Kamis, 18 Jun 2026 15:34 WIB

Banyak Anak Muda Pasuruan jadi Caleg Potensi Residensi Politik, Bahaya Gak?

Baliho-baliho Caleg muda di Pasuruan. (Foto: Ahaddiini HM for jatimnow.com)
Baliho-baliho Caleg muda di Pasuruan. (Foto: Ahaddiini HM for jatimnow.com)

jatimnow.com - Saat tiba musim kampanye, masyarakat baru bisa melihat ternyata banyak anak muda yang maju menjadi calon legislatif (Caleg) di Pemilu 2024. Begitu juga yang terjadi di Kabupaten Pasuruan. Baliho Caleg muda banyak bertebaran.

Bagi Gratia Wing Artha, peneliti politik Freedom Foundation Jakarta, ini merupakan fenomena menarik. Terlepas para Caleg muda ini benar-benar serius atau hanya gimmick politi belaka, ternyata ada hal lebih substansif, yaitu residensi politik.

Baca Juga: Sengketa Lahan TNI AL dan Warga 10 Desa Pasuruan Temui Titik Terang di DPR RI

"Kita melihat di Pasuruan, Caleg muda bermunculan bak jamur yang terkena musim hujan. Rata-rata anak tokoh atau pengusaha yang punya wewenang kuat untuk dipilih. Contoh anak anggota institusi tertentu, tokoh agama atau pengusaha," terang Gratia, yang merupakan warga Pandaan, Pasuruan, Selasa (9/1/2024).

"Misal seorang anak haji, bapaknya sudah DPR, anaknya usia 25 dengan berani mencalonkan diri sebagai Caleg tanpa bermodalkan pengalaman politik, bukan sarjana ilmu politik atau ilmu lainnya," imbuhnya.

Bagi Gratia, hal ini adalah bagian dari sebuah keberanian dalam keterwakilan suara pemuda. Ini suatu keberanian yang patut diapresiasi.

Baca Juga: Dosen Ilmu Politik Unesa Soroti Konsolidasi Kekuasaan-Strategi Geopolitik Nasional

"Kaum politik yakni pemuda politisi ini mewakili sebagai kekuatan anak-anak muda untuk mengisi pos-pos kekuasaan dalam membangun perubahan," jelas Gratia.

Lebih lanjut, satu persatu tanpa disadari permasalahan juga akan ditimbulkan dari dampak tersebut.

"Tapi masalahnya apakah mereka sudah berpengalaman ataukah masyarakat mau memenuhi kotak suara dengan memilih para caleg muda itu. Belum lagi permasalahan dalam hal memahami masalah masyarakat secara aktual, tentu tidak mudah," tutur Gratia.

Baca Juga: Menyoal Konsistensi Komunikasi Publlik Pejabat Negara

Baginya, tanpa disadari hal ini akan melahirkan residensi politik. Berdampak pada terbentuknya dinasti politik kecil di Pasuruan. Caleg muda dipilih hanya karena faktor siapa orang di belakangnya, atau siapa orang tuanya.

"Ini kemudian berdampak pada terbentuknya dinasti politik kecil Pasuruan meski hanya sekedar untuk melanjutkan tongkat estafet orang tua untuk mengisi pos-pos politik sehingga melahirkan residen politik, atau politik kerajaan kecil istilahnya yang berdampak pada nepotisme dan oligarki," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Yakuza Maneges Sebut Aksi Cabul Kiai di Malang Berlangsung 25 Tahun, Ini Modusnya

Usai dilecehkan, beberapa santri di Malang diduga dipaksa menerima uang untuk tutup mulut.

Disertasi Doktoral Gus Fawait, Teori yang Sudah Diimplementasikan di Jember

Jember tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang).

Lagi, Yakuza Manages Bongkar Dugaan Pelecehan Santri oleh Kiai di Malang

Yakuza Maneges sebut korban lebih dari satu dan berstatus anak, terjadi sejak 25 tahun yang lalu.

Cuaca Surabaya Cerah Akhir Pekan Ini Setelah Diguyur Hujan Deras Dini Hari

Kondisi cerah diperkirakan merata di berbagai kecamatan, baik di kawasan Surabaya Barat, Timur, Utara, Selatan maupun pusat kota.

Aliansi Pemuda Jatim Tolak Kehadiran Tiyo Ardianto di Jawa Timur

Aliansi Pemuda Jawa Timur menyatakan boikot terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto dan mengancam membubarkan kegiatannya di Jawa Timur.

Intip Bocoran Tren Intimate Wedding di Westin Surabaya Pekan Ini

The Westin Surabaya menggelar pameran The Art of Celebration pada 12–14 Juni 2026, menawarkan diskon paket sangjit 35 persen dan konsultasi vendor.