Kamis, 18 Jun 2026 21:25 WIB

Mengenal Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Usianya Sudah 158 Tahun

Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)
Kelenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung. (Foto: Bramanta Pamungkas/jatimnow.com)

jatimnow.com - Keberadaan kelenteng menjadi bukti eksistensi masyarakat Tionghoa di suatu daerah. Tak hanya menjadi tempat peribadatan, kelenteng juga merupakan simbol budaya dan peradaban bagi Tionghoa.

Tak terkecuali Kelenteng Tjoe Tik Kiong, yang terletak di Kelurahan Kampungdalem, Kabupaten Tulungagung. Bangunan suci ini menjadi bukti keberadaan Tionghoa sejak ratusan tahun lalu dan termasuk yang tertua di Jawa Timur.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Hingga saat ini belum ada bukti tertulis yang memuat kapan pertama kali orang Tionghoa berada di Tulungagung. Kelenteng Tjoe Tik Kiong sendiri sudah berada di lokasi yang sama sejak tahun 1866.

Bioma kelenteng, Tjio Jin Jin, menerangkan sebelum di lokasi saat ini, kelenteng berada di daerah seputar Pasar Wage.

"Dibangun di lokasi sini itu tahun 1866. Nah, sebelum itu kelenteng ini pernah berdiri di sekitar Pasar Wage sana," ujarnya, Sabtu (03/02/2024).

Pemindahan lokasi ini bukan tanpa alasan. Pengurus saat itu menilai lokasi kelenteng saat ini lebih strategis dan luas dibanding sebelumnya.

Baca Juga: Melawan Saat Ditangkap, Dua Pembobol Toko Bangunan Tulungagung Didor

Selain itu, posisi yang langsung menghadap ke sungai juga diyakini mendatangkan hoki bagi mereka. Hal ini dikarenakan dewa utama mereka adalah Dewa Mak Co, yang merupakan dewi pelindung lautan dan pelindung dari etnis Tiongkok di wilayah selatan serta imigran di Asia Tenggara. Sehingga warga Tionghoa meyakini dengan menghadap sungai, Mak Co akan memberikan keselamatan bagi umatnya.

"Untuk detailnya tahun berapa Klenteng di Pasar Wage, saya belum bisa menyebutkannya. Namun yang pasti, klenteng ini dibangun untuk keperluan peribadatan masyarakat Tiongkok yang datang ke Tulungagung," tuturnya.

Perempuan yang juga memiliki nama Rini Setiawati ini bercerita Kelenteng Tjoe Tik Kiong menjadi saksi peristiwa banjir di Tulungagung. Karena sering menjadi lokasi banjir, pengurus kemudian melakukan perbaikan. Mereka menaikkan ketinggian bangunan hingga 2 meter pada tahun 1979.

Baca Juga: Asyik Nongkrong di Warung Kopi, Puluhan Pelajar di Tulungagung Terjaring Razia

Pada bagian atas gerbang depan terdapat ornament berupa dua ekor ikan berkepala naga saling berhadapan yang mengapit Huo Zhu yang merupakan mutiara bola api milik Sang Buddha.

Selain itu juga terdapat hiasan ikan di tepinya, yang menunjukkan bahwa di tempat kelenteng berdiri dulunya terdapat banyak ikan.

“Semua ornament ini asli dari Tiongkok. Termasuk ornament di dalam, seperti naga hingga burung phoenix serta lukisan dinding menceritakan sejarah Sidartha Gautama, yang merupakan pengembara dan menyebar ajaran agama Budha juga asli dari sana," pungkasnya.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.