Selasa, 16 Jun 2026 01:04 WIB

6.279 Anak di Tulungagung Putus Sekolah, Ini Langkah Pemkab

Sekda Kabupaten Tulungagung, Tri Haryadi. (Dok Pemkab Tulungagung for jatimnow.com)
Sekda Kabupaten Tulungagung, Tri Haryadi. (Dok Pemkab Tulungagung for jatimnow.com)

jatimnow.com - 6.279 anak di Kabupaten Tulungagung putus sekolah. Mereka tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai sebab.

Pihak Pemkab sendiri menggandeng seluruh stakeholder untuk menekan angka putus sekolah ini.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Angka putus sekolah ini berpengaruh terhadap capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berbagai kebijakan dirumuskan agar mereka mau melanjutkan sekolah kembali.

Sekda Pemkab Tulungagung, Tri Haryadi menjelaskan, hingga 23 Oktober 2024, sebanyak 6.279 anak di Kabupaten Tulungagung tidak melanjutkan sekolah.

Sebagian besar atau sekitar 64%, mereka berhenti di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat.
Sedangkan sisanya beragam, mulai belum pernah sekolah hingga tak menamatkan SMA. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemkab.

"Jumlah anak tidak sekolah ini termasuk mereka yang belum pernah mengenyam pendidikan. Kondisi ini menjadi keprihatinan kami, sehingga kami mempercepat langkah penanganan," ujarnya, Minggu (22/12/2024).

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Berdasar hasil kajian, penyebab anak tidak sekolah cukup beragam. Di antaranya faktor ekonomi, terlambat usia hingga trauma karena mendapat bullying.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Tulungagung tengah menyusun dua strategi dalam menangani anak tidak sekolah. Pertama, strategi pencegahan bertujuan untuk menjaga agar peserta didik tetap bersekolah dan menyelesaikan pendidikannya serta melanjutkan ke jenjang berikutnya sampai tuntas wajib belajar 12 tahun.

"Jadi kita menggandeng seluruh pihak untuk melakukan pendekatan persuasif kepada mereka untuk mau melanjutkan sekolah lagi," tuturnya.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Sedangkan strategi kedua adalah intervensi ditujukan pada anak yang tidak bersekolah atau berada di luar sistem pendidikan formal maupun non formal. Mereka didorong untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti kursus yang telah disiapkan.

Hal ini dilakukan agar mereka tetap memiliki ketrampilan.

"Strategi intervensi bertujuan untuk menjangkau, mendaftarkan mengembalikan dan mendampingi mereka ke dalam program pendidikan yang relevan termasuk pelatihan," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.