Selasa, 16 Jun 2026 11:50 WIB

Medsos dan Kesenjangan di Balik Demonstrasi, Ini Kata Pengamat

Pengamat cagar budaya, Edward Dewarucci, menyampaikan pendapat dalam FGD dengan tema "Quo Vadis Aksi Massa 2025: Demokrasi atau Anarki?" di Surabaya, Kamis (11/9/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Pengamat cagar budaya, Edward Dewarucci, menyampaikan pendapat dalam FGD dengan tema "Quo Vadis Aksi Massa 2025: Demokrasi atau Anarki?" di Surabaya, Kamis (11/9/2025). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Demonstrasi sepanjang 25 sampai 31 Agustus 2025 yang terjadi di sejumlah kota, termasuk Jawa Timur memunculkan fenomena menarik, yaitu tidak adanya tokoh sentral atau komando yang jelas.

Pengamat cagar budaya, Edward Dewarucci, memberikan perhatian khusus pada peran media sosial dan digital lifestyle dalam memobilisasi massa, serta kesenjangan sosial yang menjadi pemicu utama.

Baca Juga: ASN Kota Probolinggo Ditantang Manfaatkan Medsos untuk Promosi Daerah

Menurut Dewarucci, kekuatan media sosial dan gaya hidup digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan berpartisipasi dalam aksi sosial.

"Yang menarik dari situasi di Jawa Timur kemarin adalah koordinator lapangannya tidak kelihatan," ujarnya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Quo Vadis Aksi Massa 2025: Demokrasi atau Anarki?" di Grand Surabaya Hotel, Surabaya, Kamis (11/9/2025).

"Dalam sebuah pergerakan, seharusnya ada pemimpinnya. Tapi kemarin tidak kelihatan siapa yang berdiri di atas panggung atau mobil komando, lalu mengarahkan orang untuk melakukan ini dan itu. Tidak ada," sambungnya.

Edward menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah disinformasi, fitnah, dan penyebaran kebencian (hate speech) yang masif di dunia digital.

"Ketiga jenis perilaku digital ini kemudian ditembakkan dengan model digital. Jadi, sekarang pelurunya adalah peluru digital dalam bentuk disinformasi, penyebaran fitnah, dan kebencian. Ini dahsyat, karena kemudian bisa menggerakkan hanya dengan selebaran 'ayo kumpul' terus 'ayo aksi'," jelasnya.

Selain itu, Edward juga menggarisbawahi adanya kesenjangan sosial yang semakin tajam. Hal itu, kata dia. sebagai pemicu utama aksi massa.

Baca Juga: Medsos Bikin Anak Makin Individualis, Pakar Tekankan Peran Krusial Orang Tua

"Dalam situasi politik yang seperti sekarang, kesenjangan masyarakat itu sangat tajam. Ada orang yang tidak punya bayaran sama sekali, tidak punya gaji, tidak punya penghasilan. Tapi, di satu sisi, ada orang yang jadi direktur BUMN atau jadi pejabat yang bayarannya ratusan juta, bahkan miliaran. Itu kan sangat jauh. Dalam posisi seperti ini, yang terpaksa adalah perasaan keadilan," ungkapnya.

Ia mencontohkan kasus driver ojek online yang memperjuangkan haknya di tengah ketidakadilan yang dilakukan oleh aplikator.

"Bagaimana kemudian dia berjibaku untuk mencari seribu, dua ribu, sementara pemilik modalnya yang di pasar modal itu dengan enak dia mengatakan bahwa valuasi nilai perusahaan saya itu sekian triliun, padahal yang kerja ini loh, yang ribuan orang kerja ini tadi untuk mencari seribu rupiah ongkosnya dia jadi delivery atau dari apa itu sampai ada yang meninggal di atas motornya, sampai ada yang sakit atau kecelakaan. Paling sering beritanya itu kan sebuah situasi yang memang kemudian terbaca oleh anak muda ini sebagai sesuatu yang tidak adil," paparnya.

Edward juga menyinggung hilangnya kepercayaan masyarakat pada wakil rakyat dan partai politik.

Baca Juga: Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying

"Nah, ini tidak tersampaikan kepada yang namanya wakil rakyat, partai politik, sistem pemilihan anggota partai politik yang terpilih. Dia tidak bisa jadi jembatan untuk menyampaikan ini. Kok sama cerita joget-joget, 'gaji DPR bubarkan DPR', akhirnya jalan," katanya.

Terkait aksi pembakaran cagar budaya, Edward menyayangkan tindakan tersebut. "Kalau cagar budaya kan sesuatu yang sudah lama, ya? Lama, tua, gitu. Terus, dia dihargai karena keunikan bentuknya, ada seni di sana, ada cerita di balik itu, meskipun mungkin ada di alam bawah sadarnya anak-anak yang bakar itu juga melihat bahwa ini simbol kolonialisme, ya, bisa juga. Ini simbol penjajahan, ya sudah, dibakar saja," ujarnya.

Namun, ia berharap kejadian ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi nilai-nilai dan karakter budaya bangsa.

"Jadi, artinya, ke depan ada kesadaran bahwa perlindungan terhadap nilai-nilai dan karakter budaya masyarakat itu ternyata hari ini gila. Dengan tren digital lifestyle, gaya hidup digital itu, mereka menganggap ini benda mati, tidak apa-apa dirusak, tidak apa-apa dibakar, tidak apa-apa dijarah, tidak apa-apa dianggurin," pungkasnya.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.