Minggu, 14 Jun 2026 10:04 WIB

Mengenal Tradisi Manten Kucing, Ritual Meminta Hujan di Tulungagung

Prosesi ritual manten kucing atau ngedus kucing di Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Prosesi ritual manten kucing atau ngedus kucing di Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Warga Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung memiliki ritual unik untuk meminta hujan. Mereka menggelar ritual manten kucing atau ngedus kucing di kawasan Coban Kromo yang kini mengering akibat kemarau panjang.

Mereka meyakini ritual tersebut dapat mendatangkan hujan sehingga kebutuhan air warga kembali tercukupi.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berdasarkan tutur lisan, ritual ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Ritual ini bermula saat terjadi kemarau panjang di desa tersebut. Seorang sesepuh desa tanpa sengaja mandi dengan kucingnya di kawasan Coban Kromo. Setelah itu turun hujan dan mengakhiri kemarau panjang. Warga yang mengetahui hal tersebut kemudian menjadikan ritual saat kemarau panjang terjadi.

Ritual ini diawali dengan arak-arakan sepasang kucing yang hendak dimandikan. Kucing tersebut dibawa oleh pengantin lengkap dengan kembar mayang. Setelah diarak kucing dibawa turun ke aliran Coban Kromo.

Kepala Desa selaku sesepuh lalu memandikan sepasang kucing tersebut setelah membaca doa. Usai memandikan kucing ritual dilanjutkan dengan menggelar selametan.

Kepala Desa Pelem, Mujialam mengatakan bahwa acara ini dikhususkan untuk berdoa agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan hujan disaat musim kemarau panjang. Baru tahun ini terjadi aliran air di Coban Kromo mengering saat musim kemarau. Padahal sebelumnya meski musim kemarau namun air di Coban Kromo masih mengalir.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

"Tujuannya itu untuk meminta hujan. Manten kucing atau ngedus kucing bisa dilaksanakan pada waktu kemarau panjang," ujarnya, Minggu (10/11/2024).

Ritual ini tidak selalu digelar setiap tahun. Mereka hanya melakukan ritual manten kucing atau ngedus kucin di musim kemarau panjang saja. Selama ini masyarakat desa bergantung dengan aliran air dari Coban Kromo untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain itu air juga digunakan untuk mengairi lahan sawah. Namun sejak bulan Juni lalu debit air mulai turun dan mengering.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

"Dibanding tahun-tahun sebelumnya mulai saya nih sampai sekarang tidak ada air cuma tahun ini," pungkasnya.

 

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.