Jumat, 19 Jun 2026 06:02 WIB

Lansia Penghuni Gubuk Reyot Bantaran Kali Madiun Menolak Diberi Tempat Layak

  • Penulis :
  • | Jumat, 14 Mar 2025 08:45 WIB
Kondisi gubuk reyot yang ditinggali Marmin dan Nyanirah. (Foto: Madiun Today)
Kondisi gubuk reyot yang ditinggali Marmin dan Nyanirah. (Foto: Madiun Today)

jatimnow.com - Pasangan lanjut usia (lansia) Marmin dan Nyanirah yang tinggal di gubuk reyot bantaran Kali Madiun sangat memprihatinkan. Pemkot Madiun pun sudah berupaya membujuk pasangan tersebut untuk pindah.

Untuk kali kedua petugas gabungan mendatang mereka. Namun petugas gabungan dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA), petugas Kelurahan Nambangan Kidul, dan ketua RT setempat pun kembali gigit jari.

Baca Juga: Sempat Padam Tadi Malam, Pasokan Listrik Subsistem Ngimbang Kembali Aman

"Pemerintah sebenarnya trenyuh, sudah ikut bepartisipasi mau dibawa ke tempat yang lebih layak, ke pondok lansia biar terawat keadaannya. Tetapi pihak laki-laki agak konyol, keras kepala gitu," ucap Supriyanto, ketua RT setempat, dilansir lama resmi Pemkot Madiun, Kamis (13/3/2025).

2 kali pemindahan gagal 

Petugas gabungan memang kembali ke lokasi gubuk pasangan lansia di Jalan Paus Kelurahan Nambangan Kidul tersebut. Gubug tersebut masuk di wilayah 13 RW 3.

Supriyanto menyebut petugas sudah sering membujuk keduanya. Namun, Marmin selalu menolak. Sementara Nyanirah sejatinya bersedia pindah. Bahkan, keduanya sempat beradu mulut karena perbedaan tersebut saat didatangi petugas.

"Kalau yang perempuan sebenarnya mau. Tapi kalau yang laki tidak pindah, yang perempuan juga tidak mau pindah," jelasnya.

Bahkan, Nyanirah sempat menangis karena Marmin tetap kekeh dan malah marah-marah. Padahal, kondisi gubuk yang ditinggali keduanya sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan. Sebab, sudah miring dan bisa roboh sewaktu-waktu.

"Jadi keduanya itu bukan warga saya sebenarnya. Tetapi karena tinggal di sini, akhirnya kami buatkan KTP sini. Yang perempuan itu saya juga yang menguruskan. Biar kalau ada bantuan bisa diusulkan atau biar bisa ke Rusunawa atau ke pondok lansia. Tetapi ya begitu orangnya," jelasnya.

Tak punya anak

Supriyanto menyebut keduanya sudah sekitar 8 tahun tinggal di gubuk di tepian kali tersebut. Namun, sempat bergeser lokasi dari titik yang sekarang.

Baca Juga: Kolaborasi Pertamina dan Warga Ubah Sampah Jadi Nilai Ekonomi

Supriyanto mengaku keduanya memang sudah lama menjalani hidup seperti itu. Terus berpindah-pindah dengan tinggal di bangunan non-permanen.

"Kalau saya tanya katanya sama-sama tidak punya anak. Tetapi yang perempuan, keluarganya pernah menemui saya, istilahnya ya menitipkan gitu. Karena diajak pulang ke Ponorogo juga tidak mau. Inginnya ya tinggal sama suami sirinya itu," ungkapnya.

Tinggal bersama kambing

Untuk keseharian, Marmin mencari bambu lantas menjualnya. Namun, belakangan aktifitas tersebut sudah agak menurun karena faktor usia. Sementara, Nyanirah beternak kambing.

Gubuk yang ditinggali tersebut sekaligus untuk kandang kambing-kambing mereka.
Supriyanto menyebut upaya membujuk keduanya sejak setahun terakhir. Namun, selalu gagal.

Baca Juga: PLN UPT Madiun Lakukan Perawatan Jaringan Tanpa Pemadaman

"Sebenarnya kita juga kasihan. Juga sudah kita upayakan. Kalau saya, ya bagaimana baiknya," ujarnya.

 Berubah pikiran

Sementara itu, Sub Koordinator Rehabilitasi Sosial (Resos) Dasar Disabilitas Anak dan Lansia Terlantar serta Gepeng, Dedy Hermawan menyebut pihaknya akan melaporkan hasil tersebut kepada pimpinan.

Dedy tak membantah keduanya sempat sepakat untuk melihat lokasi pondok lansia. Karenanya, pihaknya kembali datang. Namun, ternyata yang laki-laki berubah pikiran dan ngotot tak mau meninggalkan lokasi.

"Jadi kemarin kita sudah ke sini saat bersama Baznas. Kita bujuk dan mereka mau. Bukan pindah, tapi mau melihat dulu seperti apa pondok lansia. Makanya hari ini kita jemput, tetapi sepertinya berubah pikiran lagi," ungkapnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.