negara dari cukai hasil tembakau pada tahun 2024 mencapai Rp 216,9 triliun, melampaui pendapatan negara dari sektor migas maupun dividen BUMN.

“Tahun 2024, penerimaan negara dari cukai hasil tembakau mencapai Rp 216,9 triliun, angka yang mengungguli migas dan BUMN. Dan lebih dari separuhnya disumbang oleh Jawa Timur,” ujarnya di hadapan seluruh pimpinan cabang GP Ansor se-Jawa Timur.

Musaffa memaparkan data kontribusi sektor pendapatan negara: Cukai Hasil Tembakau (Rp 216,9 triliun), Sumber Daya Alam (Migas dan Non Migas) (Rp 207 triliun), dan Dividen BUMN (Rp 85,8 triliun).

Namun, Musaffa menilai ada paradoks yang menyakitkan di balik capaian besar tersebut. “Negara menikmati, tapi petani merana,” katanya.

Baca Juga: Ahli Waris Pekerja Rentan di Sidoarjo Terima Santunan JKM Rp42 Juta

Menurutnya, kontribusi besar sektor tembakau belum sebanding dengan kesejahteraan para petani. Kebijakan pemerintah dinilai belum sepenuhnya berpihak pada petani, padahal mereka adalah fondasi utama dari industri yang menopang ratusan triliun rupiah pemasukan negara setiap tahunnya.

“Ansor tidak boleh diam. Kita harus berdiri bersama para petani tembakau. Mereka adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi bangsa, tapi sering kali paling terpinggirkan,” tegas Musaffa.

Ia menuturkan, bahwa perokok terbesar di Indonesia adalah warga Nahdlatul Ulama (NU), termasuk kader Ansor. Hal ini seharusnya menjadi kesadaran bersama tentang kontribusi nyata warga NU terhadap perekonomian negara.

“Kalau kita jujur, perokok terbesar di negeri ini adalah warga NU, dan di dalamnya ada Ansor. Maka artinya, kita ini sebenarnya investor utama pendapatan negara dari cukai tembakau. Tapi ironisnya, petani yang menanam tembakau justru belum menikmati kesejahteraan yang layak,” ucap Musaffa.

Musaffa mendorong agar Muskerwil kali ini tidak hanya menjadi forum administratif, tetapi juga melahirkan rekomendasi kebijakan konkret untuk mendorong keberpihakan terhadap petani tembakau.

Baca Juga: PTPN I Regional 5 Gandakan Lahan Tembakau Klaten, Bangun 38 Sumur Bor

Untuk itu ia mengusulkan agar dibentuk forum khusus untuk membahas isu tembakau secara mendalam dan menyusun langkah strategis Ansor ke depan.

“Semangat Muskerwil Ansor Jawa Timur adalah semangat keberpihakan. Kalau negara saja hidup dari keringat para petani tembakau dan uang dari kantong warga kita, maka Ansor harus menjadi suara mereka. Kita harus memastikan kebijakan negara berpihak pada kesejahteraan petani, bukan hanya pada angka-angka pendapatan,” tegasnya.

Musaffa mengajak seluruh kader Ansor di Jawa Timur untuk menjadikan perjuangan ekonomi rakyat sebagai bagian dari gerakan keummatan dan kebangsaan.

Menurutnya, keberpihakan kepada petani adalah bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam memperjuangkan kemaslahatan sosial.

“Menolong petani, memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil itulah bentuk jihad sosial Ansor hari ini,” pungkasnya.

Muskerwil GP Ansor Jatim tahun 2025 ini dihadiri oleh seluruh pimpinan cabang GP Ansor se-Jawa Timur, para kiai muda, tokoh masyarakat, dan mitra strategis Ansor.

Baca Juga: Optimis Menanam, Petani Bondowoso Minta Perlindungan Regulasi Tembakau

Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan komitmen Ansor dalam memperkuat peran sosial, ekonomi, dan keummatan di Jawa Timur.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.