Rabu, 17 Jun 2026 09:36 WIB

Ekspor Udang ke AS Distop, Indonesia Terancam Rugi Rp 29 Triliun

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur, Eddy Widjanarko. (Foto/Dok RLD)
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur, Eddy Widjanarko. (Foto/Dok RLD)

jatimnow.com - Kebijakan larangan impor udang Indonesia oleh Amerika Serikat (AS) akibat temuan senyawa radioaktif Cesium-137 (Cs-137) dalam 18 peti kemas udang asal Indonesia menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku usaha perikanan dalam negeri.

Kebijakan itu dinilai dapat memicu kerugian besar dan mengancam keberlangsungan jutaan tenaga kerja di sektor perikanan.

Baca Juga: Usulan Gus Lilur Didengar, Prabowo Selamatkan Masa Depan Lobster Indonesia

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur, Eddy Widjanarko, mengungkapkan keheranannya atas temuan bahan radioaktif tersebut. Menurutnya, inti persoalan bukan hanya pada ada atau tidaknya temuan, tetapi pada perbedaan standar keamanan pangan antarnegara.

"Pemerintah perlu mengkaji dan mengikuti standar yang ditetapkan negara tujuan, apalagi kalau menyangkut ekspor makanan. Ini pelajaran penting bagi pengambil kebijakan," ujarnya, Selasa (14/10/2025).

Eddy juga menilai bahwa kebijakan sepihak AS ini dapat berdampak domino ke sektor perikanan lain seperti tuna. Padahal, pasar udang Indonesia sangat bergantung pada AS.

Berdasarkan data Kementerian Perikanan dan Kelautan, nilai ekspor udang pada 2024 mencapai USD 2 miliar, dengan tujuan ke AS mencapai 63–64 persen atau senilai USD1,4 miliar.

Baca Juga: Ekspor BBL Distop, BALAD Grup Fokus Lobster Konsumsi

Saat ini, pemerintah menghadapi dilema besar terkait nasib udang yang terkontaminasi. Ada dua opsi yang dipertimbangkan, yaitu memasarkan udang tersebut di dalam negeri atau melakukan re-ekspor ke negara lain. Namun, kedua opsi tersebut sama-sama berisiko.

"Kalau dimusnahkan, pengusaha rugi besar. Tapi kalau diekspor ke negara lain, mereka sudah tahu dan mulai menolak. Beberapa negara sudah mempertanyakan tujuan re-ekspor. Dan mencari pasar baru tidak mudah," jelas Eddy.

Selain 18 peti kemas yang dikembalikan, masih ada sekitar 439 kontainer dengan total berat 900 ton udang yang dalam perjalanan ke AS diminta untuk kembali.

Baca Juga: EastFood & EastPack Surabaya 2025: Inovasi, Kuliner, dan Peluang Bisnis Global

Sejak larangan diberlakukan, ekspor udang ke AS sudah terhenti lebih dari sepuluh hari. Padahal, biasanya setiap pekan ada sekitar 50 peti kemas dikirim ke Negeri Paman Sam.

Kondisi ini membuat pengusaha dan pemilik tambak resah. "Bila ekspor ke AS benar-benar mandek, bisa ada 1 juta tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan," ungkap Eddy.

Selain itu, Indonesia juga terancam kehilangan devisa hingga USD 1,7 miliar atau sekitar Rp29 triliun dari ekspor udang.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.